Pejam Terakhir Irma di Hatiku

Pejam Terakhir – Minggu lalu aku dan keluarga pergi ke kota N. Kota kelahiran Ayah. Memang sudah direncanakan untuk berlibur ke sana selama 2 pekan. Ayah juga mengambil cuti. Aku dan Rima juga sedang masa libur sekolah.

“Anggi, lusa jangan lupa kita jadi ke tempat Kakung. Dari sekarang disipain apa aja yang mau dibawa.”, kata Mama mengingatkanku tentang liburan ke tempat Kakung.

“Iya, Ma.”

Sudah lama sekali rasanya tidak menghirup udara desa, dan bertemu dengan-nya. Bagaimana ya kabarnya. Irma, sahabat masa kecil, pengisi memori indah di ingatanku. Rasa-rasanya sudah ada setahun kita tidak bertemu. Meski chat dan telpon tidak pernah putus, rasa rindu untuk bertemu tetap belum terobati.

“Semua sudah siap? Rima ada yang lupa nggak? Kak Anggi?”, tanya Mama mengingatkan kami satu per satu.

“Anggi udah, Ma. Nggak tau dah Rima, baru beres-beres kemarin. Banyak tu pasti yang ketinggalan.”, cerocosku pada Rima yang masih sibuk menghitung barang-barangnya.

“Apaan sih Kak.”, wajahnya cemberut, tidak terima diolok-olok.

Saat Rima selesai dengan barang-barangnya, kami segera menuju kota N, tempat Kakung tinggal. Perjalanan ini membutuhkan 8 jam perjalanan menggunakan mobil. Kakung tidak tinggal sendiri, di sana ada Bibi, Paman, dan sepupu-sepupuku lainnya. Ada yang seumuran denganku, dan banyak diantaranya seumuran dengan Rima. Bisa dibilang, Aku adalah yang paling tua dari semua cucu Kakung.

Di separuh perjalanan Aku masih tetap terjaga. Membayangkan bagaimana ekspresi Irma saat melihatku nanti. Aku memang tidak memberi kabar tentang liburan ini. Saat dia bertanya tentang rencana liburan, Aku hanya menjawab akan pergi liburan biasa dengan keluarga ke tempat-tempat yang sejuk. Sementara di sampingku, Rima sudah dari tadi pulas tidur dengan memeluk boneka. Masih kelas satu SMP, jadi wajar masih seperti anak kecil.

***

Ah akhirnya sampai juga. Separuh perjalanan Aku putuskan untuk tidur. Menyimpan tenaga untuk berbagi cerita dengan Irma. Aku segera turun, disambut Bibi yang langsung memelukku. Sementara Mama masih mencoba membangunkan Rima yang punya kebiasaan susah dibangunkan. Alhasil, satu-satunya cara adalah menggendongnya keluar dari mobil.

“Bibi, Irma sering main ke sini?”, tanyaku pada Bibi di sela-sela kami membereskan barang bawaan.

“Nggak sering, tapi adalah sebulan sekali bawain buah-buahan hasil panen Ayahnya. Memang kenapa? Memang kamu nggak pernah telpon atau sms, Nggi?”, tanya Bibi heran.

“Telpon kok Bi sesekali. Tapi dia nggak pernah cerita tentang bawa-bawain buah, hehe.”

“Yah mana ada yang ngasih kaya gitu minta pamrih dicerita-ceritain, Nggi. Aneh kamu. Yauda buruan diselesain, nanti nyusul sarapan ya.”, Bibi berjalan keluar meninggalkan Aku beberes, dan Rima yang tidur.

Setelah selesai, Aku menyusul ke meja makan. Aku merasa sudah cukup tidur selama perjalanan, jadi hari ini Aku mau langsung keliling kampung. Di meja makan ada Hafiz dan Nanda, anak Bibi. Keduanya masih sama-sama duduk di bangku SD. Ayah sudah duduk memegang koran sambil membaca cerpen singkat bersama Kakung di ujung meja, sementara Mama membantu Bibi menyipkan sarapan.

“Anggi, jangan diam saja di sana. Salim Kakung dulu, trus bantuin Mama.”, kata Mama dengan nada berbisik.

Aku hanya mengangguk dan segera ke tempat Kakung duduk. Saat salim, Kakung menanyakan tentang sekolahku. Bagaimana teman-teman di kota, bahkan menanyakan apakah Aku sudah pacaran. Ah Kakung ini bikin malu aja.

“Aku abis sarapan mau langsung ke tempat Irma ya, Ma.” Bisikku ke Mama yang sedang membawa nasi ke meja makan.

“Ya udah, ajak Nanda atau Hafiz.” Mama memberikan izin.

Pejam Mata Tak Terduga

Dengan motor matic milik Bibi, Aku segera meluncur menuju rumah Irma. Tidak jauh, hanya 2 km dari rumah Kakung. Jalannya juga sudah bagus, tidak seperti 6 tahun silam yang masih berkerikil dan berlubang. Sesuai saran Mama, Aku membawa Nanda bersamaku. Karena dia perempuan, Aku lebih nyaman dibanding Hafiz yang sedang sibuk bermain dengan teman-temannya. Aku sampai sekarang belum bilang pejam pada Irma bahwa Aku datang mengunjungi Kakung. Dia pasti akan sangat terkejut. Terakhir kami berbicara via telpon seminggu yang lalu. Benar-benar rencana yang matang untuk memberikan kejutan.

Sesampainya di halaman rumah Irma, senyumku masih mengembang membayangkan ekspresi Irma. Rumah Irma memiliki halaman yang luas. Rumahnya menghadap ke jalan dengan dua bangunan yang digabungkan. Terlihat memanjang ke samping. Sedangkan di beranda rumahnya banyak terdapat tanaman bunga hias, yang digantung maupun yang di lantai.

Awalnya, Aku sempat berpikir mungkin Irma sedang pergi dengan kelurganya berlibur. Semua pintu pejam tertutup rapat dan tidak ada suara Intan, adik Irma yang berusia 3 tahun. Biasanya kalau ditelpon, Intan selalu cerewet mengganggu Irma.

“Assalamu’alaikum.”, Aku mencoba mengetuk pintu beberapa kali. Namun tidak ada balasan.

Aku melirik ke kanan kiri sambil pejam mata. Jarak rumah di kampung memang agak lebar. Aku bergerak menuju rumah tetangga terdekat. Di sana ada seorang Ibu yang sedang menyuapi anaknya. Aku bertanya tentang keberadaan Irma dan keluarga, dan mengapa rumahnya sepi sekali.

“Neng Irma lagi di rumah sakit. Udah ada semingguan sepertinya. Semalam katanya kondisinya kritis, jadi semua keluarga datang ke rumah sakit.”, jawabannya benar-benar membuatku syok.

***

Tanpa berpikir panjang Aku dengan Nanda datang ke rumah sakit dengan bus umum. Pikiranku sedang kacau, jadi tidak mungkin Aku mengendarai motor. Motor Bibi kutinggalkan di halaman rumah Irma. Di sepanjang jalan Aku mencoba menghubungi nomor Irma, mana tahu ada keluarganya yang mengangkat dan menjelaskan situasi sebenarnya.

“Hallo.” Seseorang akhirnya menjawab teleponku.

“Hallo, saya Anggi temannya Irma-“, dengan nafas terengah-engah Aku mencoba bertanya.

“Oh nak Anggi, maaf tidak memberi kabar. Irma berpesan untuk tidak menghubungi nak Anggi sampai dia sembuh.” ungkap Mama Irma memotong perkataanku dengan nada setengah terisak-isak.

Aku mencoba menenangkan diri dambil pejam mata, dan bertanya bagaimana kondisi Irma. Dari penjelasan Mama Irma, kebiasaan makan pedas membuatnya ketergantungan untuk memakan kripik pedas yang ternyata bumbunya bukan dari cabai. Melainkan dari obat tertentu yang sangat keras. Irma memang menderita maag sejak masih SMP. Namun saat maag nya sudah tidak apa-apa, dia selalu menyempatkan makan pedas yang menjadi hobinya dan menjadi salah satu link alternatif nalo4d. Sesekali itu tidak pernah menimbulkan masalah yang membuatnya dilarikan ke rumah sakit.

Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya Aku sampai di rumah sakit. Karna sudah ditunjukkan oleh Mama Irma tadi, dengan setengah berlari Aku langsung bergegas mencari ruang tersebut. Dari kejauhan kudengar ada gemuruh orang di ujung lorong itu. Semakin dekat, tampak seseorang yang kukenal sedang duduk terisak di kursi. Mama Irma.

“Ma…”, Aku memegang pundak Mama Irma. Di sisi lain mataku masih tidak percaya pada sosok di atas ranjang dengan mata tertutup.

Balasan Mama Irma yang hanya menatapku pejam kosong menjawab semuanya. Tuhan menghendaki kami untuk berpisah dengannya, selamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *