Setidaknya Pernah Merasakan Sakit Hati

Sakit Hati – “Kita break saja dulu, tapi kita masih bisa balikan lagi kok.” Kak Adit mencoba menenangkanku. Tapi itu bukan membuatku tenang, yang ada Aku tambah sedih. Itu sama saja dia menggantungkanku. Aku tak percaya dia akan berkata seperti itu.

“Lagi apa?” Kak Adit mengirimkan pesan sore itu.

“Nyetrika.”

“Ya udah lanjutin dulu.”

“Ya.”

Tak ada balasan lagi darinya. Aku memang lagi nyetrika, tapi mataku tak henti-henti memandangi hp yang tak kunjung berdering. Biasanya dia selalu membalas pesanku. Aku benar-benar tak tahan.

“Kok gak dibales?”

“Beb, aku boleh bilang sesuatu?”, gaya bicaranya lain dari biasanya.

“Boleh, apa kak?”

“Kok rasanya sekarang beda ya?”

“Iya, gak tau nih aku juga ngerasain hal yang sama, kayak bosan.”  Tanpa pikir panjang aku jawab saja begitu. Sebenernya aku berharap dia akan membujukku agar aku tidak bosan, tapi….

“Ternyata kamu juga gitu.”

“Iya.” Aku menjawab dengan agak ngambek sebenarnya.

Kenapa tidak ada balasan lagi? Sepertinya dia bener-bener pengen bikin Aku ngambek.

Pagi ini aku berangkat sekolah seperti biasa, walau perasaanku kacau balau karna kamarin sore, ditambah lagi semalaman tidak ada kabar darinya. Setahun aku pacaran dengannya belum pernah seperti ini. Dia tidak pernah mengabaikan pesanku barang sekali.

Jam pertama Senin pagi ini adalah Matematika. Pelajaran yang selalu saja aku sukai sejak SD. Memang pelajarannya masih menarik seperti biasanya, tapi entah kenapa aku melamun tidak memperhatikan penjelasan guru di kelas. Pikiranku masih memikirkan reaksi Kak Adit kemarin sore. Ada apa dengannya? Sepanjang hari memikirkan kemungkinan-kemungkinan tidak jelas, membaca cerpen singkat pun tidak sampai habis. Tidak terasa sudah pukul 2 siang.

***

Kegiatan di sekolah hari ini di sekolah berakhir seperti tanpa bekas, dan tidak menyenangkan. Di sepanjang waktu Aku hanya diam meski teman-teman mengajakku bercanda. Ah pokoknya Aku harus pulang cepat hari ini. Walaupun berdesakan aku tetap ikut angkot pertama. Sementara cuaca di atas sana nampak mendung, membuat daerah kaki Gunung Merbabu ini semakin dingin.

“Kiri, Bang.”  Aku segera meminta Pak Sopir untuk menurunkanku di depan rumah. Dua ribu rupiah aku ulurkan padanya. Hujan mulai turun senada dengan langkahku yang semakin cepat menuju beranda rumah. Sempat di daun pintu kakak menegurku karna tak mengucap salam. Tak mau mendengarnya lama-lama mengoceh, segera aku lari ke kamar. Kuhempaskan tas di sembarang tempat, sedang Aku berbaring di atas kasur sambil mengatur nafas yang terengah-engah dan mengipas menggunakan buku mimpi yang sering kubaca.

Ini sekitar jam empat sore, hujan belum mau berhenti turun. Saat ini juga tiba-tiba Kak Adit dengan vespa kunonya menerobos lebatnya hujan di halaman rumahku. Mantel ungu miliknya sangat bisa aku kenali. Dia pasti baru saja pulang dari kampus. Pacarku ini memang seniorku. Dia sekarang sudah masuk semester empat di salah satu kampus swasta di kotaku. Rasanya sangat senang sekali, setelah kemarin tidak ada kabar ehh.. sekarang dia berdiri di depan rumah. Aku mendelik dibalik korden kamar mengintip Ibu membukakan pintu untuknya.

“Ca, itu nak Adit datang.”, itulah kebiasaan Ibu, tidak mau mengobrol dengan Kak Adit terlalu lama.

Tanpa menjawab aku langsung berjalan ke ruang tamu. Aku sudah membayangkan ekspresi bersalahnya padaku. Aku senyum-senyum, antara senang dan geli melihat kelakuanku sendiri. Setibanya di ruang tamu Aku memanyunkan bibir tanda merajuk.

Rasanya Sakit Hati

Tapi dia malah tidak ada respon menggodaku seperti biasa. Aku merasa dia lebih bersikap dingin dan seperti tamu biasa. Entah kenapa aku masih saja senyum sana senyum sini padahal sudah jelas dia lagi BT.

“Ca, aku mau ngomong sesuatu.”, kelihatannya dia benar-benar serius kali ini. Ekspresinya datar. Tumben juga dia memanggil namaku biasanya kan panggilan kesayangan “Babe”.

“Apa? Kok kayaknya sekarang beda gitu.”, kali ini aku tidak tahan dengan sikapnya yang terlalu dingin.

“Iya. Aku rasa kita udahan aja.” Ekspresinya itu tetep aja datar. Ada sedikit keraguan di matanya.

“Maksudnya gimana kak?”  Aku kaget mendengar perkataan Kak Adit tadi. Aku gak bisa percaya dia sampai hati bilang begitu. Apa benar-benar kita akan putus?

Suasana jadi terasa hening walaupun di luar sana hujan deras belum juga reda. Aku hanya menatap meja yang diatasnya ada secangkir teh hangat buatan Ibu tadi. Sesekali aku menatap jendela yang yang terbuka. Hujan masih turun lebat. Aku teringat awal mula kedekatanku dengannya. Tidak pernah menyangka kalau akhirnya kita saling menyukai. Dia bahkan rela berhujan-hujan dan memberikan mantelnya untukku. Dia juga rela hujan-hujanan demi mengantarkan prakaryaku yang ketinggalan.

“Kakak bosen ya sama aku?” Aku mencoba memecah keheningan.

Dia hanya mengangguk. Rasanya sakit sekali, benar-benar nggak nyangka. Apa ini yang namanya sakit hati? Aku harus bagaimana? Aku nggak mau putus.

“Emang Aku ada salah ya kak? Apa Aku egois.”

“Nggak. Aku hanya bosan aja.”  Kali ini raut wajahnya benar-benar menunjukkan apa yang dia katakan.

“Emang nggak ada rasa sayang?”

“Dulu Ca.”

“Sekarang gak sayang lagi?”

“Masih, tapi aku bosen Ca. Ngerti sendiri kan Ca kalo orang bosen tu kaya apa? Gak enak. Mendingan kita break dulu aja.”

***

Tiba-tiba Ayah muncul dari balik pintu. Entah dengar atau tidak percakapan kami, tapi Ayah hanya menyapa Kak Adit lalu menuju ke menuju ke beranda.

“Kakak serius?” Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Rasanya sesak sekali dan sakit hati.

“Kita break aja dulu, tapi kita masih bisa balikan lagi kok.” Kak Adit mencoba menenangkanku. Tapi itu bukan membuatku tenang, yang ada Aku tambah sedih. Itu sama saja dia menggantungkanku. Dadaku rasanya sesak, sedang mataku lembab. Apakah Aku akan menangis?

“Pokoknya Aku gak mau kita udahan. Aku pengen sama kakak terus. Aku sayang sama kakak. Kakak tahu gak siapa pacar pertamaku?”, Aku ingin membuatnya tahu bahwa dia adalah pacar pertamaku.

“Aku nggak bisa.”, Dia bahkan tidak menatapku. Sekarang aku sadar betapa seriusnya permintaan putus itu.

“Aku pulang dulu, Ca.”  Dia langsung berdiri tanpa menghiraukan Aku.

Di depan sudah  tidak hujan lagi. Hanya rintik-rintik kecil yang masih terdengar.

“Pokoknya kita gak putus lho kak, besok Kakak ke sini lagi ya.” Aku masih membujuknya dengan sakit hati.

“Enggak, Ca.”, tanpa menghiraukanku dia memakai mantel hujan dan pergi meninggalkanku sendiri di halaman rumah dengan perasaan sakit hati.

“Kak.” Aku mencoba mengirim pesan ke Kak Adit.

Lima menit kemudian aku mengirim banyak pesan singkat lainnya. Bahkan Aku beberapa kali bilang sayang padanya dan tidak ingin putus. Tetap tidak ada jawaban. Siang harinya saat aku pulang sekolah, aku menyempatkan diri ke toko fotokopi depan kampus Kak Adit. Aku akan menunggunya sampai jam kuliahnya selesai.

“Neng, nungguin Mas Adit ya?”, sapa abang penjaga toko. Kak Adit adalah langganan di tokonya, dan dia sudah beberapa kali melihatku bersama Kak Adit.

“Iya, Bang.”

“Adiknya ya, Neng?”

“Bukan dong. Emang kaya adiknya ya, Bang? Padahal pacarnya loh.”, Aku nggak terima dianggap adiknya Kak Adit.

“Lah, Neng itu siapa yang sama Mas Adit sekarang?”, tunjuknya ke arah gerbang kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *