Sepisau Duri, Bayang Semu yang Bernama Cinta

Sepisau Duri, Bayang Semu yang bernama Cinta –

“Tunggu disini, ya.”

“Kamu mau kemana?”

“Nggak kemana, tunggu disini, sebentar, nanti Aku kembali, buat kamu”

“Iya, tapi kemana?”

Begitulah kiranya, pertanyaan terakhirku yang tak pernah terjawab. Ia langsung bergegas pergi tanpa mempedulikan Aku yang hampir mati penasaran ini. Menjadi hal yang tidak mudah untukku melepaskannya, ditambah dengan tidak kejelasan kemana ia pergi dan kapan ia akan kembali. Apalagi bagiku, dia tidak pernah nyata. Dia hanya bayangan yang selalu ku anggap ada nyatanya ia hanya hidup dalam angan.

Aku mengenalnya selepas Aku memutuskan berpisah dengan pacarku terdahulu, sebut saja dia Hasan, lelaki yang ku kenal melalui sosial media. Awal perkenalan, ku Akui Aku menyukainya. Aku pun merasa Aku begitu nyambung berbicara dengannya walaupun hanya sebatas chat. Setelah 2 minggu berkenalan, Aku dan Hasan memutuskan untuk bertemu, di sebuah danau di dekat kampusku. Hasan sudah sampai sedang Aku masih berjalan dari indekost ku. Ya, Aku sengaja menunggu dia sampai di tempat.

“Hai!” Sapa Hasan

“Halo, Hasan ya?” Ucapku.

“Iya, sini duduk, Nad!” Hasan mempersilahkan Aku untuk duduk.

Kesan Pertama

Kesan pertama ketika Aku melihatnya, dia tampan sama seperti foto yang tertera di sosial media yang kami gunakan untuk bercengkerama. Bukan kali pertamanya, Aku merasa deg-degan untuk awal pertemuan. Tapi akhirnya kami dapat berbincang walaupun masih malu-malu. Namun akhirnya Aku akhiri pertemuan itu cukup 2jam saja, karena ada hal yang harus Aku selesaikan.

“Mau Aku antar?” Tawar Hasan

“Eh, nggak perlu, deket kok, kamu pulang aja, San” Jawab ku

“Oh, sampai ketemu lagi, ya, Nad” Ucap Hasan

Aku berfikir ketika dia telah mengerti Aku, dia akan menjauhiku lalu mencari wanita cantik lain seperti yang sudah ku alami sebelumnya, tapi dugaanku salah. Dia tetap menghubungiku sama seperti sebelum kami bertemu. Akhirnya kami merencanakan pertemuan kami kedua kalinya. Kali itu dia ingin diajak ke tempat wisata yang ada di kotAku, karena kebetulan kami berbeda kota. Jarak kala itu tidak menjadi sebuah halangan, apalagi untuk kami yang berniat untuk sama-sama mengobati luka.

Pertemuan demi Pertemuan

Sejak pertemuan kami yang kedua, kami merencanakan pertemuan selanjutnya. Dibalik penantian untuk pertemuan kami selanjutnya, kami merasakan kedekatan yang lebih dekat lagi. Bahkan panggilan “sayang” pun dilontarkan oleh Hasan. Sungguh Aku merasa tidak nyaman dengan panggilan seperti itu apalagi diatas hubungan kami yang masih mengatasnamakan ‘teman’.

“San, Aku nggak nyaman dengan ini, kita udah sayang-sayangan tapi status kita masih teman”, ucapku pada Hasan suatu ketika.

“Iya, Nad. Aku memang nyaman sama kamu tapi Aku masih tAkut memulai semuanya”. Hasan menjawab dengan kata yang penuh pemakluman.

Aku diam tidak menjawab apapun, Aku mulai berfikir jika Hasan hanya bermain-main saja denganku. Seperti kebanyakan pepatah, sudah nyaman lalu ditinggalkan. Namun ternyata, Hasan melanjutkan ucapannya.

“kalo kita ketemu lagi kita resmiin ya”. Aku pun mengiyakan.

Sudah satu bulan lamanya Aku dan Hasan tidak bertemu, dikarenakan kesibukan yang merenggut weekendku. Hingga pada akhirnya awal bulan berikutnya kami memutuskan untuk bertemu. Seperti janjinya, Hasan membawa setangkai mawar putih untukku.

“Buat apa?” Tanya Aku pada Hasan

“Nad, kamu tuh kelamaan jomblo, diromantisin malah nggak peka” Ledek Hasan.

Memang benar, sebagai perempuan yang memutuskan untuk sendiri selama 1 tahun lamanya dan sempat trauma dengan laki-laki. Aku pun mengiyakan. Maka, mulai hari itu, kami menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih.. Semakin hari Aku semakin nyaman dengannya, walaupun sesekali pertengkaran kecil terjadi karena memang kami yang masih labil.

***

3 bulan pertama kami masih baik-baik saja, saling menyamakan persepsi, saling pengertian tentang kesibukan masing-masing dan tentunya tentang agenda yang mengharuskan kita untuk tidak bertemu sementara waktu. Kemudian masalah yang sama dan terulang harus kita lewati yaitu tentang kedekatan, tidak hanya kedekatan hati tetapi Hasan menuntut adanya kedekatan fisik. Aku pun sama halnya dengan Hasan, sangat menyadari bahwa jarak yang ada nyatanya memang menghambat. Bukan sesuatu yang harus diperjelas duri semua yang ada dalam sebuah hubungan memang menginginkan adanya pertemuan setiap harinya.

Aku selalu mencoba menyakinkan Hasan untuk tetap bertahan, meyakinkan bahwa jarak bukan salah satunya penghalang untuk menyerah, meyakinkan bahwa Aku dan ia akan mampu melewati jarak yang ada.

“Tapi, nggak segampang itu, Nad. Kamu ngerti nggak sih, sebenernya!” Murka Hasan

“Aku tau ini nggak gampang, San. Bukan mau kita juga kalo kita harus LDR kayak gini, tapi kamu yang yakinin Aku dulu buat jalanin ini semua” Aku mencoba mengingatkan Hasan pada komitmennya.

“Iya Aku tau, Aku pikir, semua akan mudah, Aku pikir ini nggak akan jadi masalah buat kita, tapi nyatanya kamu tau sendiri kan, Nad?” tanya Hasan.

“Jadi, mau kamu gimana sekarang?” Jujur, Aku menyerah. Merasa usahAku mempertahankan Hasan begitu sia-sia, hingga akhirnya Aku menantang Hasan.

“Kita sampai sini aja, Aku nggak bisa lagi, nggak bisa, Nad”. Hasan menyerah pada jarak. Aku? Sama halnya, Aku hanya terfikir, usaha Aku untuk mempertahankannya menjadi sia-sia, apalagi ia seolah tak ingin Aku perjuangkan seperti cerpen singkat. Jangankan untuk terus bersama. Keinginannya untuk selamanya sama-sama mengobati luka nyatanya malah menambah luka baru untukku.

Perpisahan Yang Terluka

Sejak saat Hasan menyudahi segalanya, Aku tak pernah membalas sepatah katapun sebagai persetujuan. Aku butuh perenungan yang sangat panjang. Bukan hal yang mudah untukku, memang seperti duri dalam daging. Disaat Aku sudah memberanikan diri membuka hingga memberikan hati kepada laki-laki, nyatanya, Aku dipatahkan lagi. Bukan bermaksud menghakimi keadilan Tuhan, tetapi nyatanya Aku sangat bersahabat sekali dengan bab ditinggalkan.

***

Belakangan, Aku menyadari. Nyatanya, Hasan memang hanya ada dalam bayanganku saja. Dia tidak pernah nyata. Meski berulang kali Aku mencoba meyakinkan diri, kenyatannya Hasan kini hidup dalam anganku saja. Hingga saat ini Aku masih merutuki bagaimana mungkin dulu dengan mudah mengatakan iya ketika ia mengajakku untuk sama-sama menyembuhkan luka dan menjadi dewasa karena luka, nyatanya malah ia yang semakin membuatku semakin tersayat.

Barangkali, itulah cara Tuhan untuk membantuku agar semakin sadar, bahwa semua yang singgah bisa jadi menetap atau sekedar mampir. Membuatku semakin sadar, bahwa semua yang mengetuk pintu, tidak semuanya memutuskan tetap tinggal, bisa saja hanya menengok lalu pergi lagi, karena bukan itu rumah yang dituju. Begitu banyak pemakluman yang membuatku semakin sadar, bahwa semuanya memang tidak mudah. Apalagi untukku yang memang mudah terlena. Terlalu percaya hingga luka diatas luka yang Aku dapat.

Duri Dalam Daging

Aku sudah cukup menerima keputusan Hasan dengan memulai kehidupanku yang baru. Menjadi hal yang sulit, karena Aku harus menata ulang hidup ku, setelah Hasan memutuskan meninggalkan seperti duri dalam daging. Ketika Aku sudah cukup berdamai dengan segalanya, Hasan datang kembali. Sebagai agen togel yang selalu memberikan bocoran togel online kepada customernya. Ia datang seolah semuanya baik-baik saja. Tanpa tau Aku sangat berusaha untuk tetap hidup setelah ditinggalkannya. Aku dan Hasan akhirnya berbincang, menceritakan kehidupan setelah perpisahan dulu. Hingga Hasan menginginkan untuk bersama kembali. Dan hingga Aku luluh kembali untuk mengiyakan ajakan yang selalu Aku nantikan. Hingga

“Tunggu disini, ya.”

“Kamu mau kemana?”

“Nggak kemana, tunggu disini, sebentar, nanti Aku kembali, buat kamu”

“Iya, tapi kemana?”

Pertanyaan terakhir yang ku anggap perpisahan sesungguhnya. Nyatanya, jawaban tak pernah Aku dapatkan. Sudah, benar-benar Aku akhiri ceritaku tentang Hasan. Dia ada tapi tak pernah nyata, sama halnya dengan ucapannya, tak pernah nyata. Layak duri dalam daging.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *