Murka Peri Penjaga Ranting

peri

Murka Peri Penjaga Ranting – “Beta budak penjaga ranting! Penumpu ranting hendak lingsir!” terdengar suara lantang dari atas pohon penumpu rumah peri.

“tak apa jika aku budak, tak apa jika aku hanya si penjaga ranting ini. Hitam nan legam bahu yang keras itulah aku!” sambungnya.

Ini kisah si peri penjaga ranting di Desa Flamboyan dalam cerpen singkat, peri yang selalu bersemangat dengan suara lantang dan kulit hitamnya. Tapi sayang ia hanya peri cacat yang di asingkan dari kelompoknya, ia tak dianggap sebagai peri jadilah ia si penjaga ranting. Jika dilihat dari kecacatannya ia hanya tak memiliki sayap kiri tapi bisa terbang dengan sempurna bahkan kecepatannya bisa mengalahkan peri-peri yang lain. Peri penjaga ranting ini bernama “Jiru”.

Pagi ini Jiru sedang asik sendiri memikul-mikul rantingnya yang akan dibawa ke Desa.

“Beta budak penjaga ranting, datang membawa ranting untuk rumah peri-peri nan cantik jelita” rayunya pada sekelompok peri-peri wanita yang sedang bergotong royong untuk membangun griya baru.

“hai Jiru, kenapa lama sekali!” bentak seorang peri bernama Flapi sambil memukul kepala Jiru.

Jiru hanya bisa terdiam tapi tetap memberikan senyum lebar padanya seolah  ia tegar dan tak sedih diperlakukan budak oleh kalangannya. “maaf Flapi, aku kesulitan membawa ini sendirian karena gerobakku sedang rusak. Aku lagi memperbaikinya” jawab Jiru.

“sudahla Flapi, lanjutkan pekerjaanmu. Jangan memarahi Jiru seperti itu, toh ranting yang dibutuhkan sudah datang.” Teriak Hinu, peri lelaki yang gagah dan tampan.

“baiklah, ranting sudah tiba ketempatnya Jiru kembali” sapa Jiru sambil terbang dengan kecepatannya yang sangat kencang.

***

Saat Jiru terbang, sebenarnya Hinu melihat potensinya tapi ia tak bisa berbuat apapun karena sudah kehendak Ratu dan Raja kalau Jiru harus diasingkan karena dianggap menyusahkan jika terjadi serangan dari Desa sebrang, yaitu Desa Anggrek. Antara Desa Flamboyan dan Desa Anggrek memang sering perang dan sering membuat semuanya menjadi lumpuh hingga meninggal. Ketidak  akuran dari kedua Desa tersebut berawal dari 15 tahun yang lalu saat Ratu dari Desa Flamboyan berkelana ke Desa anggrek. Ratu Flamboyan tidak sengaja menjatuhkan mutiara yang menjadi penerang dari Desa Anggrek.

Mutiara yang terpajang di Desa Anggrek merupakan pusat penerang. Saat Ratu Flamboyan menjatuhkannya dan membuat mutiara itu retak, seluruh Desa Anggrek menjadi gelap gulita tanpa satu penerangpun. Hingga sekarang Desa Anggrek, menggunakan mutiaranya saat malam hari ketika mereka sedang terlelap. Hal itu membuat peri-peri di Desa Anggrek tidak bisa leluasa menjalankan aktifitasnya. Itulah asal mula mengapa Desa Anggrek masih sering menyerang Desa Flamboyan secara tiba-tiba. Sasaran empuk yang selalu saja di serang ialah Jiru.

Sayap kiri Jiru yang cacat itu diakibatkan serangan dari Desa Anggrek. Peri-peri yang jatuh saat penyerangan itu tidak bisa diselamatkan, hanya Jiru yang berhasil bertahan.



Hari ini di Desa Flamboyan sangat cerah, tidak ada tanda-tanda hujan akan datang.

“tolong Jiru! Tolong Jiru, Jiru sakit” rengek Jiru tiba-tiba sambil jalan kearah Desa.

Semuanya pada panik dan melihat kearah Jiru, ternyata Jiru sedang digiring oleh prajurit Desa Anggrek. Semua peri bukan menolong malah bersembunyi menghindari prajurit-prajurit tersebut. Dilihat Hinu dari kejauhan, Bibir dan pelipis mata Jiru sudah melebab bahkan mengeluarkan darah. Ntah apa yang dilakukan oleh prajurit itu pada Jiru.

Prajurit Peri

Dari kejauhan Hinu, berfikir bagaimana cara membebaskan Jiru. Jiru hanya bisa tertunduk sambil melirik ke semua arah berharap ada yang menolong.

“Jiru!!!!” teriak Hinu dari atas sambil mengulurkan tangan kearah Jiru. Spontan Jiru menyaut tangan Hinu, dan akhirnya bisa terlepas dari genggaman prajurit Desa Anggrek. Tapi, prajurit Desa Anggrek tak tinggal diam. Mereka terbang ke arah Hinu dan Jiru, saat itu Jiru terbang dengan sangat kencang sampai membuat semua pepohonan bergoyang seperti tertiup angin.

Peri yang menjadi prajurit Desa Anggrek, menembakkan abu ungu yang bisa menjatuhkan siapa saja yang melihat dan menciumnya ke arah Jiru. Tau akan hal itu, Jiru langsung mengelak menghindari tembakan abu.

“Hinu fikirkan sesuatu. Jiru lelah” pinta Jiru pada Hinu

Semua peri yang bersembunyi hanya bisa mengintip dari tempat persembunyiannya. Terlihat dari pandangan Hinu ke arah bawah disana ada beberapa peri yang sudah di siksa bahkan Ratu dan Raja mereka  pun disandra. Hinu merasa ini merupakan penyerangan yang paling parah karena biasanya jika Raja dan Ratu sudah keluar, semua akan berakhir tapi ternyata malah semakin memperburuk keadaan.

“Hinu cepatlah, apa yang harus Jiru lakukan. Jiru sudah tak sanggup terbang lagi. Sayap Jiru hanya sebelah Hinu” teriak Jiru pada Hinu.

“sabarlah Jiru, aku sedang memikirkannya” jawab Hinu

“Jiru, kau kearah bawah. Pergilah ke gorong belakang griya yang dibangun Flapi kemarin. Jebak mereka dengan suara ledakan-ledakan. Pukulkan ranting-rantingmu pada ember yang ada disana. Itu akan memancing mereka untuk pergi, disini aku akan melawan mereka sendiri” arahan Hinu menyuruh Jiru

“tapi Jiru tak bisa meninggalkan Hinu sendiri. Manalah bisa Jiru bertindak sendiri, Jiru hanya budak penjaga ranting yang lemah” rengek Jiru.

***

“masih bisakah kau berkata seperti itu Jiru? Aku tau kau lemah, jadi kuperintahkan kau untuk melakukan itu!” bentak Hinu.

Jiru langsung kearah yang diperintah oleh Hinu, tapi disitu Hinu terlihat terbang dengan santai. Tak seperti awalnya yang terbang dengan sangat kencang, namun Hinu tak terlalu memusingkan hal itu. Ia tak memperdulikan hal-hal aneh dengan Jiru. Selagi Hinu berjuang melawan prajurit itu, ia tak memandang kearah Jiru.

“Hinu, Jiru pengkhianatan!!!” teriak Flapi dari bawah

“diam kauu!!” kata Jiru, sambil menokok kepala Flapi

“aku yang melakukan hal ini semua. Aku lelah menjadi budak penjaga ranting kalian. Aku tak ingin menjadi peri yang cacat dan tak berguna. Siapa yang mau cacat begini! tidak ada!! aku berjuang bertahan hidup sampai sekarang namun aku tetap menjadi peri yang direndahkan!!” bentak Jiru, pada mereka semua. Semua peri terdiam melihat Jiru yang murka, entah apa yang difikirkan para peri itu apakah menyesal atau malah membenci Jiru karena ikut bergabung dengan Prajurit Desa Anggrek.

“Jiru! Ratu paham Jiru pasti sakit hati. Ratu tau Jiru juga anak yang baik, Jiru tak akan menyiksa kami beginikan nak? Jujurlah, siapa yang memperbudakmu hingga kau menjadi jahat begini?” terdengar suara lembut dari Ratu.

“tak usah kau tanya karena siapa aku begini Ratu! Karena kau dan Raja mulah aku begini! Kau asingkan aku, kau jadikan aku budak penjaga ranting-ranting hingga aku memang terlihat begitu lemah dimata mereka semua!!” jelas Jiru pada Ratu

“Ratu dari Desa Anggrek, menyuruhku untuk memimpin pasukan ini dan menyerang kalian semua hingga Desa Flamboyan lenyap!  Jadi aku akan melaksanakan tugasku! Aku akan menjadi peri cacat yang lebih dihargai jika berada di Desa Anggrek.” Tambah Jiru

***

“Jiru aku tak menyangka kau begini. Kau terlihat sangat lemah tapi ternyata kau pengkhianat!” bentak Flapi pada Jiru

DOOORRR!!!! Suara tembakan terdengar, dan ternyata Jiru tega menembak peri Flapi.

“lenyapkan Jiru, ayo kita pergi sekarang” tiba-tiba Ratu Anggrek datang dan menyuruh Jiru melenyapkan Desa Flamboyan.

Semua prajurit, Jiru dan Ratu desa Anggrek pergi seraya menjatuhkan bom kearah Desa Flamboyan hingga tak ada satupun yang tersisah seperti dalam film indoxxi. Jiru, pergi bergabung dengan sekelompok peri di Desa Anggrek dan menjadi pemimpin prajurit di Desa itu.

Kotak Sukarela

sukarela

Kotak sukarela – “Huh!”, keluh Gede. Terik matahari siang itu amat menyengat tubuhnya yang lusuh juga lunglai. Dia berbasahan keringat pasi di sekujur tubuh gemuk gempalnya. Sentuhan panas menyengat hampir membakar kulit Gede yang hitam kusam semakin menghitam kelam. Apalagi kakinya sedang menapak di atas tanah perbukitan tandus tanpa pohon perindang. Hari terik nan panas adalah hari di mana orang berjuang lebih keras. Sebab itulah pepohonan di pinggir jalan sangat diperlukan. Jadi pantas saja jika kekeringan, mengingat tak ada pohon rindang di persekitaran jalan.

Gede makin seperti cacing gemuk kepanasan. Jalannya sempoyongan. Rasanya seperti cacing yang terkena air garam dalam tanah. Mereka harus keluar dari dalam tanah untuk mendapatkan oksigen. Sama halnya dengan Gede yang sangat membutuhkan air dan udara segar. Tapi saat ini hanya ada rumah-rumah berjejer di sepanjang pinggiran jalan. Tak ada pohon sekalipun? Bagaimana mungkin ada. Saat ini tanah serba terbatas. Sangat beruntung jika ada tanah dan bisa dibangun rumah. Karena rasa kepanasan itu, Gede terus mengeluhkan berbagai hal.

Gede sebenarnya merasa aneh pada kondisi lingkungan saat ini. Kala panas, kekeringan. Dan saat hujan turun, kebanjiran. “Memang, lingkungan sudah sangat membenci Kita manusia,” pikirnya. Saking panasnya, Gede mulai berhenti protes sendiri. dia hanya mau segera sampai ke kos. Ya, rumah barunya di perantauan.

Kegiatan Sukarela

“Air… air…” Kini tenggorokan Gede makin mengering karena dehidrasi. Asupan mineral pelepas dahaga amat diperlukan Gede. Dia terus menyeka keringat di dahinya yang licin. Sangat gerah dan panas.

Keadaan macam itu menjadi nutrisi buruk buat Gede setiap hari. Selepas perkuliahan usai di tengah hari, dia pulang ke kos. Meskipun tubuhnya menolak, tetap saja hasrat dalam dirinya memaksa. Atmosfer kampus yang menjenuhkan mengharuskan dirinya kembali ke kamar mini yang ada kasur lantai tipis, lalu tidur di atasnya. Bukan cuma itu, dia bisa tiduran di atas lantai dingin sembari menonton televisi sepuasnya. Atau kalau tidak, tiduran di atas dipan bambu depan kos.

“Huh!”, keluh Gede lagi. Sudah cukup lama dia berjalan di bawah terik matahari yang panas. Tepatnya di atas ubun-ubun kepalanya. Satu senti telapak tangannya menutupi rambut hitam kemilaunya. Tampak seperti Zombie di siang bolong dengan tangan di atas kepala. “Kapan sampainya?” keluh dia. “Tak payah rasanya jika punya motor. Tidak merasakan panas terik sinar matahari yang memecah tempurung kepala,” celetuk Gede.

Pandangan Gede kabur. Cuma tampak bayang-bayang buram. Ilusi fatamorgana muncul di depan matanya. Bermeter-meter di hadapannya. Hasrat akan rasa haus sudah membuncah tak terbendung lagi. Kian tak sabar, langkah kakinya melaju kencang. Dia bergegas dan semakin cepat hingga keringatnya bercucuran di atas jalanan aspal hitam. Bajunya basah. Tubuhnya bermandikan keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya. Bisa bayangkan betapa panasnya saat itu. Apalagi dengan tubuh gempal Gede, akan tampak seperti daging berlemak yang berjalan-jalan.

Penuh Perjuangan

Habis sudah perjuangan Gede di bawah teriknya siang. Tanpa banyak basa-basi, dia segera mencari pendingin dahaga. Air mineral untuk melepaskan dehidrasi beratnya. Dia mengambil gelas, kran dispenser ditekan. Dia tekan lagi. Ternyata tak ada air tersisa yang mengalir dari lubang kran. Airnya habis. Hanya ada galon besar kosong yang ujungnya terbalik di bagian bawah.

“Airnya habis,” celetuk teman kamar kosnya yang sedang membaca cerpen singkat.

“Kenapa tidak beli?”

“Biasa, tanggal tua.”

“Omongmu itu lho. Ngakunya gitu tapi bisa beli es. Sendirian lagi minumnya.”

“Hehe.”

“Hmm, malah ngguyu.”

Gede pun menghubungi penjual air galon dengan sukarela. Memesan air sesuai dengan nomor telepon yang terpampang di secarik kertas, menempel di kaca jendela ruang depan kos. Pesan pun sudah terkirim, tinggal menunggu penjualnya datang.

Tak berselang lama, suara motor tua terdengar di depan kos.

“Permisi!”

“Ya.”

“Galonnya, Mas.”

“Oh, ya. Ini mas.”

Kemudian penjual air membawa galonnya dan pergi.

***

Gede menunggu penjual air galon cukup lama. Dia cuma bisa tiduran di atas lantai keramik dingin di ruang depan. Menyegarkan badannya yang kepanasan sembari menunggu penjual air datang lagi. Hanya rasa kantuk yang menemaninya dan teman yang tertidur pulas.

“Airnya, mas.”

“Oh (terkejut) ya, pak. Terima kasih.”

“Ya.”

Gede membayar air galon dengan sukarela. Murah. Buat satu air galon cuma 2500 ribu saja. Lalu Gede membawa air galon ke belakang. Meletakkannya di atas dispenser beralaskan meja kayu panjang. Klop. Mulut galon tepat masuk di atasnya. Tak ada celah sedikitpun yang bisa membuat air tumpah.

Tak lagi sabar, kran ditekan Gede ke bawah. Air yang dinantinya mengalir keluar. Memenuhi ruang gelas dari dasar hingga ujung bibirnya. Gede menenggak dengan perlahan, khawatir tersedak. Dia tetap memperhatikan kebaikan tubuhnya meski tubuh terasa panas. Pembiasaan.

Tenggorokan terasa segar dan basah. Melegakan dada yang tadinya sempit. Mendinginkan perut yang panas. Menghidupkan kembali badan yang lusuh kembali bugar. Nikmat dunia sudah terpenuhi lagi oleh Gede.

“Ces…., segarnya bukan main”. Suara tegukan pun membangunkan seisi penghuni kos.

“Eeeh, minum tak bilang-bilang. Haus banget nih!”

“Biarin, sudah haus bangeeet.”

Gede kembali menekan kran dispenser. Menyiapkan gelas keduanya. Tapi dia dikagetkan teman satu kos yang asal main ambil segelas air yang akan diminum. Namun dikasih dengan sukarela. Gede pun dibuat jengkel oleh temannya itu.

“Huh!”

Sorry, saya ambil ya.”

Mendengar isi galon telah terisi air saja sontak membuat penghuni kos yang terbaring lemas berbondong mengambil air bergantian apalagi ketika mendengar tenggakan air di tenggorokan maka seperti mengantre pengisian BBM. “Cepetan!” ucap temannya yang merupakan agen judi bola online. “Sabar dong!” yang lain menimpali.

***

Air yang sudah memenuhi dahaga penghuni kos membuat mereka bersemangat lagi, tak terkecuali Gede. Panasnya suhu sudah tak berpengaruh. Kalau nanti merasa haus, cukup langsung ambil air saja.

Tapi semua itu tak butuh waktu lama. Belum ada tiga jam terlewati, air galon sudah habis lagi. Hanya tersisa tiga tetes dari kran.

“Waduh, airnya habis!”

“Wah, nanti malam tak ada air nih.”

“Kalian terlalu boros sih minumnya.”

“Boros bagaimana? Penghuninya banyak gini kok dibilang boros!”

“Sudah, jangan ribut. Air sudah habis, terus menyalahkan orang lain gitu?”

Gede datang dari arah dapur sembari membawa kotak plastik hitam. Semacam wadah toples yang biasa berisi makanan lebaran. “Nih, ada kotak plastik. Taruh sisa uang kalian yang receh ataupun kertas di dalamnya. Biar kalau mau beli air tak perlu khawatir uangnya bakal habis. Tak perlu menyalahkan orang lain juga. Saya tulis nih, ‘Kotak Sukarela’ buat kalian yang haus dan malas buat menyedekahkan uangnya buat penghuni kos. Ingat, lho. Ini buat air, bukan yang lain.

“Ya.”

Karena semuanya sudah sepakat, maka untuk mengganti air yang habis semuanya patungan untuk beli lagi. Dan sebagai cadangan, jumlah galon air pun ditambah.

Ketika Seorang Ayah Bukan Hanya Jadi Predikat

predikat papa

Ketika Seorang Ayah Bukan Hanya Jadi Predikat – Faktor utama penyebab perceraian tidak selalu dengan perselingkuhan atau pengkhianatan yang mendramatisir. Terjadinya perbedaanvisi dan misi merupakan racun mematikan yang dapat bersarang di keluarga siapa saja. Tanpa pandang bulu.

Seperti yang terjadi pada keluarga Fai dan Violetta. Sudah 2 tahun lamanya mereka hidup satu atap dengan dua orang anaknamun tak saling sapa. Mereka membangun kehidupan sendiri di Rumah megah sejak membuka mata hingga menutup mata kembali.

Perbedaan visi dan misi sudah berusaha mereka pecahkan bagaimana solusinya, tapi tak kunjung menemukan solusi terbaik.Yang ada hanya perdebatan panjang melelahkan dan tentu saja tak baik bagi kondisi psikologis kedua anak mereka.

Fai adalah seorang Direktur di Perusahaan ternama. Penampilannya rapi mengenakan jas dan berdasi. Setiap hari ia pergi ke Kantor menggunakan mobil mewah besar berwarna putih hasil jeripayahnya sendiri. Ya, Fai adalah seorang Pria tampan pekerja keras.

Tapi yang membuat Violetta kecewa adalah sikapnya yang lama kelamaan kaku dan keras kepala. Ia sangat sensitif, setiap kali Vio membuka pembicaraan, tanggapannya selalu dingin dan tidak menyenangkan. Sikapnya ini yang membuat Vio akhirnya malas berbicara dengannya. Fai pun sepertinya hanya memikirkan pekerjaannya. Ia selalu pulang malam dan tak pernah peduli dengan kedua anak mereka. Usia pernikahan mereka.

Tahun ini sudah menginjak 10 tahun, baru 2 tahun belakangan sifat Fai berubah. Vio pun tak tahu apa penyebabnya, ia sudah berusaha mencoba mendesak untuk bertanya. Namun jawabannya nihil. Fai hanya diam seribu bahasa. Bagi Vio ini sangat menjengkelkan dan membuat ia merasa tidak dihargai lagi sebagai seorang Istri.

Ia berkata sendiri, “Aku hanyalah sebuah mainan yang terkurung dalam pernikahan”.

Dan hanya angin yang berdesir membendung tangisnya untuk bisa bertahan. Tanpa ada seorangpun peduli.

Kehidupan Sang Predikat

Sedangkan Vio punya latar belakang kehidupan yang berbeda dengan Fai. Ia adalah seorang Dosen di salah satu universirtas ternama. Penampilannya sangat muda dan trendy di usianya yang hampir menginjak kepala 4. Sikapnya juga menyenangkan. Ia bergaul dengan siapa saja, menjadi teman diskusi yang baik bagi mahasiswa dan tentu saja berusaha menjadi seorang guru yang bijaksana bagi kedua anaknya. Anak pertamanya bernama Laskar Pelangi, gadis cantik berusia 8 tahun yang ceria dan punya rasa ingin tahu yang besar.

Kemudian ia dikaruniai anak laki-laki bernama Julius Caesar yang kini berusia 5 tahun. Vio sadar dirinya sibuk. Apalagi Fai yang tidak pernah sama sekali menanyakan kabar anak-anaknya. Maka dari itu Vio harus pandai membagi waktu dan memberi perhatian bagi kedua anaknya. Terutama untuk Julius yang masih kecil.

Seperti minggu pagi ini, Vio ingin menemani Julius pergi berenang. Namun sebelum itu, Vio harus mengantar Kakak les vocal terlebih dahulu. Ya, sudah dua tahun ini mereka menghabiskan waktu bersama di hari minggu hanya bertiga. Julius sering bertanya mengapa Papa tak pernah ikut dalam mobil mereka. Vio pun menjawab sejujurnya bahwa Papa sedang sibuk mencari uang. Tanpa membuat figur seorang predikat Ayah menjadi jelek dimata anaknya. Si kakak pun demikian, Vio tahu bahwa dalam psikologi seorang Anak, Ayah tetaplah sosok yang hebat dan tak terkalahkan. Seorang Anak selalu menempatkan figure ayahnya dalam urutan paling atas. Predikat Ayah tetaplah seorang yang terbaik apapun yang terjadi. Vio paham betul akan hal itu.

***

Tapi kali ini, Vio tak pernah menyangka apa yang dilakukan Fai akan berdampak besar bagi pemikiran kedua anaknya. Di sela-sela kegiatannya membaca cerpen singkat, Julius menyampaikan sesuatu yang membuat Vio terkejut bukan kepalang. Julius berkata bahwa setelah ini Papa akan membawanya pindah ke rumah baru bersama kakak. Meninggalkan Mama sendiri. Dan temannya yang suka dengan astronomia bocoran togel.

Julius dengan  wajah polos menanyakan apakah hal itu benar akan terjadi. Vio pun akhirnya berusaha menjelaskan bahwa pernyataan Papa sama sekali tidak benar. Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Julius merupakan anak yang cerdas pun kebingungan harus percaya dengan siapa. Dengan Papa ataukah dengan Mama? Vio berulang kali harus menjelaskan bahwa Mama tetap ada menemani mereka sampai kapanpun. Vio membangun suatu kepercayaan bahwa Kedua orang tuanya tidak akan berpisah. Ya meskipun dalam hati ia berkata bahwa bisa saja hal itu terjadi.

Sesampainya di tempat les vokal kakak, Vio menanyai Kakak yang tampak bersedih dan murung. Awalnya Kakak tidak ingin bercerita, namun karena Vio terus membujuknya berulang kali, akhirnya Kakak mau membuka cerita pelan-pelan. Kakak bercerita bahwa tadi Papa tiba-tiba mengunjunginya dan membawakan banyak bungkusan cokelat.

Papa berkata bahwa Kakak harus bersiap-siap karena sebentar lagi mereka akan pergi jauh meninggalkan Mama. Kakak juga menambahkan bahwa Mama tidak sayang lagi dengan dirinya. Mama sungguh tidak dapat dipercaya. Begitu Kakak menirukan perkataan Papa.  Vio terhenyak. Mengapa figur seorang Ayah bisa berbicara demikian. Apa yang sebenarnya terlintas dibenaknya? apakah ia ingin menjauhkan Ibunya dari kedua anaknya. Sosok Ibu yang susah payah mendidik dan membesarkan mereka. Terutama sejak dua tahun yang lalu. Vio pun memeluk kedua anaknya di dalam mobil. Ia berjanji bahwa ia tidak akan meninggalkan kedua anaknya.

***

Ia akan terus bersama mereka. Menemani mereka hingga mereka dewasa. Tetapi kemarahan Vio tidak dapat dibendung lagi. Sesampainya di Rumah ia ingin bertanya kepada Fai mengapa ia sampai hati berkata demikian. Apakah Fai benar-benar ingin berpisah dari dirinya. Mengakhiri mahligai rumah tangga yang awalnya dibangun dengan cinta dan kepercayaan ?

Suatu kebetulan yang pas, hari ini Fai sedang bersantai di Rumah. Biasanya jika hari Minggu, Ia selalu mencari kesibukan sendiri di luar rumah dengan semua rekan kerja yang menurut Vio tidak penting. Tanpa ragu-ragu, vio langsung bertanya apa maksud Fai berkata demikian. Dengan nada tinggi dan kemarahan yang meluap, ia tidak peduli lagi perkataannya akan didengarkan oleh kedua anaknya. Fai pun kembali pada sikap awalnya. Dingin, diam seribu bahasa yang sangat menjengkelkan.

Vio yang kehilangan kesabaran pun akhirnya mengancam akan benar-benar mengakhiri rumah tangga ini jika Fai tak mau bicara. Fai terkejut. Pasalnya baru kali ini Vio angkat bicara mengenai perpisahan. Ia benar-benar tak menyangka. Ia pun berfikir keras mengenai keputusan apa yang harus ia lontarkan kepada Vio. Apakah benar-benar berpisah atau melanjutkan keluarga ini menjadi keluarga yang bahagia. Lama berfikir, Ia melihat tatapan polos kedua anaknya yang tentu saja tak ingin orang tuanya berpisah.

Hingga akhirnya, Fai pun menyadari bahwa apa yang ia lakukan selama dua tahun ini adalah salah. Ia bisa saja meracuni pemikiran kedua anaknya lewat pernyataan-pernyataan bodohnya. Fai kembali menemui Vio di Ruang Tamu, untuk kali pertama dalam dua tahun terakhir, ia merangkul Vio dan berkata bahwa ingin merubah sikapnya. Ia ingin kembali menjadi seorang predikat kepala rumah tangga yang baik sekaligus predikat guru yang hebat bagi kedua anaknya.

Kenanga Yang Gugur

kenanga

Kenanga yang gugur – Suasana pagi tadi masih membekaskan luka di hati Kenanga. Ini bukan tentang cerita cinta antara sepasang kekasih. Lalu mengalami kegagalan dalam hubungan mereka. Tetapi ini adalah tentang sebuah kesedihan karena ditinggal oleh orang yang paling terkasih. Dia telah kehilangan kedua orang terkasihnya, ibu dan bapak. Kematian ibunya sangat mendadak. Apalagi itu terjadi tak lama setelah sepeninggal ayahnya. Kini, ia hanya bisa meratap. Dia diam seribu bahasa di depan sosok ibunya yang terbalut kain kafan putih. Ia pun hanya bisa meratapi musibah yang telah menerpa.

Pelayat berdatangan dan saling bergantian masuk ke dalam untuk mengaji. Mendoakan ibu kenanga yang tertidur pulas selamanya. Hati mereka juga ikut menangis. Kejadian ini tidak hanya terjadi pada Kenanga, tapi orang lain pun mengalaminya. Warga di tempat Kenanga tinggal hampir seluruhnya mengalami kesedihan ditinggal orang yang dicintai. Sebagai bukti peduli dan tenggang rasa, warga melakukan takziah dengan khusuk.

Selasih, bibi Kenanga, menjadi satu-satunya keluarga yang ia punya saat ini. Selasih menjadi sosok bagi Kenanga untuk bersimpuh. Menangisi segalanya di atas pangkuan tegarnya. Kasih sayang Selasih terhadap keponakannya itu tak kurang dari anaknya sendiri. Selasih sudah menjadikan dia seperti putrinya. Kasih sayangnya serupa terhadap anak sendiri. Apalagi setelah Selasih kehilangan putra sulung yang tenggelam di tengah samudera saat melaut bersama suaminya. Kasihnya bertambah kepada Kenanga yang hidup sebatang kara bagai cerpen singkat. Anak-anaknya pun mengerti hal ini. Kenanga adalah keponakan satu-satunya yang kehilangan ibu dan bapak.

Sang Ibu Kenanga

Kenanga hanya bisa melihat balutan kain putih kusam yang menguning melingkupi tubuh ibunya. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke wajah yang pucat. Wajah yang dulu selalu tersenyum kepadanya. Wajah yang selalu memberi kedamaian dan semangat hidup. Namun kini ia telah pergi. Meninggalkannya seorang diri tanpa ibu yang menyayangi.

Dia terisak. Mendengar itu, Selasih dan anak-anak yang ada di sampingnya pun ikut merasakan apa yang dirasakannya. Semakin dalam, tangisannya mulai tak terdengar. Tak lama kemudian, Kenanga mengeluarkan suara.

“Ibu, kenapa ibu harus pergi begitu cepat?! Apa Ibu sudah melupakan janji untuk selalu berada bersamaku? Terus di sisiku dan menjaga putri satu-satumu ini hingga dewasa!” Sang anak melinangkan air mata. Matanya sayu. Tangis isak sesenggukan menyertai. “Ibu. Aku akan kesepian tanpa ibu,” ucapnya lagi. Lalu Kenanga menjerit sejadi-jadinya. Bibinya sedikit khawatir tapi lalu membiarkannya. Toh semua untuk memuaskan kesedihan pada hari yang menyedihkan ini. Bibinya yang di sisinya hanya bisa mengelus dengan begitu lembut pada rambut kepala Kenanga. “Sabar, yang tabah ya” ucap Bibi. Lalu dia pun diam kembali.

Kepergian sang Ibu

Dia tahu betul bagaimana ibunya bisa meninggal. Bukan karena dia menyalahkan kehendak atau takdir Tuhan. Juga bukan karena menyalahi karma. Tapi itu karena ia tak merelakan sebab ibunya pergi. Di sana, di tepi lautan Ibukota, ada banyak sekali timbunan sampah menumpuk. Menjadikan semua rata menjadi tanah. Para raksasa itu telah merusak kehidupan Kenanga dan keluarganya. Si perut buncit dan antek-anteknya membuat tempat rezeki warga hilang. Itu pula yang menyebabkan ayah dan saudara-saudara dia yang lenyap.

Warga hanyalah penonton. Mereka hanya bisa mengira apa yang ada nanti untuk mereka. Tapi kenyataan berpihak lain. Pulau buatan yang dibuat itu bukan untuk kepentingan mereka. Bukan pula untuk kehidupan keluarga Kenanga. Tanah itu hanya buat konglomerat bercelana longgar. Orang-orang bermuka dua yang menjalankan bisnis untuk kepentingan personal. Bukan hanya itu saja yang ada. Lingkungan yang semakin tercemar pun membuat nelayan kesulitan dalam mencari nafkah. Meskipun sudah ada peraturan terbaru yang melindungi dan memfasilitasi nelayan, tetap saja masih kurang untuk memadai keperluan para nelayan.

Kekecewaan

Kini yang ada hanya kekecewaan. Warga pinggiran pantai hanya bisa menyesali kejadian. Yang sepuh hanya bisa mengeluh, meratapi dan menangisi keadaan. Dan yang muda berbondong-bondong memprotes di depan gerbang ketidakadilan dengan syair togel yang menusuk hati para pejabat. Semuanya berjejer rapi di depan gedung tempat para pejabat negeri bertengger.

Mereka berteriak lantang. “Pulau buatan itu hanya akan merusak laut kami, merusak kehidupan kami dan merusak masa depan kami! Cepat! Keluar dari sarang kalian! Turun dan hadapi kami.”

Para polisi membentuk benteng pertahanan. Menghalau pemuda yang penuh amarah dengan perisai.

“Sabar, sabar. Jangan bertindak anarkis,” kata pemimpin pasukan di belakang barisan polisi.

“Sabar.. Kamu bilang?”

“Ya. Tenanglah.”

“Urgh, kami bukanlah macam kalian yang selalu patuh atas kesalahan! Cepat! Panggil penjahat itu ke sini!”

“Jangan lancang, kamu!”

Cekcok antara dua kubu itu memanas hingga bentrokan pun tak terhindarkan. Protes para pemuda gagal. Aspirasi mereka tak lagi dihiraukan. Yang ada hanya luka dan derita. Aksi protes pemuda berakhir dengan kekecewaan dan sia-sia.

***

Warga desa hanya bisa menyesal telah membiarkan para gembong dulu. Kini, sumber nafkah warga tak lagi sama. “Tentu kalau mengerti masalah ini pasti kami akan menolak keras,” pikir mereka. Sayang mereka tak tahu-menahu soal ini. Bisa dibilang bukan bidangnya. Keluarga Kenanga pun hanya keluarga nelayan biasa yang menggantungkan hidup pada lautan. Tanpa itu, mereka mati.

Hidup dalam kemiskinan di kota yang selalu diramaikan pendatang tak mesti membawa kesejahteraan baginya dan warga. Dia yang kini masih duduk di sekolah menengah kejuruan harus siap berjuang mencari penghidupan sendiri. Tak mungkin harus berpangku tangan dengan bibinya. Dia tak berani melimpahkan hidup kepada bibinya itu. Ia merasa kasihan bila merepotkan bibinya.

Kenanga menjatuhkan diri ke atas tubuh ibunya. Memeluknya dengan tangisan tak bersua. Sangat erat. Jeritannya tertahan. Para gembong itu telah memperdalam deritanya. “Sabar, Neng. Semua akan baik-baik saja. Jangan merisaukan yang akan datang.” Seorang pelayat menenangkan sambil mengelus pundaknya.

Kepergian Sang Kenanga

“Kenanga, sudahlah sayang. Biarkan ibumu beristirahat dengan tenang. Dia akan tetap tersenyum padamu di alam sana.” Bibinya menambahkan.

Tapi tak ada respon dari Kenanga. Selasih tak mendengar isak tangisnya lagi. Ia pikir mungkin dia sudah tenang. Sudah mengikhlaskan kepergian ibunya yang tiba-tiba ini. Tapi Selasih masih khawatir. Ia kembali menepuk halus pundaknya.

“Kenanga, ayo bangun. Sudah waktunya kita menguburkan jenazah ibumu.”

“………”

“Kenanga…, ayo bangun. Biarkan ibumu dikebumikan.”

“………”

Selasih sangat khawatir. Ia membangkitkan tubuhnya. Membalikkan dan meletakkannya di atas pangkuannya. Tubuhnya berat tapi lemas. Selasih memeriksa pergelangan tangan Kenanga. Lalu menatap wajahnya. Wajahnya pucat. Selasih tak mendengar embusan nafas sedikit pun dari lubang hidungnya. Kini Selasih tahu apa yang sudah terjadi pada diri Kenanga kini.

Selasih sudah tak bisa menahan tangis. Ia meneteskan air matanya. Keponakannya yang tersayang sudah hilang. Hari ini adalah hari yang sangat menyedihkan bagi dia dan semua. Kenanga telah jatuh di atas pangkuannya. Bukan karena mengikhlaskan ibunya, melainkan mengikhlaskan dirinya.

Cincin Keramat

keramat

Cincin keramat – Kemarin malam ada kegaduhan di kampung. Warga desa geger sebab ada banyak orang yang minum-minuman keras, mabuk. Berkeliling ke sana-kemari di jalanan desa. Lalu kadang mereka mampir di pos kamling. Duduk-duduk sambil meminum santai.

Warga yang akan pergi malam tak berani lewat Pos Kamling itu. Mereka khawatir saat mereka lewat akan dikeroyok, juga was-was. Para pemabuk itu sukanya mengejar siapapun yang lewat. Entah itu ramai atau sepi. Karena itu, para orang tua melarang anak-anaknya keluar malam. Jadinya, kegiatan malam di desa menjadi terganggu oleh ulah para pemabuk itu yang datang dari metropolis atau bukan. Warga tak mau ada orang yang akan celaka karena mereka.

Para pemabuk itu sudah sangat sering ngetem di pos kamling. Warga sama sekali tak mau lewat situ. Mereka acapkali disembur oleh pemabuk yang tahu warga lewat. Suatu kali, warga pernah berembuk soal para pemabuk itu tak bisa berbuat apa-apa selain mabuk dan jalan ke sana-kemari. Warga tahu betul kesadaran pemabuk itu hilang. Tapi aneh juga kenapa mereka tak berani menghadapi para pemabuk itu. Yang lain mengatakan tentu saja tak berani, toh mereka menyerang tanpa pandang bulu.

Benda Keramat

Nyatanya warga tak mau lewat. Bukan karena takut melainkan salah satu dari pemabuk-pemabuk itu ada yang memakai benda keramat. Jimat hitam yang terpasang di jarinya menakuti warga. Cincin batu itu amat hitam. Bukan sembarang batu layaknya batu akik musiman, melainkan batu sakti mandraguna. Cincin keramat.

Cincin itu mengkilap. Kadang menyemburkan sinar berwarna cerah. Katanya warga takut mendekat karena batu cincin itu ada penunggunya. Rupanya gosip yang tersebar mengatakan orang yang memakai batu cincin itu pernah melakukan tirakat. Bersemedi di tempat yang gelap gulita. Tak ada lampu, apalagi listrik. Obor pun tak ada. Hanya ada pepohonan yang menjulang tinggi, besar dan jauh dari jangkauan warga. Itu katanya. Entah itu benar atau salah.

“Kang Amin, apa tak ada yang berani melawan para pemabuk itu?”

“Nihil. Pak Ustadz saja sungkan berurusan dengan mereka.”

“Kenapa bisa?”

“Tak tahu, Man. Aku pun tak paham.”

“Padahal kata temanku pemabuk itu setengah waras.”

“Bukan setengah lagi, memang tak waras macam kerasukan. Tapi tetap saja, warga tak mau berurusan dengan mereka, apalagi dengan pemabuk yang memakai jimat.”

“Iya juga sih. Aku pun pernah melihatnya sekali. Cincinnya hitam, mengkilap dan bersinar. Itu yang membuat warga enggan lewat.”

“Sudah, tak usah mengurus hal itu secara berlebihan. Pemabuk tetap pemabuk, cincin itu tak usah disangkutpautkan. Yang penting sekarang bagaimana caranya kita bisa mengusir para pemabuk itu pergi dari desa kita. Sungguh mengesalkan.”

“Ya, betul.”

***

Setelah tersebar luas kabar desa terbaru, Pak RW mengumpulkan warga di rumahnya. Semua sudah berkumpul usai sholat Isya, sekitar pukul 8 malam. Tujuan Pak RW untuk merembuk soal para pemabuk yang selalu berkeliaran di malam hari. Warga mengeluh, resah dan kesal. Karena itulah warga dikumpulkan.

“Para pemabuk itu mengganggu kenyamanan warga desa,” ungkap salah satu warga.

“Iya, betul itu Pak RW. Bahkan mereka mengganggu aktivitas malam kita,” warga lain menimpali.

Pada saat itu juga Pak RW dan warga bersama-sama bermusyawarah buat mendapatkan mufakat dan solusi.

“Pak RW, lebih baik kita bareng-bareng melawan.”

“Kang Amin, itu sudah pernah. Apa akang tak ingat? Belum sampai tempat tapi akang malah sudah kabur duluan.”

“Hehe, iya ya. Pak RW sampai ditinggal sendiri.”

“Sudah. Sekarang aku mau tanya. Siapa di sini yang paham soal jimat?”

Semuanya diam. Tak ada yang paham apapun soal jimat. Yang mereka tahu cuma batu akik yang suka ditunjukkan ke teman yang lain. Mereka saling menatap satu sama lain. Tanya sana dan tanya sini. Lalu semuanya menjadi ramai sendiri. Rumah Pak RW jadi ramai oleh pertanyaan warga. Pak RW cuma mengeluh, lirik sana-sini tak jelas. Ingin bertanya tapi ribut sendiri.

“Saya, Pak RW!”

“Eh, siapa?”

“Saya!”

“Oh, Nak Hasim. Nak, ini bukan main-main lho. Hasim temui Ibu ya.”

“Ini Betulan, Pak RW. Nggak bohong.”

“Iya, nanti Pak RW bantu cari Ibu.”

“Duh! Hasim mau ngomong ke Kakak. Kakak paham kok.”

“Oh, terus kakaknya mana?”

“Di rumah.”

“Ya sudah. Kalau begitu suruh kakakmu ke rumah Pak RW besok pagi ya.”

“Iya, Pak RW.”

Akhirnya Pak RW mengumumkan pada warga hasil rembuk yang sudah diambil. Esoknya semua ketua RT diminta berkumpul lagi di rumah Pak RW. Lalu warga setuju dan pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang lebih baik.

***

Keesokannya Pak RW, para ketua RT dan Kang Majid berkumpul di rumah Pak RW. Mendiskusikan lagi kasus para pemabuk di desa tiap malam.

“Silakan, sekalian disambi.”

“Iya, Pak RW.”

“Kang Majid, Hasim sudah mengabari?”

“Sudah, Pak RW.”

“Jadi…bagaimana, Kang?”

“Jimatnya itu betul asli? Pernah dilihat warga?”

“Asli, Kang. Ada kabar orang yang memakai itu melakukan tirakat. Juga, warga yang kebetulan lewat situ sering ditakut-takutin.”

“Ditakutin bagaimana, Pak RW?”

“Mmm…tak begitu paham sih.”

“Saya tahu, Kang!” Pak RT 1 agak berteriak.

“Eh! Jangan ngagetin gitu dong!” Pak RW agak marah.

“Hehe, maaf Pak RW. Jadi begini Kang Majid. Saat itu, saya dan teman-teman pergi ronda. Di pos ronda ada yang membaca cerpen singkat, ada yang duduk santai. Awalnya sih aman-aman saja, eh pas lewat Gang Kasesi ada orang mabuk. Kalau tak salah ada tujuh orang. Sekitar dua puluh tahunan. Dari situ kita mulai merasa was-was. Khawatir, Kang. Jadi, kita berjalan pelan-pelan sambil melirik ke arah pemabuk yang ada di pos kamling. Terus saat melihat ke arah depan, tiba-tiba ada orang….”

“Apa?” semua orang serempak penasaran.

“Orang itu pemabuk yang memakai jimat.”

“Kok kamu tahu?” Pak RW menyela.

“Ya iyalah, Pak RW. Pemabuk itu menghadang kita sambil menunjukkan jimatnya. Jimatnya bersinar, keluar warna merah, kuning, hijau…warna-warni gitu. Lalu, kita lari sekencang-kencangnya. Takut.”

“Kok bisa, Pak RT? Aku baru tahu ada batu cincin yang bisa mengeluarkan sinar seperti itu. Apa lagi seperti traffic lamp, lampu bangjo itu lho,” Kang Majid heran.

“Betul, Kang. Busung!

“Ya sudah, nanti malam kita ronda bareng-bareng. Tak usah banyak-banyak yang ikut, lima saja cukup. Setuju?”

“Setuju!”

***

Hari pun berganti malam. Tak perlu waktu lama, waktu tengah malam segera tiba. Dari petang sampai tengah malam terasa cepat. Karena memang saat yang ditunggu telah tiba. Pak RW, Pak RT, Kang Amin, Kang Majid dan Kang Man berangkat ronda. Mereka mempersiapkan apa saja yang perlu dibawa, khususnya sarung buat menahan dinginnya malam.

Malam itu suasananya biasa. Kadang motor-motor melintasi jalan dengan selang waktu yang cukup lama. Saat berjalan di Gang Kasesi, Pak RW dan yang lainnya sudah siap-siap buat berhadapan dengan para pemabuk. Sayang sekali, ketika mereka sampai di pos kamling tak ada tanda para pemabuk singgah. Padahal sudah buru-buru tapi justru sepi. Akhirnya mereka meneruskan berkeliling.

Sudah satu jam lebih berkeliling, Pak RW dan yang lainnya belum menemukan keberadaan para pemabuk itu. Di setiap sudut gang pun tak ditemukan. Di pos kamling lain pun tak ada. Kelima orang itu bingung sambil berpikir mengenai cincin keramat.

“Apa kita lanjutkan besok saja Pak RW?” tanya Pak RT.

“Ya sudah, kita cukupkan saja dulu malam ini. Lagipula tak ada tanda-tanda dari para pemabuk itu.”

Pak RW dan lainnya keliling lagi. Bukan buat cari pemabuk melainkan ronda biasa. Malam semakin larut. Ayam jago sudah ada yang mulai berkokok. Semakin malam, semakin ramai dengan kokokan ayam jago.

“Wah, tumben ayam jago sudah ramai berkokok.”

“Mungkin mereka melihat hal gaib, Pak RW.” Jawab Kang Majid.

“Jangan nakut-nakutin kita, Kang.” Pak RT menjawab cemas.

Batu Aneh

Mereka melanjutkan langkah. Lalu saat di perjalanan, mereka melihat orang-orang berlarian tak beraturan. Ada yang menabrak pohon, tersandung batu dan tersungkur ke semak-semak. Lalu Pak RW dan lainnya saling pandang. Keheranan.

Sosok orang bertubuh besar tampak di hadapan mereka. Beberapa meter jauhnya. Dia hanya menunduk dan diam menatap tangannya penuh dengan keramat.

“Kang Majid, siapa dia?” Pak RT merinding melihatnya.

“Mungkin warga.”

“Tak mungkin, Kang. Desa kita tak ada warga yang berperawakan tinggi besar,” Pak RW menjawab serius.

“Coba kita hampiri Dia.”

“Apa?” Semua kaget dengan perkataan Kang Majid. Mereka pikir apa yang akan terjadi pada mereka nantinya. Melihatnya saja sudah membuat merinding. Tak ada yang bisa dibuat, semuanya mengikuti Kang Majid. Bisa jadi orang itu tahu sesuatu yang keramat.

“Kang, permisi. Lihat orang-orang mabuk lewat sini? Yang biasa di pos kamling,” Kang Majid mengawali percakapan.

“Mmm. Iya, Kang. Mereka sudah pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Dari desa sini lah.”

“Memang kenapa, Kang?”

“Karena mereka takut melihat muka saya.”

“Sebenarnya Akang siapa?”

“Saya…” sambil mengangkat kepala dan cincin yang ada di tangannya.

“Aaaaaa!” Pak RW dan lainnya lari.

“Lho, Akang tak ikut lari?”

“Akang kalau mau menakuti saya bukan begini. Memangnya saya anak kecil yang bisa ditakuti batu aneh berwarna merah-hijau?”

Aku Tidak Gila

aku tidak gila

Aku Tidak Gila – “Sepertinya kamu harus ke psikiater deh. Atau perlu di ruqyah. Saran saya kalau mau di ruqyah, ke masjid Al Fattah aja. Di sana, bayarmnya seikhlasnya aja kok.” Kata dosenku di ruangannya.

Percakapan itu dibuka dengan kalimat demikian, yang membuatku sedikit shock dan bingung maksud dari perkataannya.

“Maksud ibu apa?” Tanyaku.

“Tenang. Kamu jangan berprasangka buruk dulu. Ke psikiater atau ke psikolog bukan berarti kamu gila. Bisa jadi kamu sedang mengalami depresi. Nah, dengan depresi itu harus segera diobati supaya nggak keterusan. Depresi yang dibiarkan kelamaan bisa jadi akan menjadi gila. Oleh karena itu, ibu tidak ingin mengalami hal yang demikian. Mangkanya ibu menyarankan kamu ke psikiater dan di ruqyah juga. Kalau perlu dua – duanya. Ke psikiater untuk menceritakan segala masalahmu. Di ruqyah untuk menghilangkan segala energi ghaib yang jelek yang mungkin menempel di tubuhmu.”

Aku pun mendengarkan penjelasan panjang lebar kali tinggi itu dari dosenku layaknya cerpen singkat. Aku bingung antara harus marah, berterima kasih, atau harus melakukan apa ketika mendengar penjelasan itu. Tapi di sini aku mencoba untuk diam sembari mencerna lebih dalam lagi maksud dan tujuan omongan dosenku itu.

“Jadi kalau dilihat – lihat dari perkembangan kuliah yang tiada perkembangan namun kamu tetap ngotot ingin kuliah dan lulus di sini. Mungkin saja ada hal yang bahkan sebenarnya kamu sendiri masih bingung, apa yang menjadi penyebabnya. Jadi misal kamu ceritakan ke orang lain, bisa membuatmu lebih tenang. Syukur – syukur ada jalan keluar dari semua permasalahanmu. Dengan harapan kamu di semester depan bisa lebih fokus lagi menjalani kuliah yang baru.”lanjut dosenku.

***

“Baik bu, akan saya pikirkan lagi untuk hal ini. Dan tidak menutup kemungkinan saya akan menjalankan saran dari ibu untuk bercerita ke psikiater dan mengobati hati hati lewat ruqyah. Saya sangat berteima kasih sekali atas segala masukan dan saran dari ibu. Semoga saya bisa melakukan perubahan di semester – semester yang akan datang.” Kataku sembari menutup pembicaraan berat dengan dosen sekaligus kepala program studi di jurusanku pagi menjelang siang kala itu.

Memang setelah dipikir – pikir, aku sering kali seperti ini. Di awal semester, sok – sokan semangat kuliah dengan segala rintangan nagasaon. Menjelang pertengahan sudah mulai down, apalagi jika ada satu atau dua tugas serta kewajiban masuk kuliah terlewatkan. Pasti terkadang berasa aku udah ketinggalan banyak sekali sehingga nanti di akhir semester nilaiku pasti jelek. Padahal hal itu belum tentu terjadi. Itu hanya ketakutanku belaka saja. Dan karena hal tersebut, aku jadi malas untuk masuk dan meneruskan mata kuliah di semesterku tersebut. Mangkanya aku selalu bersikap demikian.

Namun, semuanya seakan sedikit tersadar dengan wejangan dosenku tempo hari. Aku memang tidak boleh seperti ini terus. Aku harus berubah. Aku haru berubah. Aku harus berubah. Mau jadi apa kalau aku seperti ini terus.

Belum lagi, banyak sekali teman – teman yang meragukan kemampuanku untuk bisa lulus dari kampus tercinta ini. Yang harus membuatku bekerja lebih keras lagi. Belajar lebih giat supaya aku bisa membeli omongan – omongan mereka yang kelewat batas tersebut.

Mungkin juga karena cowok. Memang ku akui, terkadang aku tidak bisa fokus jika harus dihadapkan oleh banyak hal. Dan aku inginnya sekali aku mengerjakan sesuatu, ingin rasanya bekerja dan dilaksanakan secara total. Biar bisa ada hasil yang didapatkan. Minimal satu saja daripada tidak sama sekali.

Gila Sukses

Tapi apa daya, terkadang aku kalah dengannya. Aku selalu kalah jika bermasalah dengan penyakit hati. Aku terlalu terbuai dengan kata cinta. Dan aku benci untuk mengakuinya.

“Aarghh… aku benci dengan hal ini. Aku ingin bebas. Aku ingin sukses dengan kebebasanku. Aku benci seperti ini terus. Aku benci. Aku benci. Aku benci.” Teriakku dalam hati.

Bencinya lagi, aku tak bisa berlaku tegas ke semuanya. Ke orang tuaku, ke cowok yang dulu pernah mengisi hatiku. Ke seorang cowok yang saat ini juga sedang bersamaku, ke teman – temanku, dank e semuanya. Aku hanya bisa teriak dan menangis di dalam kamar yang ku gelapi ruangannya. Biar semua orang tak tahu akan jeritan hatiku.

Mungkin hal seperti itulah, yang membuatku depresi. Ingat depresi BUKAN gila. Itu berarti aku tidak gila.

Seperti itulah jeritan hatiku. Hingga saat ini, detik ini sebenarnya aku masih belum beranjak ke psikiater ataupun di ruqyah. Aku bingung harus memulainya dari mana. Dan baik itu orang tuaku maupun cowoku belum juga membawaku ke tempat – tempat yang terdengar mengerikan itu.

Aku ingat pertama kali aku mengalami malas untuk kuliah adalah dikarenakan oleh rasa sakit hati yang mendalam kala itu. Kala aku masih maba. Aku mengenalnya dan menjalin hubungan dengannya. Dengan seorang cowok yang satu angkatan dan satu jurusan denganku. Tetapi ditikung oleh teman yang hampir kujadikan seorang sahabat yang satu jurusan dan satu angkatan dengan kita berdua. Aku jadi males untuk melihatnya. Untuk melihat mereka. Dan untuk melihat beberapa temanku yang lain.

“Kamu sendiri jadi cewek kayak gitu sih Ul. Pantas saja dia pergi ninggalin kamu.” Kata salah seorang temanku.

***

Ooohh, shit. Kondisi terpuruk saja, aku masih di bully. Salahku kah? Atau salah Tuhan menciptakanku di dunia dan menakdirkanku bertemu dengannya di awal pertama menjadi seorang mahasiswa? Yang bisa membuatku menjadi seperti ini. Seperti tak mempunyai semangat dana arah tujuan hidup yang pasti.

Aku ingat juga, bukan ini kali pertama aku mengalami pembully-an. Pernah dulu jaman ku masih duduk di bangku SMP dan sedang masa – masa menunggu keluarnya nilai ujian. Ada satu sekolah SMA favorit yang aku tuju. Kebetulan sedang buka program yang berbeda dari sekolah lain di daerahku. “Akselerasi” namanya. Entah apa yang dipikiranku. Aku menginginkan untuk masuk ke program itu.

“Ma, di smanip (sebutan sekolahku) ada program akselerasi. Program percepatan. Sekolah yang harusnya tiga tahun jadi dua tahu. Boleh nggak kalau daftar ke sana?”

“Boleh.” Jawab ibuku.

Dari situ aku belajar dengan giat untuk bisa masuk ke sana. Meskipun aku termasuk orang yang mempunyai nilai biasa aja di mata pelajarannya. Tetapi terkadang, ada sifatku yang selalu ingin dilihat lebih oleh orang lain dengan cara dan jalanku sendiri. Dan benar saja. Teman SMP ku, yang waktu itu dia berada di program RSBI sedangkan aku hanya siswa regular yang nilai selalu tepat di rata – rat sekolah nyeletuk.

“He Wul, kamu daftar aksel di smanip?

“Iya. Kenapa?”

“Jangan bunuh diri yaa kalau misalkan nggak masuk aksel di sana.” Ledek dia setengah menghina diikuti tawa hinaan dari seluruh kantin yang waktu itu di dominasi angkatanku.

Dari situlah aku langsung memutuskan untuk menelan mentah – mentah omongannya. Dan telah kubuktikan bahwa aku bisa masuk program akselerasi di sekolah itu.

Aku Seorang Introvert

introvert

Aku Seorang Introvert – Perkenalkan namaku Lia, Awalnya aku adalah seorang anak kecil biasa yang normal, sama seperti anak lain nya. Kehidupan yang penuh dengan canda dan tawa. Namun lambat laun semuanya berubah.

KRINGGH…KRINGG…KRINGGG..!

Terdengar Bunyi jam alarmku yang sangat berisik, membangunkanku dari tidur. Aku bergegas mandi dan tiba saatnya kami untuk meninggalkan rumah ini Ya, aku akan pindah.

Jujur rumah ini adalah rumah yang penuh kenangan. Ada rasa sedikit tidak rela. Tapi sudahlah, Kami harus tetap pindah dari sini.

“selmat tinggal rumah. Aku akan merindukanmu.” kataku sambil meneteskan air mata.

Kesesokan harinya, aku pergi bersama mamah untuk mendaftar sekolah baru. Aku sedikit merasa deg degan dan cemas. Aku takut kalau kehadiranku nanti tidak bisa diterima dengan baik oleh teman-teman baruku. Tapi mamah terus menenangkan ku.

“selamat pagi anak-anak kita kedatangan murid baru di kelas ini, silahkan perkenalkan diri kamu.”

“Baik, bu. H a ay. Namaku Kasilia kalian bisa panggil aku Lia” kataku sambil gemetaran dan sedikit gugup.

“Hai Lia, salam kenal” jawab sekelas serentak.

“Ya sudah Lia kamu bisa duduk di sebelah Nisa”.

“Baik,bu”

Sekolah & Rumah Baru Untuk Introvert

Aku duduk satu bangku dengan nisa. Kamipun akhirnya saling kenal dan aku berharap dia bisa menjadi sahabat baruku. Namun perkiraan ku salah. Hubungan kami biasa-biasa saja, tidak terlalu akrab. Semua kehidupan ku pun berbalik 180 derajat.

Setelah beberapa bulan aku sekolah disini. Aku tidak memiliki satu orang sahabat pun. Entah mengapa semejak kepindahanku ke sekolah baru aku menjadi orang yang lebih pendiam dan penyendiri. Lambat laun aku mulai mendapat ejekan, celaan, sindiran atau apapun itu dari teman-teman sebayaku di manapun.

***

Jika sedang berkumpul dengan teman-teman, mereka selalau aktif untuk berbicara, bertukar cerita. Sedangkan aku, hanya diam. Bukan hanya soal hal fisik, tapi juga ada hal lain yang membuat mereka selalu mengejeku. Hingga aku pernah menangis di kelas karena mereka. Aku memang lemah dan tak berdaya, untuk menghadapi mereka  saja aku tidak berani. Ketika aku diejek aku hanya bisa diam dengan muka yang merah seperti joker merah. Perih sekali rasanya. Batinku menangis.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Aku mulai meninggalkan teman-temanku di SD itu. Aku sangat senang karena teman-temanku yang sekarang jauh lebih baik denganku. Namun tetap saja ada temanku SD dulu yang sekolah di SMP yang sama dan satu kelas lagi denganku. Dia yang sudah mengerti sifatku introvert, memprofokasi teman-teman lain nya agar tidak berteman denganku. Karena menurutnya aku ini aneh, jarang ngomong dan cupu.

Sungguh aku benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Aku selalu beratanya-tanya apa yang bisa aku lalukan supaya dapat seperti mereka.

Tiga tahun berlalau begitu cepat, dan tidak terasa aku telah memasuki masa-masa SMK.

Di SMK aku tidak pernah mendengar mereka mengejekku introvert. Mereka semua baik namun tetap saja ada teman lamaku yang juga sekolah di tempat yang sama. Hingga saat aku duduk di sebuah kantin aku mendengar dia sedang membicarakan aku dengan teman-teman nya.

“Eh kalian tau ngga dulu waktu SD aku punya temen cupu banget terus orangnya tuh aneh tau ngga sih, jarang ngomong, pendiem, Pokoknya aneh deh”

Aku tahu dia sengaja berbicara seperti itu untuk menyindirku. Andai saja dia tahu betapa aku merasa sangat sakit hati. Sungguh sakit dan tidak tertahankan.

***

Yah hingga aku nyaris putus asa. Aku benar-benat tidak mengerti dengan semua ini. Hingga saat masa-masa transisi, aku selalu berusaha untuk merubah sifatku yang introvert. Aku selalu berusaha agar orang-orang tidak menganggapku sebagai seorang pendiam, si cupu, dan sebagainya. Ketika aku kuliah aku sudah berjanji pada diriku sendiri agar aku bisa seperti para ekstrovert yang aktif. Saat itu aku sering mengikuti kegiatan organisasi hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat baik. Baik sekali. Seperti yang ada pada cerpen singkat.

Setelah lama kami kenal, akhir nya dia menembaku dan berjanji jika lulus kuliah nanti dia akan melamarku. Sungguh sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan. Seorang introvert sepertiku ini ternyata masih ada orang yang mencintaiku dengan sangat tulus. Dia adalah Adit.

“Lia, nanti sore mau kan ikut aku bukber sama temen-temen ku?”

“Tapi… Akuu malu dit. Kamu aja deh.”

“Ayolah sayang katanya kamu pengen brubah, mungkin dengan cara ini kamu bisa melatih kepribadian kamu dengan sering bertemu dengan orang-orang baru.”

“Yaudah deh aku ikut”

Sesampai dirumah aku masih saja merasa ada yang mengganjal dipikiranku. Ajakan adit tadi membuatku harus perfikir berat.

“Ya allah, aku harus gimana. Aku takut kalo nanti malah mempermalukan adit di depan teman teman nya karena sifatku yang introvert ini.”

Tidak lama kemudian terdengar suara motor adit di depan rumahku. Dia sudah menjemputku untuk berangkat. Aku segera keluar dan berpamitan dengan mamah, dan bapak. Sesampainya di restoran tempat teman-teman adit dan juga kami akan bukber disana, adit langsung disapa oleh teman-teman nya. Sepertinya mereka akrab sekali. Dan aku merasa canggung atas semua perlakuan itu.

***

“wih jadi ini cewe lo. Hai Lia salam kenal ya”.

“Hai salam kenal juga”.

Selang beberapa menit sudah terdengar suara adzan magrib, kamipun segera untuk membatalkan puasa kami. hingga terjadi keluconan dari salah seorang teman nya adit dan membuat suasana meja makan kami sedikit heboh. Namun lagi lagi aku hanya terdiam dan tidak berani untuk berkata-kata. Tapi beruntungnya teman-teman adit baik sekali denganku. Mereka juga tidak tahu kalo aku seorang Introvert. Mereka mengajaku mengobrol. Membuat aku lebih dihargai keberadaanku disni. Hingga akhirnya aku bisa sedikit demi sedkit untuk menyesuaikan diri dengan mereka.

“sayang trimkasih ya, tadi kamu udah ngajak aku ke acara kamu sama temen-temen kamu. Jujur aku nggak pernah ngrasain di hargai dan disegani seperti ini sama orang. Dari dulu aku selalu di ejek, di hina. Mereka bilang aku itu anak yang cupu dan nggak pantes buat dijadiin temen.” Kataku sambil berdiri di depan gerbang rumah

“Sayang aku akan selalu ada buat kamu, aku ga peduli sama masa salu kamu. Aku akan selalu ada di belakang kamu”

“Bodyguard dong hahaha.” Kataku sedikit melucu.

Berkat adit, Temanku bertambah, aku mulai sedikit-sedikit merubah sifat intovertku ini. Aku juga lebih ceria dan bersemangat menjalani hari hari ku. Aku sangat bersyukur mempunyai adit. Hingga akhirnya kami lulus kuliah dan wisuda. Tepat di hari wisuda, adit melamarku. Dan selang satu tahun kamipun menikah dan hidup bahagia.

Masa lalu sudah berlalu, kini aku akan menatap kedepan. Biarlah masalaluku itu menjadi memori tersendiri dalam sudut pikiranku. Menjadikan penguat langkahku. Agar aku selalu kuat menghadapi setiap masalah dalam hidupku.

Senja Ini.. Jangan Ada Duka dalam Gulitanya

senja

Senja Ini.. Jangan Ada Duka dalam Gulitanya – Membaca novel diiringi irama lagu klasik Sheila On 7 memang selalu menjadi candu, sampai tak terasa sudah dua jam aku menunggu. Mata mulai menyoroti telepon genggam yang sejak tadi tak bergetar. Apa mungkin dia lupa? Atau terjadi sesuatu dengannya? Atau dia memang tidak berencana untuk datang? Pikiran-pikiran itu terus saja berputar di kepalaku.

Aku sempat berpikir untuk menghubunginya, tetapi aku bukan tipe yang seperti itu. Dalam artian aku tidak ingin terkesan baperan atau terlalu posesif dan mendikte. Aku selalu menunggu dia yang menghubungiku duluan, kurasa memang begitulah hubungan kami. Hanya dia yang punya hal menghubingiku, tetapi tidak sebaliknya. Aku selalu menunggunya tanpa protes. Tapi kali ini rasanya sudah sedikit keterlaluan. Ini sudah dua jam lebih dan dia tidak memberi kabar sama sekali. Aku mulai putus asa.

Tut… tut… tut…

Aku memberanikan diri untuk menghubunginya. Bahkan jika pun dia beralasan sibuk, aku akan memakluminya. Aku coba sekali lagi. Dua kali, tiga kali. Tetap tidak dijawab. Wajahku mulai redup, kusut, muram, dan apalah istilah untuk mengungkapkan kekecewaan. Aku hendak beranjak karena sudah tidak ada yang bisa diharapkan lagi.Tidak ada link alternatif yang bisa diharapkan seperti link alternatif sundul4d yang diajarkan di website.

Secercah Harapan Untuk Senja

Tepatnya, tiga hari yang lalu dia mengajakku bertemu di taman ini. Mungkin saja ini pertemuan yang tidak perlu untuk dihadiri. Mungkin dia hanya asal bicara waktu itu. Dan bodohnya aku percaya begitu saja. Seakan menang diantara ribuan bidadari karena berhasil melunakkan hati laki-laki paling popular di kampus. Sadar dirilah Ika, siapa kamu ini? Gadis remaja cupu, kuper, dan paling gak asik kalau diajak ngobrol. Mana mungkin Kak Anton mau membuang waktunya hanya untuk menemuimu? Disela-sela keasikanku bergumam, tiba-tiba aku merasa malam datang lebih awal. Ah aku pasti sudah terlalu lama melamun.

Aku mendongakkan wajah, dan disana berdiri sosok laki-laki dengan potongan mirip pegawai kantoran. Rambut yang tersisir rapi, memakai jas sekaligus dasi, sepatu hitam mengkilap, lengkap dengan menjinjing tas kantor. Kurasa saat itu aku benar-benar ingin menertawakan dandanannya yang sama cupunya denganku. Tapi urung, demi menjaga image. Tiba-tiba dia menyunggingkan senyuman. Padaku? Ah rasanya bisa gila karena terlalu lama melamun. Banyak hal aneh yang muncul di pikiranku. Segera aku beranjak dari kursi itu, dan pulang.

Langit Senja Awan Mendung

Di sepanjang jalan rasanya aku tidak bisa menyembunyikan wajah muram ini. Mungkin sama halnya yang dirasakan langit senja ketika awan mendung muncul. Dirinya yang indah tertutupi aura gelap. Mungkin seharusnya pagi tadi aku melihat ramalan cuaca. Jadi aku bisa memutuskan untuk tidak menemui senja cantik seperti cerpen singkat yang tertutup awan mendung.

Aku rapatkan langkahku di halte bus disusul oleh rombongan mahasiswa lain yang baru selesai kelas hari itu. Bus kota yang tak kunjung datang membuat udara halte semakin sesak oleh calon penumpang yang semakin meluap. Ada seorang nenek bersama dua cucunya yang terdorong maju mundur oleh calon penumpang lain. Sesekali hampir terjatuh, tapi segera bangkit lagi. Ada juga anak SMA yang jam jam segini baru hendak pulang. Untungnya aku tiba di sana lebih awal sehingga bisa memposisikan diri di barisan depan. Di dorong ke sana kemari bukanlah hal yang sepele. Menguras emosi dan tenaga. Tidak sedikit orang yang melontarkan kalimat kasar kepada calon penumpang lainnya yang berebut untuk masuk. Ada juga yang bersikap anarki dengan memaksakan diri untuk bisa sampai ke barisan depan. Badan yang sudah letih karena seharian beraktivitas membuat mereka tidak sabaran untuk segera sampai di rumah masing-masing.

***

Walau keadaan di luar mulai turun hujan, rasa-rasanya di dalam sini masih saja panas dan engap. Banyak yang sampai menggerutu dan memaki para bus yang enggan datang cepat. Ada juga yang sibuk memperbaiki dandanan yang luntur akibat terkena air hujan. Kulirik dua mahasiswi berambut panjang yang tepat berdiri di belakangku. Mereka mengeluarkan bedak dari dalam tasnya. Sambil menggerutu dia mulai mengusap satu dua spon bedak pada pipi.

“Aduuh… kenapa sih pake acara hujan segala.”, ucap salah satu dari mereka. Mahasisiwi dengan kulit sawo matang.

“Iya nih, nyebelin banget.”, tambah mahasiswi yang satunya dengan nada ketus.

“Eh, Ca, liat tuh yang di ujung.”, ucap perempuan  berkulit sawo matang itu pada temannya.

“Apa?”, balas perempuan satunya lagi dengan nada cuek.

“Ah, lebih keren pacar gue.”, balas perempuan satunya tanpa menoleh.

Perhatianku jadi sedikit tertuju pada percakapan mereka. Suara mereka mengalahkan suara bising di sekitarku. Bagaimana tidak, mereka berbincang seakan-akan menempel di telingaku. Sampai-sampai aku berpikir ingin pindah posisi. Tapi tidak mungkin, bergerak saja susah rasanya.

“Eh, lu tu ya! Gak liat apa ada orang segede ini? Masih ditabrak juga?”, tiba-tiba si perempuan sawo matang ini menegur seorang remaja perempuan berkaca mata yang tidak sengaja menabraknya karena terdorong dari belakang.

“Maaf, kak..”, jawab perempuan itu dengan nada takut.

Si perempuan sawo matang hanya melengos dan kembali sibuk bercermin memperbaiki dandanan.

“Whoy!!! Pada ke mana sih bus nya? Ga tau apa halte udah sesak gini.”, teriak seorang pria berbadan besar dengan tatto di bagian lengannya kepada petugas halte.

***

“Maaf untuk semua calon penumpang. Busnya akan tiba dalam waktu lima menit lagi. Mohon kesabaran dan ketertibannya.”, ucap seorang petugas dengan nada lantang.

Semua calon penumpang pun harus sabar  dalam lima menit ini. Dua perempuan di belakangku masih ngedumel sendiri, menertawakan setiap orang yang sedikit ganjal menurut pikiran mereka. Ketika melihat seorang dengan rambut yang berantakan, mereka tertawa dan membandingkan dengan diri mereka sendiri. Sebenarnya tidak terlalu cantik di mataku, tapi entah kalau di mata pria.

Tuuut…. Tiba-tiba suara klakson mengalihkan perhatian semua penumpang. Dengan diatur beberapa petugas halte, kami semua masuk memenuhi dua bus sekaligus.

Aku duduk berhadapan dengan seorang nenek dan dua cucunya. Terpancar dari raut wajahnya, mereka juga merasa lega karena dapat duduk di bus dan segera sampai rumah. Dua perempuan yang tadi berada di belakangku kulihat sekarang dia duduk lumayan jauh dariku. Yap.. aku merasa tenang sekali. Kusenderkan bahuku pada senderan kursi. Kembali mengatur nafas yang sejak tadi rasanya tersengal-sengal. Sekejap terlintas tentang kejadian tadi di taman.

Ketika Kak Anton mengingkari janjinya juga ketika seorang pria rapi yang menghampiri dan menyunggingkan senyum untukku. Masih penasaran sebenarnya dengan sosok misterius itu. Tapi aku terlalu lelah untuk berharap bertemu dengannya lagi. Kurasa aku hanya harus memejamkan mata sampai halte terakhir. Raga, perasaan, semuanya merasakan ketidakadilan ini. Aku selalu suka dengan senja. Tetapi, aswal dan akhir hubunganku dengan Kak Anton ternyata berakhir di waktu yang sama. Benar-benar senja yang melelahkan.

Pengejar Impian

impian

Pengejar Impian –

“Aryo, aku pergi duluan!”

“Mau ke mana? Tumben banget.”

“Hehe, iya nih. Tadi malam ada panggilan kerja, interview. Aku takut macet, jauh juga. Jadi, aku harus berangkat pagi-pagi.”

“Oh… kalau begitu hati-hati di jalan, Sur.”

“Oke.”

Hari ini sangat berbeda. Aryo merasa heran dengan tingkah laku Suryo yang bisa bangun pagi. Sudah mandi pula. Sejuk udara pagi yang masuk dari lubang ventilasi kamar membuat Aryo semakin heran pada teman sekamarnya itu. Ia sendiri bahkan kedinginan. Sungguh hebat, adanya interview kerja bisa membuat Suryo melakukan apa yang tidak biasa ia lakukan. Bangun saja susah, apalagi mandi.

Saat itu juga Aryo sendiri di kamar. Cahaya kuning keemasan muncul menyinari kamar Aryo dari balik jendela. Mentari pagi menyingsing dari timur. Sinarnya menyilaukan pandang. Lalu Aryo memejamkan mata. Ia berbicara pada dirinya. Ia memotivasi diri untuk tak kalah dari Suryo. Ia akan menyusul mendapatkan pekerjaan di ibukota. Lalu Aryo bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.

Aryo Sang Pengejar Impian

Aryo kini menghadap cermin. Cermin bundar berukuran sedang. Yang menggantung di atas paku dinding kamarnya. Aryo menatap dirinya. Kini ia sudah rapi. Berkemeja merah panjang dan berdasi hitam dengan setelan jas hitam keabu-abuan yang tersampir di lengan kiri. Lalu berbalik pergi. Sejenak, Aryo berhenti lalu kembali memalingkan diri ke depan cermin. Lagi-lagi ia memandang dirinya. Membetulkan gaya rambut yang sudah tersisir rapi. “Tik! Tik! Ceh!” Teriak Aryo spontan sambil menggelengkan kepala. Ia meyakinkan dirinya, menghadap cermin: “Hei, Aryo. Kau begitu tampan hari ini, bagai mentari yang memancarkan kemilaunya. Siapkah kau untuk hari ini?” Lalu ia menganggukkan kepala seraya ingat perkataan mbah sukro sgp yang selalu memberikan semangat.

“Tik! Tik! Ceh!” Aryo kembali membuat suara mengagetkan.

Ia keluar dari kos. Menjinjing tas di tangan kiri. Lalu naik ke atas motor. Motor tua miliknya yang dibeli lima bulan lalu di tempat pelelangan motor. Ada penyok di sana-sini dan juga garis merah tanda berkarat.

Aryo mengendarai motor dengan riang. Ia menyanyikan beberapa lagu dengan suara cukup keras. “Tik! Ceh! La la la la.…” Aryo melantunkan sebaris lagu. Tingkahnya membuat pejalan kaki heran bahkan ada yang tertawa. Begitu aneh pikir mereka yang mendengarnya.

Melamar Pekerjaan Di Sekolah

Setiba di halaman parkir sekolah, Aryo turun. Ya, ia melamar pekerjaan di sekolah. Dan hari ini Aryo akan melakukan wawancara. Menjadi guru adalah impiannya. Kemudian Aryo turun dari motornya dan berkaca di kaca spion motor sambil merapikan dasi. Kemudian dia berjalan melangkah masuk sekolah. Terus menuju kantor.

“Permisi!”

“Ya, silakan masuk!”

“Selamat pagi, Pak!”

“Pagi! Silakan duduk!”

“Terima kasih. Jadi saya ke sini berniat mengajukan lamaran pekerjaan.”

“Iya. Boleh saya lihat berkas-berkasnya?”

“Tentu, Pak. Silakan!”

Kala itu Aryo dengan bersemangat mempromosikan diri dengan kata-kata yang bergelora. Ide besarnya ia keluarkan semua. “Tik! Ceh!” Teriak Aryo di tengah obrolan dan membuat Kepala Sekolah kaget keheranan. Lalu akhirnya Aryo menyelesaikan sambutan penuh gairahnya itu.

“Mmm. Maaf, Pak Aryo. Bukan saya tidak suka dengan ide-ide Anda. Tapi sungguh saya mohon maaf tidak dapat mengajak Anda kali ini. Mungkin lain waktu Anda dapat kembali ke sini lagi.”

“Tak apa, Pak. Terima kasih atas kesediaan Bapak. Permisi.”

Aryo keluar dari sekolah itu dengan raut wajah sedih. Dia menuju motornya dengan tubuh yang lesu. Bersandar sejenak. “Huh! Tak masalah! Masih ada banyak sekolah impian yang belum kudatangi. Pasti ada yang menerima!” Batinnya menyemangati diri sendiri.

Tidak Ada Hasil

Akhirnya motor tua itu melaju ke sekolah yang belum dijejaki. Aryo mendatangi satu per satu. Tapi belum ada hasil. Tersisa satu berkas terakhir yang dia bawa, dan satu sekolah terakhir pula yang membuat semangatnya luntur. Ia datangi sekolah terakhir itu. Hasilnya sama saja. Berkas-berkas yang ia susun semalam suntuk tak berpengaruh sama sekali. Mereka menolaknya langsung dan tidak. Mereka berpikir Aryo tak akan bisa menjadi guru, apa pun alasannya, walaupun dengan sejuta kreativitas yang dimilikinya seperti yang ada pada cerpen singkat sekalipun.

Tanpa basa-basi Aryo langsung menuju motornya dengan marah. “Argh…!!” Ia duduk di atasnya keras. Lalu ia menggebrakkan tubuh berkali-kali di atas kemudi motor. “Aku bakal memperkeruh keadaan?!” katanya dengan marah. Kebiasaannya yang tak mau diam dan membuat kata-kata spontan dipandang bakal mengganggu proses belajar anak. “Sungguh keterlaluan!” Batinnya dalam hati. “Seenaknya saja mengadili seseorang, apa mereka tak melihat banyak orang yang mampu tapi malah berpaling?” tambahnya.

Impian Yang Tidak Pernah Kendur

Aryo mungkin agak berbeda dari yang lain. Dalam dirinya ada keadaan mental yang berbeda. Sangat mencolok dan nyata. Itu ada sejak Aryo kecil. Para ahli menamainya Tourette Syndrome. Semacam kelainan mental yang suka berkata-kata spontan dan mengagetkan. Tak! Tik! Ceh! Seperti itulah bunyinya. Keras. Sampai-sampai temannya dulu terkekeh dan geli mendengarnya. Tapi itu dulu. Saat ini Aryo pemuda yang akan mengubah pemikiran miring itu. Guru SMP-nya dulu sudah mengajari Aryo untuk selalu menjadi orang yang optimistis dan memiliki impian. Selalu semangat dan bertahan menghadapi segala rintangan dan melampauinya. Lambat laun teriakannya pun akan berkurang dengan bertambahnya usia. Meskipun tak banyak.

“Orang yang tak sempurna tak boleh diremehkan!” Aryo meyakinkan diri. Ia juga masih punya sosok lain yang akan selalu mendukung. Sosok yang akan terus dan selalu membangunkannya dari segala keterpurukan. Ibu. Ya, ibunya akan selalu mendampinginya. Dekat atau jauh.

***

“Tak! Ceh!” Sambil menggelengkan kepala. Aryo kembali ke kos dengan wajah murung. Sesampainya di kos, Suryo sudah ada di dalam, menonton televisi sambil makan camilan.

“Hei, Yo! Bagaimana hasilnya. Pasti mereka sangat kagum kan?”

“Maaf, Sur. Aku mau sendiri.”

“Lho kok gitu, Yo. Apa ada yang salah dengan ucapanku? Ayolah, katakan saja kepada temanmu ini…”

“Tik! Tik! Ceh! Tidak, Sur. Sungguh aku mau sendiri.”

Aryo pun masuk kamar. Menutup pintu agak keras.

Kini Aryo terbaring di atas kasur. Matanya memandang luar jendela, memikirkan yang sudah terjadi. Matanya berkaca-kaca namun tak sampai meneteskan air mata. Yang ada hanya keheningan di senja yang murung. Aryo ingat masih ada satu sekolah lagi. Kunjungan terakhir yang akan dia datangi besok. Sambil mengingat, Aryo pun terlelap dalam penuh harap.

Sinar mentari membangunkan Aryo. Ia kesiangan. Aryo ingat pintu kamar ia kunci. Jadi, Suryo tak bisa masuk ke kamar. Aryo jadi tak enak hati. “Tak apalah! Sekali-kali begini,” pikir dia.

Pagi Yang Baru

Pagi ini tidak seperti kemarin. Suasana agak berbeda. Yang semula girang menjadi angker. Aryo hanya sekali menghadap cermin. Merapatkan dasi yang terlalu longgar. Sekarang saatnya dia menuju sekolah tujuan. Sekolah dasar di pinggiran kota, masih wilayah kota tapi tenang dan sejuk.

“Tak! Tak!” Semangatnya runtuh. Teringat kejadian kemarin. Ia kendarai motor dengan penuh beban. Tetangganya ia sapa hanya untuk menunjukkan ia baik-baik saja. Lalu sampailah Aryo di tempat. “Cah! Ceh!” Ia rapikan baju setelan yang dikenakan. Lalu ia merapatkan kembali dasi hitamnya. Kemudian ia berhenti sejenak. “Aryo, hentikan tingkah kekanakanmu ini. Tujuan sudah di depan mata. Tunjukkan bahwa kamu pantas menjadi bagian dari mereka!” Aryo meyakinkan diri.

Respon Positif

Aryo pun menegapkan badan. Menunjukkan postur yang gagah dan berkarisma. Ia melangkah dengan tekad pasti ke sekolah impian. Kepala sekolah menyambut dengan ramah. Ia mengajak Aryo duduk. Kemudian membicarakan anak-anak yang ceria. Pada saat itu juga Aryo mulai menunjukkan kualitas dirinya, lagi. Ia keluarkan ide-ide hebatnya. Segala yang bisa meningkatkan pendidikan anak.

“Sungguh mulia tujuan Anda, Pak. Saya sangat mengapresiasi…”

“Tik! Ceh!”

“…mengapresiasi ide-ide brilian Anda.”

“Terima kasih telah bersedia meluangkan waktu Anda untuk saya.”

“Sama-sama. Kami akan menghubungi Anda segera.”

Aryo pun keluar dari kantor. Kegembiraannya muncul kembali atas respons positif kepala sekolah. Lalu ia mampir di kelas yang terbuka. Ia masuk ke dalamnya. “Segera aku akan menjadi guru di sini. Mendidik murid-muridku dengan kesungguhan hati. Membantu mereka mencapai impian,” tekadnya dalam hati. Lalu Aryo pun pergi.

Nasehat Orang Tua

“Huh…!” Keluh Aryo. Sudah tiga minggu lebih ia menunggu konfirmasi dari sekolah itu. “Apakah hasilnya akan sama seperti sebelumnya?” pikirnya. Ia kembali putus asa dari impiannya. Hari-harinya terasa menyiksa. Barangkali mereka juga sama seperti yang lain. Memandang kepribadiannya yang aneh. Berbeda dari banyak orang. “Argh…!! Sialan! Kenapa ini harus terjadi kepadaku?!” Aryo berteriak.

“Kring… Kring…” Suara telepon berdering. Tampak di layar itu ibu Aryo. Ia masih bingung. Telepon masih berdering. Akhirnya ia angkat telepon itu.

“Ya, Bu.”

“Sayang, ada apa? Kamu terdengar sangat gelisah.”

“Tak ada apa-apa, Bu.”

“Jangan bohong. Ibu tahu apa yang kamu rasakan. Katakan, apa yang terjadi?”

“Huh… sudah tiga minggu lebih tak ada panggilan dari sekolah yang aku datangi terakhir kali. Padahal itu harapan terakhirku. Mereka sama saja!! Hanya melihat dari sisi lainku yang berbeda. Tik! Ceh!”

“Jangan begitu, barangkali mereka sudah menghubungimu tapi kamu tak tahu. Cobalah besok kamu pergi ke sana. Mereka pasti menerimamu.”

“Baiklah, Bu. Akan aku coba.”

“Tut… Tut….”

***

Aryo ikuti nasehat ibunya kemarin. Hari ini Aryo akan pergi ke sekolah impian yang terakhir ia datangi. Dia kemudikan motor. Pelan karena gelisah sampai akhirnya tak sadar sudah sampai di tempat. Lorong sekolah dilewati. Tampak satu kelas yang pernah ia masuki dulu. Kini, Aryo kembali memasukinya. Ruangan yang pernah ia impikan.

“Tik! Ceh!” Aryo termenung sesaat. Tanpa sadar, kepala sekolah sudah ada di belakangnya. Menepuk pundak Aryo sambil berkata “Pak, mari ikuti saya.”

“Selamat! Ini kelas baru Anda. Anda akan mengajar murid kelas dua di sini.”

“Benarkah?”

“Ya. Sebenarnya kami sudah menghubungi Anda dua minggu lalu tapi tak ada balasan dari Anda. Sekarang, buatlah kelas Anda. Tuangkan ide hebat dan unik Anda di sini.”

“Terima kasih. Akan saya lakukan yang terbaik untuk anak-anak.”

“Ya.”

Pendar Bait Sepi Sang Pecandu Cakrawala Kalbu

cakrawala

Sang Pecandu Cakrawala Kalbu – Pendar cahaya lamat-lamat menghapus tapaknya terpuruk aku dalam kelam tak menyudah, jejak yang kuharap sirna kini. Melabirin semacam duka merekah, pendar cahaya kini kian tersisa bayang. Pada langit senja kutitip kisah, mungkin kan sampai di cakrawala kalbumu?

Kini aku duduk di kursi usang bawah pohon rindang, pasti kau ingat tempat ini. Tempat dimana kau datang dan tak ingin pergi kemanapun jika ku tak ikut dengamu. Cukup kata-kata kelamku, sekarang aku bercerita tentang aku, ayah dan sepiku sekarang. Aku Ayu, seorang gadis yang hidup di perumahan sederhana tengah kota. Awalnya aku tinggal dengan ayah tapi kini beliau sudah meninggal dunia setelah 10 tahun berjuang hidup dengan stroke yang dideritanya.

Sekarang aku hidup sendiri dirumah ini, tak bergantung dengan satu orangpun dan tak ada yang mengasuhku, bisa dibilang aku ini termasuk gadis kecil pasalnya usiaku masih 16 tahun. Bayangkan saja diusia 16 tahun ini aku harus hidup sendiri, mencari makan sendiri, mencari uang sendiri dan semua sendiri. Tapi syukurlah aku diberikan rumah ini untuk  berteduh jadi aku tak perlu memikirkan biaya mengontrak rumah lagi.

***

Aku ingin bercerita awal kisah aku bersama ayah layaknya cerpen singkat. Jika ada yang bertanya mengapa Ayah dan buka ibu? Jawabanku singkat, aku tak kenal Ibuku dan tak akan mau mengenalnya. Ibu meninggalkan kami saat kami sedang hancur-hancurnya, saat itu usiaku baru 9 tahun dan sudah mengalami hal seberat itu. Ibu pergi bukan bersama dengan lelaki lain, namun kembali pada keluarganya sedangkan keluarga ayah sudah tak menganggap kami ada lagi. Hidup didunia cakrawala ini semua bergantung dengan uang atau harta dan tahta, jika salah satu dari itu hilang maka kita hanyalah seonggok sampah.

Awal Kelabu

Dari awal Ayah stroke hanya aku yang mengurus ayah, untuk bisa bertahan hidup aku berjualan makanan-makanan ringan ke sekolah untungnya tak seberapa tapi cukup untuk makan Ayah, beli roti Ayah tapi tidak dengan obatnya untuk obatnya itu sangat mahal uangku tidaklah cukup. Selama Ayah sakit, beliau tak ku kasih obat sedih rasanya karena dengan keadaannya yang seperti itu aku hanya sanggup membelikannya makanan murah dan 1 roti srikaya setiap harinya. Sesekali Ayah bilang padaku

“obatilah Ayah” dengan suaranya yang serak dan terbata-bata karena ia belum fasih betul berbicara efek dari stroke itu.

Saat Ayah berkata seperti itu aku hanya bisa senyum sambil memijat-mijat tangan kirinya kadang aku  juga menjawab “ iya inikah udah dipijitin, adek obatin ini.” Ayah stroke dibagian kiri saja.

“kerumah sakit berobatnya” minta Ayah padaku.

Itu ucapan yang paling menyakitkan yang setiap hari aku dengar dari Ayahku, pasalnya aku tak mampu membawanya kerumah sakit. Kadang aku berfikir dunia ini tidak adil, cobaan seperti apa ini? Kasihan Ayah, seharusnya ia bisa makan enak, beristirahat pulas, dan diberi obat tapi ini malah sebaliknya.

“iya yah, nanti kalau adek udah dapat kerja yang gajinya besar kita berobat kerumah sakit. Trus Ayah bisa sembuh, bisa jalan-jalan lagi enggak kaya sekarang kalau mau apa-apa harus nunggu adek, pipis dicelana” tenangku buat Ayah agar ia tenang sembari  melontarkan tertawa kecil padanya.

“mana ada Ayah pipis dicelana” jawab Ayah mengelak sambil ikut tertawa juga, aku hanya membalasnya dengan tawa lepas agar Ayah tak ingat dengan ucapan sebelumnya.

Cakrawala Senja Kelabu

Sekarang senja, lagi dan lagi senja aku suka bercerita sepi ini pada senja. Karena senja adalah jalan menuju malam cakrawala yang penuh bintang. Dulu aku sering duduk bersampingan dengan Ayah ketika malam, memandang jalan, langit, berbicara halu semua terkesan tak penting namun berharga seperti dalam tafsir mimpi. Di tengah-tengah ributnya suara jangkrik, kadang Ayah menghentak-hentakkan kakinya seperti sedang mendengarkan lagi padahal tak ada lagu, ia menyanyipun tidak namun ia suka sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Sesekali aku iseng bertanya padanya

“Ayah ngapain kok angguk-angguk geleng-geleng kaya di dangdutan aja”

Sontak Ayah langsung menggerakkan bahu dan tangan kanannya mengayun-ayunkan tangannya seperti berjoget, sambil bernyanyi bang jono. Saat melihat Ayah seperti itu lantas aku tertawa lepas dan ikut joget persis seperti gerakan Ayah.

Tapi itu hanya sepenggal cerita lamaku bersama Ayah, kejadian-kejadian itu tak akan bisa aku ulang lagi karena Ayah memang sudah beda dunia denganku. Waktu dimana sehari saat Ayah meninggal itu berjalan dengan sangat cepat, aneh dan menyesalnya aku tak merasakan firasat apapun. Dari pagi hingga sore aku tega meninggalkan Ayah berjualan keliling karena aku tau saat itu Ayah sedang demam jadi aku berusaha untuk mengumpulkan uang dan ingin membelikannya roti serta obat.

Sang Ayah

Waktu sudah isya barulah aku sampai dirumah dan melihat Ayah dikamarnya sedang berbaring lemas sambil mengulurkan tangannya padaku karena melihatku sudah pulang. Aku langsung menghampirinya dan mendudukkan Ayah niatku ingin memberinya roti lalu meminumkannya obat demam, yang biasanya Ayah lahap memakan roti namun saat itu ia hanya sanggup memakan satu suapan saja. Disitu aku baru merasa ketakutan akan kehilangan Ayah, satu-satunya orang yang aku punya dan sangat berharga bagiku.

“Ayah kenapa? Rotinya ga enak?” Tanyaku sambil menangis

“jangan nangis, Ayah gak kenapa-kenapa. Jangan takut adek ya” jawab Ayah sambil membaringkan badannya lagi ke kasur.

“perut Ayah sakit, mau minum” rengek Ayah kembali

Langsung aku kedapur mengambilkan segelas air dan ku berikan padanya, waktu Ayah minum air aku mendengar suara perutnya seperti air yang dituangkan kedalam ember. Rasa takutku semakin bertambah, aku memeluk Ayah erat sambil menangis dan berkata

“maafin adek ninggalin Ayah seharian, adek tadi beli obat buat Ayah tapi adek cari uang dulu yahh. Ayah sembuh jangan sakit jangan tinggalin adek”

Itu adalah hari terburukku, aku meraung-raung seorang diri dan tak ada satupun tetangga yang menghampiriku saat itu. Ku tatapkan mataku pada Ayah, tapi pandangan Ayah entah melihat ke arah cakrawala mana. Ku arahkan wajah Ayah pada dadaku, berharap Ayah tak melihat sosok yang menjemputnya dan masih hidup bersamaku. Tapi seketika itu Ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Entah tangisan sekencang apalagi yang harus aku keluarkan agar rasa sakitnya hilang, aku tak terima ini terjadi padaku. Semua orang pergi meninggalkanku.

***

Hmm, kisah sepiku ini aku hanya bisa berdialog dengan senja  yang mendung. Meskipun mendung ketika malam ia masih sanggup memberikan bintang untukku, walaupun hanya satu bintang saja. Takdirku hanya sepenggal bait tentang kesepian, kelam, cerita lama dan mimpiku. Menuliskan kisah ini saja, dadaku seperti tak sanggup untuk berdetak. Tak paham aku ini sepi atau sedih, atau mungkin ini cerita sepi yang mengundang sedih. Mungkin sudah cukup bagiku 10 tahun merawat Ayah sendiri, tertawa lepas dan berpelukan ketika ingin berpisah dengan sang cakrawala.