Saatnya Bertemu Calon Suami

Calon Suami – Menjadi seorang yang berambisi selalunya memiliki kelemahan. Termasuk dalam menghitung umur. Bukan, Lebih lepatnya tidak tahu apa yang harus dilakukan pada saat menginjak usia kepala tiga. Contohnya Aku. Bagiku, umur tidak boleh menjadi pertimbangan dalam kehidupan. Yang terpenting, lakukan segala sesuatu yang diinginkan, didambakan, atau diimpikan.

Kata pepatah kan hidup hanya sekali, rasanya segala sesuatu harus dicapai sebelum beranjak tua dan pensiun. Tapi, beda dengan Ayah. Beliau maunya Aku buru-buru menikah, jadi akan ada suami yang menjaga siang malam menggantikannya.

Pagi ini seperti biasa Aku masih santai di ranjang hendak berlama-lama surfing internet di depan laptop melihat fc baku prediksi bola. Sebenarnya bukan lupa kalau pagi ini ada acara penting, tapi anehnya Aku benar-benar berharap amnesia sekali ini saja. Agar Aku lupa dan tidak menjadi grogi.

Sudah pukul tujuh. Aku masih merenung merakit-rakit rencana. Apa Aku kabur saja?  Ah tidak bisa. Di luar pasti sudah ramai kerumunan orang mempersiapkan hidangan untuk prosesi lamaran nanti.

Cklek… Pintu terbuka. Dibaliknya melongo seorang perempuan paruh baya dengan dandanan menornya.

“Nessa, kamu nggak hilang ingatan kan?” Ekspresinya Tante Lina benar-benar menyebalkan.

“Harapanku gitu, Tan.”

“Buruan mandi siap-siap ih. Apa jadinya kalau calon mantu liat kamu yang amburadul begini.” Dia mulai bercuitan menceramahi dan menarik laptop dari pangkuanku.

“Tan, kalau Aku kabur gimana?”, tanyaku polos.

“Mau kabur kemana Nessa? Coba kasih tau mau kemana.”, nadanya mulai meremehkan.

“Ya kabur masak ngasih tau mau kemana.”, Aku melirik sekilas ke arah jendela yang sekarang sudah terbuka tirainya.

“Dengar ya, Ness. Calon suamimu itu orang baik, anak berpendidikan, dan yang paling penting sudah dekat denganmu semasa kecil jadi kamu pasti sudah bisa menyesuaikan diri dengannya.”, cerocos Tante sambil membereskan selimutku.

***

“Aku sudah lupa masa kecilku seperti apa Tan, dan lagi Aku nggak tau bagaimana kehidupannya sekarang.” Aku terus berusaha meyakinkan Tante bahwa perjodohan mencari suami ini bukan jalan yang tepat seperti cerita dalam cerpen singkat.

“Nanti setelah lamaran kan masih ada waktu buat pendekatan. Ah, kamu ini cari-cari alasan terus. Sudah sana mandi, awas kalau Tante balik kesini kamu masih kaya gini. Tante suruh nak Angga yang jemput kamu ke sini.”

Masih kupandangi punggung Tante sampai menghilang di balik pintu. Apa ini benar-benar saatnya Aku bertemu calon suamiku? Sebetulnya Aku tidak ada masalah dengan kepribadian Angga. Dia adalah keponakan suaminya Tante Lina. Jadi bisa dibilang, keponakan Tante Lina ini akan dinikahkan dengan keponakan suaminya Tante Lina. Sejauh ini, kata Ayah dia orangnya sopan. Beberapa kali sering main ke rumah sekalian nganter Tante Lina. Aku di Jakarta, otomatis nggak tau benar tidaknya. Yang pasti Ayah sudah sangat suka, sampai-sampai nggak ngasih kesempatan Aku mencari jodohku sendiri.

Hidup di Jakarta menyambung study sekaligus meniti karir menjadi akuntan publik benar-benar sudah menguras seluruh waktuku. Apalagi ini baru masuk tahun ke-2 Aku menjadi Akuntan Publik senior. Inilah yang menjadi salah satu alasan penolakanku pada perjodohan Ayah yang hendak mencarikan suami pendamping hidupku. Aku masih bercita-cita untuk membuka kantor akuntan publik milikku sendiri.

Tapi, Ayah tau kapan harus menggunakan senjata ampuhnya. Dengan penuh iba memintaku untuk tidak menolak lamaran ini, beliau benar-benar sudah merontokkan secercah ambisiku.

“Nessa, Ayah mau melihat ada yang menjagamu sebelum maut datang menemuiku. Kalau-kalau besok memang sudah waktunya, Ayah tidak akan sedih karena hari ini kamu sudah dipinang suamimu. Apalagi jika sampai sudah punya momongan,

Sang Suami Idaman

Mamamu pun akan bahagia jika memang sudah waktunya dipanggil Yang Maha Kuasa. Nak Angga dua minggu dari sekarang akan datang ke rumah untuk melamar. Pastikan kamu mengambil cuti.”

Begitulah kira-kira pesan panjang Ayah melalui pesan singkat. Aku yang hari itu lembur pun tidak ditanyai keadaan fisik dan jiwaku. Saat ku telepon, beliau tetap bersikukuh dengan permintaannya.

“Ness, cantik deh! Pasti Nak Angga terkagum-kagum lihat kamu.” Tante sedari tadi cekikikan, bangga melihat hasil karyanya di wajahku.

“Udah selesai. Yuk buruan keluar!” Tante Lina menggandeng lenganku menuju ruang pertemuan.

Kulihat sudah banyak orang. Di sisi kiri terlihat rombongan asing, kurasa itulah rombongan Mas Angga. Sementara di sisi kanan, disana duduk Ayah, Mama, Paman Isan, dan beberapa keluarga lainnya dari Mama. Tante Lina membawaku ke tengah-tengah antara Ayah dan Mama. Kurasa Mama jatuh cinta padaku, dari tadi senyum-senyum terus melihatku. Sementara Tante Lina sudah duduk di samping Paman Isan.

Aku belum berani menatap ke depan. Aku masih menunduk menatap beberapa hidangan dan hadiah-hadiah yang dibawa rombongan Mas Angga. Di depanku ini pasti yang namanya Mas Angga sang calon suamiku. Seperti apa ya wajahnya? Wajah masa kecilnya saja Aku sudah lupa. Apa dia ganteng? Apa malah udah kelihatan tua?

Mama menyenggol lenganku sambil memberi isyarat agar Aku melihat ke depan. Saat Aku memberanikan diri melihat ke depan, laki-laki itu sepertinya sedari tadi sudah menatapku. Ah Aku makin grogi.

Selama proses lamaran Aku kebanyakan diam, hanya menjawab sesekali ketika Ayahnya Mas Angga bertanya bagaimana keadaanku selama di Jakarta. Mas Angga sendiri tidak banyak bicara juga, hanya sesekali senyum saat Aku bicara dengan Ayahnya. Setelah proses lamaran selesai pun, dia nggak menemuiku. Hanya titip pesan ke Tante kalau besok calon suami akan datang mengajakku jalan-jalan.

***

Pokoknya hari ini Aku tidak mau sibuk memikirkan kehidupan pernikahan dan semua tentang Mas Angga sang calon suami. Kurasa mengikuti arus tanpa melibatkan perasaan akan lebih baik untuk sekarang. Malam ini setelah makan Aku hanya akan diam di depan laptop dan tidak keluar-keluar. Aku perlu menjernihkan otak yang sedari tadi linglung. Sesekali pikiran tentang Mas Angga muncul. Kuhilangkan lagi. Muncul lagi, lagi, dan lagi.

Ting…

Bunyi pesan masuk mengagetkanku. Aih, sepertinya Aku terlalu dalam memikirkan Mas Angga calon suamiku, sampai-sampai merasa dia mengirimiku pesan. Tapi Aku salah. Beberapa menit kemudian, ada telepon masuk. Dan itu nomor yang tadi.

“Hallo!”, suara di seberang sana menyapaku.

“Hallo!”, grogiku kambuh lagi. Ini benar-benar dia? Mas Angga?

“Nessa, maaf ya tadi Aku nggak sempat menemuimu. Adiknya Ayah, Om Bima minta bantuin temuin client-nya.”, nada bicaranya benar-benar seperti sudah dekat denganku sekian lama. Dan lagi, dia tau isi pikiranku. Ah betapa malunya Aku pada diri sendiri.

“Ah iya Mas, nggak apa-apa.”, ya, Aku mengerti sekali alasannya. Lagi pun, nggak wajib juga dia menemuiku kan.

“Tadi Aku minta tolong sama Tante Lina buat bilang ke kamu kalau besok Aku mau ajak jalan-jalan.”

“Tadi Tante udah bilang ke Aku kok.”

“Jadi gimana? Nessa bisa kan?”, duh cara bicaranya benar-benar sopan dan lembut.

“Nessa bisa aja sih.”, Aku mencoba calm biar nggak terlalu kaku.

“Okay. Sampai ketemu besok ya Ness.”

“Okay, Mas.”

“Oh iya, Ness. Sebenernya ini bukan perjodohan. Bukan Ayah Nessa yang mau kita menikah, tapi Mas Angga sendiri yang berniat melamar Nessa.”

What?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *