Sepisau Duri, Bayang Semu yang Bernama Cinta

duri

Sepisau Duri, Bayang Semu yang bernama Cinta –

“Tunggu disini, ya.”

“Kamu mau kemana?”

“Nggak kemana, tunggu disini, sebentar, nanti Aku kembali, buat kamu”

“Iya, tapi kemana?”

Begitulah kiranya, pertanyaan terakhirku yang tak pernah terjawab. Ia langsung bergegas pergi tanpa mempedulikan Aku yang hampir mati penasaran ini. Menjadi hal yang tidak mudah untukku melepaskannya, ditambah dengan tidak kejelasan kemana ia pergi dan kapan ia akan kembali. Apalagi bagiku, dia tidak pernah nyata. Dia hanya bayangan yang selalu ku anggap ada nyatanya ia hanya hidup dalam angan.

Aku mengenalnya selepas Aku memutuskan berpisah dengan pacarku terdahulu, sebut saja dia Hasan, lelaki yang ku kenal melalui sosial media. Awal perkenalan, ku Akui Aku menyukainya. Aku pun merasa Aku begitu nyambung berbicara dengannya walaupun hanya sebatas chat. Setelah 2 minggu berkenalan, Aku dan Hasan memutuskan untuk bertemu, di sebuah danau di dekat kampusku. Hasan sudah sampai sedang Aku masih berjalan dari indekost ku. Ya, Aku sengaja menunggu dia sampai di tempat.

“Hai!” Sapa Hasan

“Halo, Hasan ya?” Ucapku.

“Iya, sini duduk, Nad!” Hasan mempersilahkan Aku untuk duduk.

Kesan Pertama

Kesan pertama ketika Aku melihatnya, dia tampan sama seperti foto yang tertera di sosial media yang kami gunakan untuk bercengkerama. Bukan kali pertamanya, Aku merasa deg-degan untuk awal pertemuan. Tapi akhirnya kami dapat berbincang walaupun masih malu-malu. Namun akhirnya Aku akhiri pertemuan itu cukup 2jam saja, karena ada hal yang harus Aku selesaikan.

“Mau Aku antar?” Tawar Hasan

“Eh, nggak perlu, deket kok, kamu pulang aja, San” Jawab ku

“Oh, sampai ketemu lagi, ya, Nad” Ucap Hasan

Aku berfikir ketika dia telah mengerti Aku, dia akan menjauhiku lalu mencari wanita cantik lain seperti yang sudah ku alami sebelumnya, tapi dugaanku salah. Dia tetap menghubungiku sama seperti sebelum kami bertemu. Akhirnya kami merencanakan pertemuan kami kedua kalinya. Kali itu dia ingin diajak ke tempat wisata yang ada di kotAku, karena kebetulan kami berbeda kota. Jarak kala itu tidak menjadi sebuah halangan, apalagi untuk kami yang berniat untuk sama-sama mengobati luka.

Pertemuan demi Pertemuan

Sejak pertemuan kami yang kedua, kami merencanakan pertemuan selanjutnya. Dibalik penantian untuk pertemuan kami selanjutnya, kami merasakan kedekatan yang lebih dekat lagi. Bahkan panggilan “sayang” pun dilontarkan oleh Hasan. Sungguh Aku merasa tidak nyaman dengan panggilan seperti itu apalagi diatas hubungan kami yang masih mengatasnamakan ‘teman’.

“San, Aku nggak nyaman dengan ini, kita udah sayang-sayangan tapi status kita masih teman”, ucapku pada Hasan suatu ketika.

“Iya, Nad. Aku memang nyaman sama kamu tapi Aku masih tAkut memulai semuanya”. Hasan menjawab dengan kata yang penuh pemakluman.

Aku diam tidak menjawab apapun, Aku mulai berfikir jika Hasan hanya bermain-main saja denganku. Seperti kebanyakan pepatah, sudah nyaman lalu ditinggalkan. Namun ternyata, Hasan melanjutkan ucapannya.

“kalo kita ketemu lagi kita resmiin ya”. Aku pun mengiyakan.

Sudah satu bulan lamanya Aku dan Hasan tidak bertemu, dikarenakan kesibukan yang merenggut weekendku. Hingga pada akhirnya awal bulan berikutnya kami memutuskan untuk bertemu. Seperti janjinya, Hasan membawa setangkai mawar putih untukku.

“Buat apa?” Tanya Aku pada Hasan

“Nad, kamu tuh kelamaan jomblo, diromantisin malah nggak peka” Ledek Hasan.

Memang benar, sebagai perempuan yang memutuskan untuk sendiri selama 1 tahun lamanya dan sempat trauma dengan laki-laki. Aku pun mengiyakan. Maka, mulai hari itu, kami menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih.. Semakin hari Aku semakin nyaman dengannya, walaupun sesekali pertengkaran kecil terjadi karena memang kami yang masih labil.

***

3 bulan pertama kami masih baik-baik saja, saling menyamakan persepsi, saling pengertian tentang kesibukan masing-masing dan tentunya tentang agenda yang mengharuskan kita untuk tidak bertemu sementara waktu. Kemudian masalah yang sama dan terulang harus kita lewati yaitu tentang kedekatan, tidak hanya kedekatan hati tetapi Hasan menuntut adanya kedekatan fisik. Aku pun sama halnya dengan Hasan, sangat menyadari bahwa jarak yang ada nyatanya memang menghambat. Bukan sesuatu yang harus diperjelas duri semua yang ada dalam sebuah hubungan memang menginginkan adanya pertemuan setiap harinya.

Aku selalu mencoba menyakinkan Hasan untuk tetap bertahan, meyakinkan bahwa jarak bukan salah satunya penghalang untuk menyerah, meyakinkan bahwa Aku dan ia akan mampu melewati jarak yang ada.

“Tapi, nggak segampang itu, Nad. Kamu ngerti nggak sih, sebenernya!” Murka Hasan

“Aku tau ini nggak gampang, San. Bukan mau kita juga kalo kita harus LDR kayak gini, tapi kamu yang yakinin Aku dulu buat jalanin ini semua” Aku mencoba mengingatkan Hasan pada komitmennya.

“Iya Aku tau, Aku pikir, semua akan mudah, Aku pikir ini nggak akan jadi masalah buat kita, tapi nyatanya kamu tau sendiri kan, Nad?” tanya Hasan.

“Jadi, mau kamu gimana sekarang?” Jujur, Aku menyerah. Merasa usahAku mempertahankan Hasan begitu sia-sia, hingga akhirnya Aku menantang Hasan.

“Kita sampai sini aja, Aku nggak bisa lagi, nggak bisa, Nad”. Hasan menyerah pada jarak. Aku? Sama halnya, Aku hanya terfikir, usaha Aku untuk mempertahankannya menjadi sia-sia, apalagi ia seolah tak ingin Aku perjuangkan seperti cerpen singkat. Jangankan untuk terus bersama. Keinginannya untuk selamanya sama-sama mengobati luka nyatanya malah menambah luka baru untukku.

Perpisahan Yang Terluka

Sejak saat Hasan menyudahi segalanya, Aku tak pernah membalas sepatah katapun sebagai persetujuan. Aku butuh perenungan yang sangat panjang. Bukan hal yang mudah untukku, memang seperti duri dalam daging. Disaat Aku sudah memberanikan diri membuka hingga memberikan hati kepada laki-laki, nyatanya, Aku dipatahkan lagi. Bukan bermaksud menghakimi keadilan Tuhan, tetapi nyatanya Aku sangat bersahabat sekali dengan bab ditinggalkan.

***

Belakangan, Aku menyadari. Nyatanya, Hasan memang hanya ada dalam bayanganku saja. Dia tidak pernah nyata. Meski berulang kali Aku mencoba meyakinkan diri, kenyatannya Hasan kini hidup dalam anganku saja. Hingga saat ini Aku masih merutuki bagaimana mungkin dulu dengan mudah mengatakan iya ketika ia mengajakku untuk sama-sama menyembuhkan luka dan menjadi dewasa karena luka, nyatanya malah ia yang semakin membuatku semakin tersayat.

Barangkali, itulah cara Tuhan untuk membantuku agar semakin sadar, bahwa semua yang singgah bisa jadi menetap atau sekedar mampir. Membuatku semakin sadar, bahwa semua yang mengetuk pintu, tidak semuanya memutuskan tetap tinggal, bisa saja hanya menengok lalu pergi lagi, karena bukan itu rumah yang dituju. Begitu banyak pemakluman yang membuatku semakin sadar, bahwa semuanya memang tidak mudah. Apalagi untukku yang memang mudah terlena. Terlalu percaya hingga luka diatas luka yang Aku dapat.

Duri Dalam Daging

Aku sudah cukup menerima keputusan Hasan dengan memulai kehidupanku yang baru. Menjadi hal yang sulit, karena Aku harus menata ulang hidup ku, setelah Hasan memutuskan meninggalkan seperti duri dalam daging. Ketika Aku sudah cukup berdamai dengan segalanya, Hasan datang kembali. Sebagai agen togel yang selalu memberikan bocoran togel online kepada customernya. Ia datang seolah semuanya baik-baik saja. Tanpa tau Aku sangat berusaha untuk tetap hidup setelah ditinggalkannya. Aku dan Hasan akhirnya berbincang, menceritakan kehidupan setelah perpisahan dulu. Hingga Hasan menginginkan untuk bersama kembali. Dan hingga Aku luluh kembali untuk mengiyakan ajakan yang selalu Aku nantikan. Hingga

“Tunggu disini, ya.”

“Kamu mau kemana?”

“Nggak kemana, tunggu disini, sebentar, nanti Aku kembali, buat kamu”

“Iya, tapi kemana?”

Pertanyaan terakhir yang ku anggap perpisahan sesungguhnya. Nyatanya, jawaban tak pernah Aku dapatkan. Sudah, benar-benar Aku akhiri ceritaku tentang Hasan. Dia ada tapi tak pernah nyata, sama halnya dengan ucapannya, tak pernah nyata. Layak duri dalam daging.

Pejam Terakhir Irma di Hatiku

pejam mata

Pejam Terakhir – Minggu lalu aku dan keluarga pergi ke kota N. Kota kelahiran Ayah. Memang sudah direncanakan untuk berlibur ke sana selama 2 pekan. Ayah juga mengambil cuti. Aku dan Rima juga sedang masa libur sekolah.

“Anggi, lusa jangan lupa kita jadi ke tempat Kakung. Dari sekarang disipain apa aja yang mau dibawa.”, kata Mama mengingatkanku tentang liburan ke tempat Kakung.

“Iya, Ma.”

Sudah lama sekali rasanya tidak menghirup udara desa, dan bertemu dengan-nya. Bagaimana ya kabarnya. Irma, sahabat masa kecil, pengisi memori indah di ingatanku. Rasa-rasanya sudah ada setahun kita tidak bertemu. Meski chat dan telpon tidak pernah putus, rasa rindu untuk bertemu tetap belum terobati.

“Semua sudah siap? Rima ada yang lupa nggak? Kak Anggi?”, tanya Mama mengingatkan kami satu per satu.

“Anggi udah, Ma. Nggak tau dah Rima, baru beres-beres kemarin. Banyak tu pasti yang ketinggalan.”, cerocosku pada Rima yang masih sibuk menghitung barang-barangnya.

“Apaan sih Kak.”, wajahnya cemberut, tidak terima diolok-olok.

Saat Rima selesai dengan barang-barangnya, kami segera menuju kota N, tempat Kakung tinggal. Perjalanan ini membutuhkan 8 jam perjalanan menggunakan mobil. Kakung tidak tinggal sendiri, di sana ada Bibi, Paman, dan sepupu-sepupuku lainnya. Ada yang seumuran denganku, dan banyak diantaranya seumuran dengan Rima. Bisa dibilang, Aku adalah yang paling tua dari semua cucu Kakung.

Di separuh perjalanan Aku masih tetap terjaga. Membayangkan bagaimana ekspresi Irma saat melihatku nanti. Aku memang tidak memberi kabar tentang liburan ini. Saat dia bertanya tentang rencana liburan, Aku hanya menjawab akan pergi liburan biasa dengan keluarga ke tempat-tempat yang sejuk. Sementara di sampingku, Rima sudah dari tadi pulas tidur dengan memeluk boneka. Masih kelas satu SMP, jadi wajar masih seperti anak kecil.

***

Ah akhirnya sampai juga. Separuh perjalanan Aku putuskan untuk tidur. Menyimpan tenaga untuk berbagi cerita dengan Irma. Aku segera turun, disambut Bibi yang langsung memelukku. Sementara Mama masih mencoba membangunkan Rima yang punya kebiasaan susah dibangunkan. Alhasil, satu-satunya cara adalah menggendongnya keluar dari mobil.

“Bibi, Irma sering main ke sini?”, tanyaku pada Bibi di sela-sela kami membereskan barang bawaan.

“Nggak sering, tapi adalah sebulan sekali bawain buah-buahan hasil panen Ayahnya. Memang kenapa? Memang kamu nggak pernah telpon atau sms, Nggi?”, tanya Bibi heran.

“Telpon kok Bi sesekali. Tapi dia nggak pernah cerita tentang bawa-bawain buah, hehe.”

“Yah mana ada yang ngasih kaya gitu minta pamrih dicerita-ceritain, Nggi. Aneh kamu. Yauda buruan diselesain, nanti nyusul sarapan ya.”, Bibi berjalan keluar meninggalkan Aku beberes, dan Rima yang tidur.

Setelah selesai, Aku menyusul ke meja makan. Aku merasa sudah cukup tidur selama perjalanan, jadi hari ini Aku mau langsung keliling kampung. Di meja makan ada Hafiz dan Nanda, anak Bibi. Keduanya masih sama-sama duduk di bangku SD. Ayah sudah duduk memegang koran sambil membaca cerpen singkat bersama Kakung di ujung meja, sementara Mama membantu Bibi menyipkan sarapan.

“Anggi, jangan diam saja di sana. Salim Kakung dulu, trus bantuin Mama.”, kata Mama dengan nada berbisik.

Aku hanya mengangguk dan segera ke tempat Kakung duduk. Saat salim, Kakung menanyakan tentang sekolahku. Bagaimana teman-teman di kota, bahkan menanyakan apakah Aku sudah pacaran. Ah Kakung ini bikin malu aja.

“Aku abis sarapan mau langsung ke tempat Irma ya, Ma.” Bisikku ke Mama yang sedang membawa nasi ke meja makan.

“Ya udah, ajak Nanda atau Hafiz.” Mama memberikan izin.

Pejam Mata Tak Terduga

Dengan motor matic milik Bibi, Aku segera meluncur menuju rumah Irma. Tidak jauh, hanya 2 km dari rumah Kakung. Jalannya juga sudah bagus, tidak seperti 6 tahun silam yang masih berkerikil dan berlubang. Sesuai saran Mama, Aku membawa Nanda bersamaku. Karena dia perempuan, Aku lebih nyaman dibanding Hafiz yang sedang sibuk bermain dengan teman-temannya. Aku sampai sekarang belum bilang pejam pada Irma bahwa Aku datang mengunjungi Kakung. Dia pasti akan sangat terkejut. Terakhir kami berbicara via telpon seminggu yang lalu. Benar-benar rencana yang matang untuk memberikan kejutan.

Sesampainya di halaman rumah Irma, senyumku masih mengembang membayangkan ekspresi Irma. Rumah Irma memiliki halaman yang luas. Rumahnya menghadap ke jalan dengan dua bangunan yang digabungkan. Terlihat memanjang ke samping. Sedangkan di beranda rumahnya banyak terdapat tanaman bunga hias, yang digantung maupun yang di lantai.

Awalnya, Aku sempat berpikir mungkin Irma sedang pergi dengan kelurganya berlibur. Semua pintu pejam tertutup rapat dan tidak ada suara Intan, adik Irma yang berusia 3 tahun. Biasanya kalau ditelpon, Intan selalu cerewet mengganggu Irma.

“Assalamu’alaikum.”, Aku mencoba mengetuk pintu beberapa kali. Namun tidak ada balasan.

Aku melirik ke kanan kiri sambil pejam mata. Jarak rumah di kampung memang agak lebar. Aku bergerak menuju rumah tetangga terdekat. Di sana ada seorang Ibu yang sedang menyuapi anaknya. Aku bertanya tentang keberadaan Irma dan keluarga, dan mengapa rumahnya sepi sekali.

“Neng Irma lagi di rumah sakit. Udah ada semingguan sepertinya. Semalam katanya kondisinya kritis, jadi semua keluarga datang ke rumah sakit.”, jawabannya benar-benar membuatku syok.

***

Tanpa berpikir panjang Aku dengan Nanda datang ke rumah sakit dengan bus umum. Pikiranku sedang kacau, jadi tidak mungkin Aku mengendarai motor. Motor Bibi kutinggalkan di halaman rumah Irma. Di sepanjang jalan Aku mencoba menghubungi nomor Irma, mana tahu ada keluarganya yang mengangkat dan menjelaskan situasi sebenarnya.

“Hallo.” Seseorang akhirnya menjawab teleponku.

“Hallo, saya Anggi temannya Irma-“, dengan nafas terengah-engah Aku mencoba bertanya.

“Oh nak Anggi, maaf tidak memberi kabar. Irma berpesan untuk tidak menghubungi nak Anggi sampai dia sembuh.” ungkap Mama Irma memotong perkataanku dengan nada setengah terisak-isak.

Aku mencoba menenangkan diri dambil pejam mata, dan bertanya bagaimana kondisi Irma. Dari penjelasan Mama Irma, kebiasaan makan pedas membuatnya ketergantungan untuk memakan kripik pedas yang ternyata bumbunya bukan dari cabai. Melainkan dari obat tertentu yang sangat keras. Irma memang menderita maag sejak masih SMP. Namun saat maag nya sudah tidak apa-apa, dia selalu menyempatkan makan pedas yang menjadi hobinya dan menjadi salah satu link alternatif nalo4d. Sesekali itu tidak pernah menimbulkan masalah yang membuatnya dilarikan ke rumah sakit.

Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya Aku sampai di rumah sakit. Karna sudah ditunjukkan oleh Mama Irma tadi, dengan setengah berlari Aku langsung bergegas mencari ruang tersebut. Dari kejauhan kudengar ada gemuruh orang di ujung lorong itu. Semakin dekat, tampak seseorang yang kukenal sedang duduk terisak di kursi. Mama Irma.

“Ma…”, Aku memegang pundak Mama Irma. Di sisi lain mataku masih tidak percaya pada sosok di atas ranjang dengan mata tertutup.

Balasan Mama Irma yang hanya menatapku pejam kosong menjawab semuanya. Tuhan menghendaki kami untuk berpisah dengannya, selamanya.

Ketika di Pelaminan Ada Dia yang Menghadang

pelaminan

Pelaminan – Hari yang dinantikan kini datang juga, ya siap nggak siap sih. Pasalnya aku baru mengenalnya selama 2 bulan ini sejak mama mengenalkannya padaku. Dan tak sengaja akupun juga masih mengenalnya sebagai salah satu teman dari mantan terindahku. Ari nama mantanku itu, aku juga tak begitu paham kenapa aku mengakhiri hubunganku dengannya.

Yang jelas aku masih belum bisa  move on, begitupula sepertinya dia juga masih belum mencari penggantiku. Sedih dan ingin kembali ke masa lalu jika mengingat itu semua, tapi seperti kata pepatah nasi sudah menjadi bubur mau bagaimana lagi nasib sudah tak bisadiubah. Kini ada Nino pria pilihan mama yang terhitung 1 jam kedepan akan menjadi imamku. Ya, sejam lagi akad nikahku akan dimulai. Terlihat semua orang bahagia, apalagi Nino, wajahnya yang ya bisa dibilang rupawan sih itu terlihat amat mencolok dengan riasan seadanya di pelaminan ku.

“Omaigat tampan sekali” celetukkku dalam hati.

Tak hanya tampan, Nino juga merupakan pengusaha muda yang sukses diusia belianya ini, ia juga amat pandai bayangin aja dia lulus kuliah S3 di usianya yang baru genap 26 tahun, hebat kan. Nah itu juga sih yang buat aku pertimbangin buat nerima dia apa adanya dengan segala kelebihan yang disandingkan dengan aku si itik buruk rupa ini. Tiba – tiba saja terbayang wajah Ari sepintas saat kulihat Nino tersenyum. Aku menggelengkan kepalaku berulang kali seraya meratapi kebodohanku.

***

Ari, cowok yang kukenal saat aku duduk di bangku SMA kelas 3. Anak yang nggak begitu baik, pintar dan kaya bukan juga dari golongan yang nakal, populer dan pembuat onar. Seperti kebanyakan cerita yang menceritakan anak cupu dengan anak popular. Jelas beda lah ini kan kisahku, jadi ceritanya kami itu anak yang biasa – biasa aja. Jangan bayangin kita bertemu di taman yang romantis, atau perpustakaan yang identik dengan kutu buku atau cerpen singkat apalagi di lapangan karena dihukum atau karena pelajaran olahraga.

Nah jadi ceritanya aku punya teman namanya Nesie. Saat itu aku lagi jalan bareng sahabatku si Nesie, kami mau mengikuti pelajaran tambahan kelasnya Bu Sukma pelajaran apa ya saat itu? Pelajaran Biologi sih kalau nggak salah. Nggak tau kenapa dari dulu ingatanku emang nggak sebaik manusia pada umumnya, pantes aja kalau nilai sejarah sama biologiku selalu jelek, kedua pelajaran ini kan notabene memiliki nama yang harus dihafal atau seenggaknya diingatlah. Oh iya saat itu aku dan Nesie duduk di bangku no 2, ini bangku favoritku urutan kedua atau ketiga dari depan, eh tapi ini nggak berlaku biat pasangan hidup loh ya!

Singkat cerita Ari muncul dengan kelima kawannya yang sampai sekarang juga masih kenal baik kok. Ari terlihat santai memasuki kelas seperti layaknya murid yang lain. Tiba diwaktu pelajaran tambahan hampir selesai, seperti biasa Bu Sukma akan mengeluarkan jurusnya siapa yang cepat bisa menjawab pertanyaannya akan pulang duluan. Udah tau otak aku otak udang, walhasil tinggal aku sama si Ari. Si Ari ngeliat aku yang sesekali meliriknya sambil merapalkan mantera jawaban yang sedikit banyak aku sudah lupa berharap ia menjadi pahlawan kesianganku.

***

Tapi bayanganku cuma bayangan semata, bu Sukma telah lelah melihatku terhukum di kelasku sendiri. Bu Sukma meninggalkan kelas seraya menggelengkan kepalanya berulangkali. Aku yang paham kode dari Bu Sukma segera membereskan peralatan sekolahku dan hendak beranjak keluar kelas mengingat jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Tapi ada sesuatu yang menahanku, tanganku? Ya Ari menarik tanganku dan menawarkanku untuk terapi mudah mengingat? Bagaimana aku tidak tertarik, berhubung aku juga dikejar waktu aku iyakan saja permintaannya biar cepat.

Keeseokan harinya kami bertemu sepulang sekolah, dia memperkenalkan namanya dan ya seperti pdkt pada umumnya, kamipun jadian di bulan kedua setelah proses pdkt berjalan lancar dan romantis yang kelihatan akan berlanjut ke pelaminan. Nah kami pun memulai hubungan itu hingga kuliah, aku yang kini telah menginjak semester 8 di perkuliahan. Namanya juga hubungan pasti ada masalah, begitupul pada hubungan kami. Beberapa bulan terakhir ini aku sering bedebat dengannya. Hal – hal kecil menjadi pertengkaran kecil yang berujung pada pertengkaran besar menjadi link alternatif buka4d. Aku tak tahu kenapa yang jelas kami selalu berbeda pemahaman.

Pelaminan – Hubungan kamipun memburuk seiring berjalannya waktu. Mama sudah mulai mencium bau pertengkaran kami dan tidak menyetujui jika aku terus melanjutkan hubunganku dengannya. Singkat cerita mama dan papa mengajakku untuk pindah rumah, ya bukan karena apa – apa tapi karena dinas papa yang dipindah dan sejak saat itu akupun bertekad untuk mengganti nomor handphone sehingga kami lost kontak.

Perpindahan rumah itu ternyata membawa berkah, aku bertemu dengan Nino yang merupakan pengusaha tempat langganan mamaku membeli cake. Ya nino adalah pengusaha cake yang sukses, telah banyak cabangnya yabg dibuka. Bahkan sekarang ia sedang mencoba menjalankan sebuah perusahaan ptoduksinya dibawahi sekitar 200 karyawan.

***

Nah disela – sela pdkt kami Nino bercerita jika dahulu ia punya teman yang begitu mencintai pacarnya  dan hingga saat ini dia belum bisa move on. Nino seolah menceritakan kisah Ari, tapi karena akupun sedikit belum bisa move on, aku tidak berani untuk menayakan namanya. Anggap saja orang di dunia ini juga banyak.

“Siapa namanya?” ingin kutanyakan itu.

Tapi aku takut dia berujar, “Siapa sih kamu?”

Nanti malah hatiku hancur lebur!

Penghulu sudah datang, hatiku semakin berdebar. Tidak tahu kenapa aku merasa jantungku melompat – lompat gugup. Akadpun dimulai, Nino mengucapkan dengan lantang. Setelah itu rerdengar suara orang – orang yang hadir begemuruh mengatakan sah sah. Ternyata Nino telah berhasil mengucap akad dengan baik dan benar dipelaminan. Akupun bersyukur, jantungku mulai berdetak hebat lagi. Mama menggiringgku keluar dari kamar untuk menemui Nino. Dan acara resepsi akan segera digelar. Nino tersenyum bahagia, akupun juga bahagia. Oh iya jadi untuk tamu undangan mama yang menentukan, yang jelas aku tidak mengundang Ari di pelaminan ku. Tapi bentar deh kok ada sosok yang tak asing menatapku.

“Aku ingat kata-kata terakhir Nino,” celetuk hatiku lagi.

Inginnya aku tak bermonolog, tapi apa daya hatiku terus berceloteh.

Seperti mengidentifikasiku, aku mengalihkan pandanganku, menatap Nino dan tersenyum. Tak lama Nino mengajakku untuk duduk di pelaminan yang disiapkan setelah beberapa ritual yang dilaksanakan. Aku merasa lelah sembari menyalami para tamu undangan. Tiba – tiba Nino melambaikan tangan dan memanggil nama Ari. What apa aku nggak salah dengar? Ari? Aku memberanikan diri untuk menatap kedepan dan ya benar wajah yang tak asing yang tadi menatapku ialah Ari.

Pelaminan Terakhir

Penampilannya berubah, rambutnya sedikit gondrong, dan wajahnya kurang terawat. Ya berbanding terbalik ketika ia bersmaku saat itu. Ari menghampiri pelaminan, jantungku kembali tak tenang. Nino menggenggam erat tanganku seraya berbisik ‘dia yang kuceritakan padamu, jangan khawatir aku disini bersamamu’ Nino tersenyum kearahku.

Senyumnya yang menawan membawaku untuk tersenyum juga. Ari menatapku tajam dan aku kikuk menyalaminya, untung Nino menyairkan suasana dengan canda  guraunya. Dan terlihat Ari ikut tertawa. Ya mungkin inilah takdir yang tak diundang dalam pernikahan justru datang dan sedikit merusak suasana bahagiaku dipelaminan. Tapi apa boleh buat aku telah menilih Nino sebagai imamku.

“Aku mantap dan yakin dengan kamu Nino,” ujarku pelan.

Nino tersenyum, “Aku percaya kamu, hatimu dan kesetiaanmu.”

Lalu ujarannya pun menjadi penutup hari pernikahan kami. Aku percaya takdir dan cinta akan bertemu di pelabuhannya. Selamat jalan Ari..

Kembalilah Padaku untuk Bahagiamu

kembalilah padaku

Kembalilah Padaku – Entah apa yang dipikirkan seorang gadis yang tengah mengandung itu. Pasalnya iya mencoba mengugurkan kandungannya karena frustasi dengan kejelasan ayah biologis bayi tersebut. Kehidupannya yang sangat megah karena ia menjadi putri seorang pengusaha besar di kota tersebut, membuat ia menjadi anak yang kurang akan perhatian orang tua, sehingga pergaulannya sangatlah bebas.

Mendengar berita tentang kehamilan putrinya, membuat ibu Mondi sangat syok. Tak hanya ibunya, namun ayah Mondi juga merasakan hal yang sama. Dengan nada kasar, ia memaki-maki anaknya yang tengah hamil itu.

Ibu Mondi merasa bersalah karena tidak berhasil mendidik Mondi sebagaimana mestinya. Tak kuat dengan omelan kedua orang tuanya, akhirnya Mondi pergi meninggalkan rumah tersebut.

“Ayah sangat kecewa dengan perilakumu, Mondi!”

“Maafkan aku yah.”

“Kamu telah mencoreng nama baik keluarga kita.”

“Ayah itu yang selalu memikirkan pekerjaan terus, tanpa tahu perasaan Mondi.”

“Ayah nggak mau tahu, pokoknya mulai sekarang kamu pergi dari rumah ini dan urusi kehidupan sendiri!”

Ibu mencoba menahan Mondi, namun Mondi tetap saja mengemas koper dan barang-barangnya serta buku cerpen singkat, lalu ia meninggalkan rumah yang menjadi banyak kenangan di dalamnya.

Di sepanjang jalan, Mondi menangis meratapi kesedihannya, ia mencoba menghubungi sahabat-sahabtnya. Ternyata melihat kondisi Mondi yang seperti itu tidak semua sahabatnya mau membantunya. Tetapi ia mencoba menghubungi sahabatnya itu, dan alhasil sahabat yang sangat baik dengannya merespon telponnya dan mempersilakan untuk tinggal di rumahnya sebentar saja.

“Terima kasih Ta, kamu telah membantuku.”

“Iya, sama-sama Mon.”

Beruntung, Mondi memiliki sahabat seperti Tata. Ia selalu mebantu Mondi sampai persalinan berlangsung. Namun setelah persalinan, Mondi begitu tertekan dengan kondisinya yang sekarang dan anaknya.

***

Hari-hari yang dilalui Mondi sekarang telah berbeda, ia sekarang sudah mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat lucu dan ganteng. Ia merasa tidak enak tinggal di rumah Tata dan selalu merepotkannya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari rumah Tata dan mencoba mencari tempat hunian baru.

Dengan bekal uang seadanya ia mencoba pergi ke luar daerah tempat tinggalnya. Dia sempat bermain dadu online untuk mencari peruntungan, namun gagal. Mondi kepikiran untuk pergi ke rumah neneknya yang berada di luar kota dengannya. Namun  ia memiliki niat untuk menjenguk orang tuannya terlebih dahulu.

Sesampainya di rumah yang sangat megah itu, ia disambut dengan baik oleh pak satpam yang ramah itu. Kebetulan saat itu, ibu Mondi berada di rumah. Mendengar Mondi pergi ke rumahnya, ibunya sangat terkejut dan langsung memeluknya.

Tak lama setelah melepas rindu, ayah Mondi datang dan ia sangat tidak suka dengan kehadiran Mondi bersama cucunya itu. Ia meminta Mondi keluar dari rumahnya. Tak disangka ternyata ayah Mondi masih membencinya, bahkan anak semata wayangnya tak diperbolehkan menginjakkan kaki ke rumahnya sendiri.

Betapa kecewanya hati Mondi melihat perlakuan ayah kandungnya seperti itu. Ia tak lantas berputus asa, ia melanjutkan perjalanan untuk pergi ke rumah neneknya yang lumayan jauh dari kota. Sesampainnya di rumah neneknya, Mondi langsung menghampiri dan melepas rindunya.

Tak disangka perlakuan nenek Mondi sama seperti ayahnya. Setelah mengetahui Mondi memiliki anak tanpa ikatan yang sah, neneknya sangat kecewa dan ia tidak mau meneria cucunya itu tinggal di rumahnya.

Mondi tak sanggup melewati kehidupannya yang sangatlah berliku. Ia bingung harus kemana lagi melangkahkan kakinya. Ternyata perilaku Mondi seperti itu sangat dibenci oleh keluarganya.

Kembalilah Padaku Sang Anak

Perjalanan jauh dan melelahkan, itulah yang dilewati Mondi tanpa tahu arah dan tujuan. Meskipun ia anak yang begitu nakal namun tetap memliki jiwa sosial yang tinggi. Melihat ada seorang anak yang sangat kelaparan, ia tega memberikan nasinya kepada anak itu.

Malam yang begitu gelap, dilengkapai guruyan hujan nan lebat membuat bulang yang hendak bersinar, kini meredup dengan sendirinya. Mondi berteduh di pinggir jalan dengan mengendong anaknya.

Perempuan paruh baya yang baru pulang dari tempat kerja itu menawarkan tempat tinggalnya untuk Mondi berteduh. Ajakan ibu itu diterima dengan senang hati.

“Maaf ya nak, rumah ibu sangatlah sederhana.”

“Tidak papa bu, saya berterima kasih sekali.”

Saat Mondi hendak merebahkan badannya, ia mendengar bunyi telepon handponnya. Tak disangka sang ibu menelponya untuk menanyakan kabar Mondi. Selain mendengar kabar dari anaknya, ibu Mondi juga mengabarkan bahwa ayahnya sakit dan kodisinya semakin memburuk. Menag naluri seorang ibu dan anaknya tidak akan pernah putus.

Kembalilah padaku meskipun sang ayah sangat membenci Mondi, namun ibunya malah selalu berkomunikasi dengannya, untuk memantau keadaan putri dan cucunya. Ada rasa bodo amat yang dirasakan Mondi mendengar kabar tersebut.

Saat tengah malam, ibu paruh baya itu mengajak Mondi berbincang. Mindi memceritakan segala hal yang sedang menimpanya saat ini. Ibu itu langsung meminta Mondi untuk selalu berdoa dan berusaha.

Saran ibu itu terus Mondi pegang selama hidupnya. Perubahan kehidupan yang selalu ia rasakan setiap saat. Dia mencoba untuk melamar pekerjaan di berbagai tempat. Alhasil ia diterima di sebuah perusahaan bergengsi. Mengingat ia pernah mengenyam pendidikan strata 1 di luar negeri dengan hasil yang memuaskan.

***

Hari-hari ia leati dengan terus bekerja di perusahaan tersebut demi menghidupi anak dn seorang ibu paruh baya yang telah menolongnya dan mendidik seperti anak sendiri. Kembalilah padaku dengan kerja giatnya tersebut, Mondi berhasil dipercaya untuk memegang perusahaan. Selain bekerja ia mengasah pengalamannya dengan menjadi motivator di setiap acara. Ia berhasil membagikan pengalaman yang berharga tersebut ke banyak orang.

Kembalilah padaku – Harapannya dengan ia berbagi, banyak orang yang terinspirasi dan tidak mudah putus asa dengan segala cobaan yang dihadapi. Pastilah Allah memberikan hikmah yang ada di dalamnya.

Setelah mengisi sebuah acara, ia mendapat telpon dari ibunya untuk datang ke rumah. Mengingat keadaan ayahnya semakin parah. Mondi langsung pergi ke rumah ibunya. Namun kedatangan Mondi tetap saja ditolak oleh ayahnya, ia tak suka Mondi berada di dekatnya. Hati Mondi terus dipertaruhkan untuk menahan emosinya dan selalu sabar.

Mondi akhirnya pergi dari rumah tesebut, karena kedatangannya ditolak oleh ayahnya. Ia mencoba bercerita  dengan ibu yang telah menolongnya.

“Bu, apa yang harus aku lakukan biar ayah tak membenciku lagi.”

“Tenang saja nak, ini karena belum waktunya. Apabila waktu telah berpihak kepadamu, pasti ayahmu akan segera berdamai denganmu.”

Mondi terus berkomunikasi dengan ibu kandungan untuk terus memantau keadaan ayahnya. Mondi selalu meminta agar diberikan kemudahan untuk bertemu dengan ayahnya dan kembalilah padaku.

Saat ia dipanggil untuk memberikan motivasi di sebuah kampus. Ada seorang mahasiswa yang memang sangat mengidolakan Mondi, hingga ia ingin bertemu dengannya.

Betapa beruntungnya anak itu, berhasil dengan sosok idolanya. Anak itu bercerita dengan Mondi, dan ia menceritakan keadaan yang dirasakan ternyata jauh dari kesedihan apa yang dialami Mondi. Anak itu hanya berpesan kepada Mondi, untuk melelahkan perasaan seseorang lewat doa.

Kembalilah padaku nasihat baik itu menjadi insipasi Mondi, Ia selalu berdoa setiap waktu tentang ayahnya. Doa yang selalu i panjatkan berulang-ulang ternayata didengar oleh Allah. Akhirnya ia mendapat kabar dari ibunya, bahwa ayahnya benar-benar ingin ketemu dengan Mondi. Setelah pertemuan seorang anak kandung dan ayah kandung tersebut, betapa bahagiannya pertemuan yang terjadi atas Ridho-Nya.

Jika Cinta Adalah Mata, Maka Engkau Akan Jadi Cahaya

cahaya

Cahaya senja di sore itu dapat dirasaka seorang gadis mungil yang sering dipanggil dengan sebutan Ineke. Parasnya yang cantik dan menawan menjadikan para pemuda mana pun merasa terkagum melihatnya.

Namun sayangnya kekaguman para pemuda tersebut tidak mampu mendatangkan daya tarik bagi mereka untuk memiliki gadis berkulit putih itu. Hal ini dikarenakan Ineke memiliki kekurangan dibagian indra penglihatan yang tidak bisa melihat atau buta.

Meskipun demikian, Ineke sepertinya sudah terbiasa dengan respon para pemuda yang mendekatinya. Ineke terbiasanya dengan kesendiriannya tanpa seorang teman yang mendampinginya terkecualinya sang ibunda tercinta dan adik perempuannya.

Oleh sebab itulah yang menjadikan gadis berambut panjang itu tidak ingin pergi keluar untuk bersosialisasi dengan teman-temanya, karena Ineke merasa mider akan kekurangan pada dirinya.

Suatu ketika, ibunda Ineke mendatangi gadis mungil itu di teras depan rumah yang sedang asik merasakan suasana dingin pegunungan di rumahnya. “Ineke, ibu tahu, kamu membutuhkan teman nak.

Kamu tidak mungkin akan terus-terusan berdiam di rumah. Bagaimana kalau besok kamu kembali bersekolah lagi?” tanya sang ibunda sambil mengelus rambut panjang Ineke.

***

Gadis berusia 17 tahun itu pun hanya menggelengkan kepala, memberikan isyarat bahwa dirinya tidak ingin kembali bersekolah. Setelah kejadian tragis 3 bulan yang lalu, yang menjadikan Ineke harus mengalami kerusakan pada bagian kornea matanya.

Saat itu juga Ineke memutuskan untuk berhenti bersekolah, karena dirinya menganggap bahwa tidak ada gunanya lagi sekolah kalau dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.

Meneteslah air mata Ineke ketika dirinya harus mengingat akan kejadian ketika matanya tidak berfungsi lagi akibat penggunaan soflens kadaluarsa berkepanjangan.

Cahaya Sang Bunda

Ibunda Ineke memeluknya dari samping, mendekapnya dengan sangat kencang. Melihat air matanya yang jatuh perlahan membasahi pipi gadis kelahiran Bandung itu, hati sang Ibunda seperti ditusuk-tusuk.

Apalagi ketika Ineke lebih sering berdiam di kamar, kadang-kadang hanya keluar di teras rumah untuk menikmati suasana senja.

Hal yang tidak pernah di tinggalkan ketika Ineke masih bisa melihat dengan normal. Ketika Ineke menyadari kekurangan yang menimpa pada dirinya, menjadikan dirinya sering mengurung diri dan tidak ingin ditemui oleh siapa pun.

Termasuk teman-teman SMA nya dan pria tampan yang menjadi gebetannya ketika masih duduk di bangku sekolah. Namun sayangnya kini dirinya tidak lagi bisa melihat paras tampan sang pemuda itu.

“Andaika saja Ineke mau mendengarkan ibunda waktu itu, pasti Ineke tidak akan mengalami pengalaman seburuk ini”

Air mata Ineke semakin mengalir deras. Hanya tinggal penyesalan saja, namun apalah daya, kalau kejadian yang lalu sudah menjadi bubur dan tidak akan diputar ulang kembali.

Terlebih lagi dokter sudah memvonis bahwa mata Ineke sudah rusak parah akibat Soflens kadaluarsa yang digunakan Ineke dan Ineke tidak dapat disembuhkan terkecuali melalui operasi.

Sedangkan operasi pun juga tidak mudah, karena masih membutuhkan donor mata yang harganya tidak murah, harus melihat dari kecocokan mata tersebut dan jalan operasi pun juga belum pasti berhasil, karena kegagalan operasi dapat saja terjadi dan tidak dapat diprediksi seperti prediksi bola.

***

“Sudahlah sayang, jadikan ini sebagai pelajaran. Ketahuilah, bahwa tidak ada seorang ibu yang akan menjerumuskan anaknya. Suatu saat nanti kamu akan merasakan bagiamana menjadi seorang ibu” jawab sang Ibunda dengan nada yang sangat lembut.

“Tidak mungkin aku bisa menjadi seorang ibu.. tidak ada pemuda yang mau menikahi gadis buta seperti aku bu.. aku tidak bisa menjadi istri yang baik karena untuk mengurus diriku sendiri saja aku belum bisa, apalagi harus megurus suami dan anak-anaku nanti?”

Perbincangan antara anak dan ibunda itu pun harus terputus ketika datang seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah gebetan Ineke semasa duduk dibangku sekolah dulu. Kehadirannya memang tidak diketahui oleh Ineke dan Pria tampan bernama Latif itu pun duduk di samping Ineke dan terus mendengarkan curhatan cahaya Ineke.

“Bu.. hingga umur 17 tahun ini, Ineke pernah merasakan jatuh cinta sekali, yaitu pada pria tampan yang ada di kelas. Rasa cinta itu tumbuh saat kelas 1 SMA dan saat itu pria itu menjadi ketua kelas.

Cara dia memimpin di kelas, kecerdasannya, cara dia main basket, cara dia membaca cerpen singkat membuat aku terpana bu.. ingin sekali aku mengungkapkan rasa cintaku padanya, tapi aku malu. Saat ini, aku rindu dia bu, entah mengapa rasanya aku ingin bertemu, tapi Ineke takut, takut dia melihat keadaan ku saat ini”.

Sang ibu pun tersenyum hangat melihat putrinya yang ternyata sedang jatuh cinta namun tidak memiliki keberanian untuk mengungkapnya. Sang ibu pun juga melirik Latif yang sedari tadi disamping Ineke meskipun gadis yang mengalami cahaya kebutaan 3 bulan yang lalu tidak menyadari keberadaan Latif yang sudah mendengarkan curahan hatinya.

“Bagaimana sikap dia ke kamu?” tanya sang ibu penasaran

“Dia orangnya baik bu, perhatian bangte ke Ineke, bahkan saat jam istirahat dia selalu mengajaku ke kantin”

***

Mendengar sedikit cerita singkat dari Inneke, Latif sudah bisa menyimpulkan, bahwa pria tampan yang dimaksudnya itu adalah dirinya. Pria yang jago bermain basket itu pun hanya tersenyum malu. Pria yang memiliki cahaya hidup.

“kalau di baik, dia pasti akan mencarimu” jawab sang ibu

Ineke kemudian menggelengkan kepalanya

“Itu kan waku Ineke masih bisa melihat bu, sekarang, mana mungkin dia mau menerima keadaanku yang seperti ini” jawab Ineke dengan raut wajah iba.

“Katamu dia baik, apa yang membuat kamu yakin kalau dia akan menjauhimu saat melihat keadaanmu sekarang?” tanya lagi sang ibu

“Karena di orangnya tampan, berprestasi, jago basket, banyak wanita yang menginginkannya untuk dijadikan sebagai pacar.” Jawab Ineke diiringi senyum simpul.

“Nak.. apa yang kamu fikirkan itu tidak benar.. pria yang kau anggap tampan itu, pria yang sering kali mengajakmu ke kantin, pria yang jago basket itu, bukanlah pria yang melihatmu dari segi fisik.

Bahkan dirinya sudah mengetahui kondisi mu yang sekarang, namun dirinya tidak meninggalkanmu, justru dia sering kesini menemuimu dan mengirimkan bunga untuk mu setiap sorenya.

***

Bunga yang selalu kau cium kesegarannya di sore hari, dialah yang mengirimkan. Saat ini, dia ada disebelahmu” ucap sang bunda.

Dengan perasaan yang kaget, Ineke pun tersipu malu karena pria gebetannya sudah sedari tadi duduk di sampingnya. Digenggamlah tangan Ineke oleh Latif.

“Aku mencintaimu dari awal kita masuk SMA dan hari ini aku akan membuktikan bahwa apa yang ada dipikiranmu perihal kejelekanku itu tidak benar. Aku menerimamu apa adanya, apa pun kondisimu.

Aku minta, jangan mengurung diri terus di rumah, sudah saatnya kamu kembali ke sekolah, aku akan membantumu sepenuhnya. Kamu tidak perlu malu, karena aku yang akan menemanimu kemana pun kau pergi.

Sebentar lagi kita akan lulus, aku janji, 2 tahun lagi aku akan datang ke tempat ini lagi bersama bapak ibuku untuk meminangmu”.

Meneteslah air mata bahagia dari Ineke dan kejadian romantis tak terduga ini pun disaksikan oleh sang ibunda Ineke yang merasa kagum akan perjuangan dan ketulusan cahaya hati Latif.

12 Hari Di Bulan Juli

bulan juli

Bulan Juli – Kalau ingat Bulan Juli, aku jadi ingat nano-nano. Rame rasanya hahaha. Mulai dari manis, asin, asem sampai pahit ada. Sama seperti hari-hariku di Bulan Juli, mulai dari senangnya diterima di kampus favorit lewat jalur SNMPTN sampai kelamnya hari-hariku saat ospek dan hal tidak terduga lainnya. Oh ya sebelumnya kenalin aku Sena Farhana.

Kalau orang rumah suka manggil Serena alias nama snack crackers gitu kalau kalian tau yang ada gambar prajurit Inggrisnya karena aku sesuka itu sama snack renyah dan gurih itu waktu masih kecil. Kalau temen-temen sekolah sampai temen kuliah manggilnya  ya Sena aja. Jadi asalku dari Garut. Aku lagi kuliah semester kedua di Universitas Mahardika Depok. Aku ngambil jurusan pendidikan keolahragaan. Jadi mayoritas mahasiswa disini kalau yang cowok ya kekar gitu. Kalau yang cewek dempal gitu hehehhe.

Jadi dalam 1 tahun kan ada 365 hari. Nah aku Cuma bisa highlight bagian Bulan Juli aja. So here we are.

Hari ke 1: Hari ini hari ulang tahun papa. Aku sama mama udah nyiapin surprise yang pastinya bakal bikin papa seneng banget di hari spesialnya. Karena papa biasa pulang malem, jadi aku sama mama udah ngedekor rumah bikin surprise papa. Mama juga udah ngundang saudara-saudara terdekat. Waktu malem papa datang, tadaaaaaaaa, muka papa lucu banget, melongo gitu. Saking sibuknya papa sampai lupa tanggal ulang tahunnya sendiri. Trus kita pelukan deh. setelah itu kita makan bareng. Pokoknya menu yang ada diatas meja makan menu favorit papa semua hehehe. Happy Birthday my first love in this world. Wish you all the best in this universe with us.  I love you papa

Bulan Juli Hari Ke-2

Hari ke 2: Sisa perayaan ulang tahun papa belum diberesin tadi malem. Jadi hari ini aku bantuin mama bersihin meja makan sama sisa dekorasi. Trus ada bunyi bel. Akhirnya aku buka pintu. Ternyata ada kiriman paket untuk AKU. Dalam hati aku ngomong sendiri “Wait kok aku sih. Kan yang ulang tahun papa. Lagian aku juga nggak belanja online apa-apa bulan juli ini, but yaudahlah terima dulu aja”

Jadi pas ku buka ternyata isi foto aku sama Revan (cowokku yang udah meninggal) yang udah di remes-remas dan dicoret-coret. Dan nggak ada nama pengirimnya. Aku bingung banget dan nggak ngerti salah aku apa sampai ada yang neror kayak gitu.

Hari ke 3: Aku pergi ke sekolah untuk ngurus surat apa gitu aku lupa. Jadi hari ini agak B aja gitu. Sempat juga membaca cerpen singkat di koridor sekolah. So next.

Hari ke 4: Di grup angkatan udah pada heboh aja soalnya tugas ospek barusan di upload di website resmi kampus. Jadi aku coba untuk bikin catatan buat belanja keperluan ospek bareng temenku. Namanya Ken. Dia mah udah kayak abang sendiri. Manusia yang paling sering kurepotkan di dunia ini hehehe

Hari ke 5: baru tugas ospek kampus nih. Badan udah pegel-pegel, mata udah berkantung. Ribet banget sumpah. Nggak kebayang tugasnya ospek fakultas sama jurusan ntar kayak gimana huhuuu.

Hari ke 6: di grup angkatan heboh banget parah. Sedangkan diriku yang nggak suka keramaian memilih untuk mute grup. Nggak jelas gitu yang dibahas sama anak-anak. Mending aku baca-baca berita online.

***

Hari ke 7: mama ngajakin shopping. Yay it’s my day. Kalau udah sama mama mah aman. No limit. Tapi ya tau diri aja hehehe. Jadi aku belanja baju-baju yang sekiranya pas buat ngampus gitu. Pas di fitting room, aku dengar suara yang cukup familiar. And yup  dia kakak tingkatku di SMA kemarin. 180 derajat beda banget. Dia dlu tuh anggun, kalem gitu. Sekarang rambutnya udah warna-warni kayak ayam alay, eh kayak pelangi eh gatau deh. Ngomongnya kenceng-kenceng kayak bodo amat banget gitu sama orang-orang sekitar. Pas papasan sama aku masak dia nggak bales sapaan aku dong. Aneh banget pokoknya.

Hari ke 8: hari ini 100 harinya Revan meninggal. Jadi aku berencana untuk datang ke makamnya. Waktu sampai di makam, aku kaget dong. Kakak tingkatku yang kemarin kita papasan di mall lagi ngunjungin makan Revan juga. Pas aku samperin, dia udah keburu pergi.

Hari ke 9: Ospeeekkk. Yang bener aja dong berangkat ospek jam 4 pagi aku. Ini mata masih sepet banget ya ampun. Papa nganterin aku sampai depan kampus. Di lapangan udah ada ribuan mahasiswa pake hitam putih dengan atribut ospek yang so much embarrassing. aku nggak ngeliat banyak manfaat dari acara ospek yang kayak gini-gini sih, tapi yaudahlah.

Hari ke 10: ospek hari kedua  dengan tugas yang baru diupload tadi malem jam 8. Nice. Mata berkantungku semakin parah ya Tuhan. Sampai-sampai di kampus aku pingsan dong karena darahku terlalu rendah. Di pos kesehatan, yang ngurusin aku ternyata kakak tingkat aku itu. Akhirnya aku coba nanya dong. Karena sebenarnya dia dulu temennya Revan. Tapi setelah aku sama Revan jadian, dia jadi menjauh gitu sama Revan. Dia pura-pura nggak dengar dan pergi gitu aja.

***

Hari ke 11: nggak bisa banget aku tuh kalau ada masalah sama orang tapi nggak jelas masalahnya apa. Jadi aku bener-bener harus nyamperin kakak tingkat aku untuk ngobrol. Akhiirnya aku pura-pura sakit lagi di hari terakhir ospek biar bisa  ketemu sama dia. Pas di pos kesehatan, aku langsung nge gap dia biar nggak bisa kemana-mana. Akhirnya aku nanya kenapa sikapp dia aneh banget semenjak aku jadian sama Revan. Awalnya dia nggak mau ngomong sama sekali. Tapi setelah kudesak, dia mau ngomong. Dia bilang kalau sebenarnya yang neror aku waktu itu ya dia. Dia itu udah dijodohin sama orangtua Revan buat nikah sama Revan. Tapi Revan suka nya malah sama aku. Jadi dia sakit hati banget sama aku. Dan tiba-tiba aku pusing banget dan shock akhirnya aku pingsan.

Hari ke 12: waktu aku bangun ternyata aku udah di di rumah sakit. Dan mama papa ku udah stay disamping kasur dengan muka pucatnya dan sambil memegang dompet hermes. Yang mama matanya udah bengkak karena kebanyakan nangis sepertinya.  Trus aku nanya sama mama, memang aku sakit apa kok tiba-tiba di rumah sakit. Karena mama sama papa nggak kuat bilang akhirnya Ken yang bilang. Kalo aku kena HIV. Berasa kayak petir nyamber. Ini aneh banget gituloh. Aku nggak pernah pake obat-obat terlarang apalagi sampe free-sex. Dan ternyata kakak tingkat aku waktu aku pingsan yang pertama, dia transfuse darahnya ke tubuh aku. Psycho banget tuh orang. Tapi dia udah ditangkap polisi. Aku Cuma bisa nangis sekarang. Aku udah kena HIV. HIV. Bahkan aku nggak pernah terfikirkan kalau bakal mengidap penyakit ini dengan sebab yang nggak masuk akal banget. Jadi papa memutuskan untuk mindahin aku ke luar negeri sekaligus berobat. Bulan Juli yang pahit.

Setidaknya Pernah Merasakan Sakit Hati

sakit hati

Sakit Hati – “Kita break saja dulu, tapi kita masih bisa balikan lagi kok.” Kak Adit mencoba menenangkanku. Tapi itu bukan membuatku tenang, yang ada Aku tambah sedih. Itu sama saja dia menggantungkanku. Aku tak percaya dia akan berkata seperti itu.

“Lagi apa?” Kak Adit mengirimkan pesan sore itu.

“Nyetrika.”

“Ya udah lanjutin dulu.”

“Ya.”

Tak ada balasan lagi darinya. Aku memang lagi nyetrika, tapi mataku tak henti-henti memandangi hp yang tak kunjung berdering. Biasanya dia selalu membalas pesanku. Aku benar-benar tak tahan.

“Kok gak dibales?”

“Beb, aku boleh bilang sesuatu?”, gaya bicaranya lain dari biasanya.

“Boleh, apa kak?”

“Kok rasanya sekarang beda ya?”

“Iya, gak tau nih aku juga ngerasain hal yang sama, kayak bosan.”  Tanpa pikir panjang aku jawab saja begitu. Sebenernya aku berharap dia akan membujukku agar aku tidak bosan, tapi….

“Ternyata kamu juga gitu.”

“Iya.” Aku menjawab dengan agak ngambek sebenarnya.

Kenapa tidak ada balasan lagi? Sepertinya dia bener-bener pengen bikin Aku ngambek.

Pagi ini aku berangkat sekolah seperti biasa, walau perasaanku kacau balau karna kamarin sore, ditambah lagi semalaman tidak ada kabar darinya. Setahun aku pacaran dengannya belum pernah seperti ini. Dia tidak pernah mengabaikan pesanku barang sekali.

Jam pertama Senin pagi ini adalah Matematika. Pelajaran yang selalu saja aku sukai sejak SD. Memang pelajarannya masih menarik seperti biasanya, tapi entah kenapa aku melamun tidak memperhatikan penjelasan guru di kelas. Pikiranku masih memikirkan reaksi Kak Adit kemarin sore. Ada apa dengannya? Sepanjang hari memikirkan kemungkinan-kemungkinan tidak jelas, membaca cerpen singkat pun tidak sampai habis. Tidak terasa sudah pukul 2 siang.

***

Kegiatan di sekolah hari ini di sekolah berakhir seperti tanpa bekas, dan tidak menyenangkan. Di sepanjang waktu Aku hanya diam meski teman-teman mengajakku bercanda. Ah pokoknya Aku harus pulang cepat hari ini. Walaupun berdesakan aku tetap ikut angkot pertama. Sementara cuaca di atas sana nampak mendung, membuat daerah kaki Gunung Merbabu ini semakin dingin.

“Kiri, Bang.”  Aku segera meminta Pak Sopir untuk menurunkanku di depan rumah. Dua ribu rupiah aku ulurkan padanya. Hujan mulai turun senada dengan langkahku yang semakin cepat menuju beranda rumah. Sempat di daun pintu kakak menegurku karna tak mengucap salam. Tak mau mendengarnya lama-lama mengoceh, segera aku lari ke kamar. Kuhempaskan tas di sembarang tempat, sedang Aku berbaring di atas kasur sambil mengatur nafas yang terengah-engah dan mengipas menggunakan buku mimpi yang sering kubaca.

Ini sekitar jam empat sore, hujan belum mau berhenti turun. Saat ini juga tiba-tiba Kak Adit dengan vespa kunonya menerobos lebatnya hujan di halaman rumahku. Mantel ungu miliknya sangat bisa aku kenali. Dia pasti baru saja pulang dari kampus. Pacarku ini memang seniorku. Dia sekarang sudah masuk semester empat di salah satu kampus swasta di kotaku. Rasanya sangat senang sekali, setelah kemarin tidak ada kabar ehh.. sekarang dia berdiri di depan rumah. Aku mendelik dibalik korden kamar mengintip Ibu membukakan pintu untuknya.

“Ca, itu nak Adit datang.”, itulah kebiasaan Ibu, tidak mau mengobrol dengan Kak Adit terlalu lama.

Tanpa menjawab aku langsung berjalan ke ruang tamu. Aku sudah membayangkan ekspresi bersalahnya padaku. Aku senyum-senyum, antara senang dan geli melihat kelakuanku sendiri. Setibanya di ruang tamu Aku memanyunkan bibir tanda merajuk.

Rasanya Sakit Hati

Tapi dia malah tidak ada respon menggodaku seperti biasa. Aku merasa dia lebih bersikap dingin dan seperti tamu biasa. Entah kenapa aku masih saja senyum sana senyum sini padahal sudah jelas dia lagi BT.

“Ca, aku mau ngomong sesuatu.”, kelihatannya dia benar-benar serius kali ini. Ekspresinya datar. Tumben juga dia memanggil namaku biasanya kan panggilan kesayangan “Babe”.

“Apa? Kok kayaknya sekarang beda gitu.”, kali ini aku tidak tahan dengan sikapnya yang terlalu dingin.

“Iya. Aku rasa kita udahan aja.” Ekspresinya itu tetep aja datar. Ada sedikit keraguan di matanya.

“Maksudnya gimana kak?”  Aku kaget mendengar perkataan Kak Adit tadi. Aku gak bisa percaya dia sampai hati bilang begitu. Apa benar-benar kita akan putus?

Suasana jadi terasa hening walaupun di luar sana hujan deras belum juga reda. Aku hanya menatap meja yang diatasnya ada secangkir teh hangat buatan Ibu tadi. Sesekali aku menatap jendela yang yang terbuka. Hujan masih turun lebat. Aku teringat awal mula kedekatanku dengannya. Tidak pernah menyangka kalau akhirnya kita saling menyukai. Dia bahkan rela berhujan-hujan dan memberikan mantelnya untukku. Dia juga rela hujan-hujanan demi mengantarkan prakaryaku yang ketinggalan.

“Kakak bosen ya sama aku?” Aku mencoba memecah keheningan.

Dia hanya mengangguk. Rasanya sakit sekali, benar-benar nggak nyangka. Apa ini yang namanya sakit hati? Aku harus bagaimana? Aku nggak mau putus.

“Emang Aku ada salah ya kak? Apa Aku egois.”

“Nggak. Aku hanya bosan aja.”  Kali ini raut wajahnya benar-benar menunjukkan apa yang dia katakan.

“Emang nggak ada rasa sayang?”

“Dulu Ca.”

“Sekarang gak sayang lagi?”

“Masih, tapi aku bosen Ca. Ngerti sendiri kan Ca kalo orang bosen tu kaya apa? Gak enak. Mendingan kita break dulu aja.”

***

Tiba-tiba Ayah muncul dari balik pintu. Entah dengar atau tidak percakapan kami, tapi Ayah hanya menyapa Kak Adit lalu menuju ke menuju ke beranda.

“Kakak serius?” Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Rasanya sesak sekali dan sakit hati.

“Kita break aja dulu, tapi kita masih bisa balikan lagi kok.” Kak Adit mencoba menenangkanku. Tapi itu bukan membuatku tenang, yang ada Aku tambah sedih. Itu sama saja dia menggantungkanku. Dadaku rasanya sesak, sedang mataku lembab. Apakah Aku akan menangis?

“Pokoknya Aku gak mau kita udahan. Aku pengen sama kakak terus. Aku sayang sama kakak. Kakak tahu gak siapa pacar pertamaku?”, Aku ingin membuatnya tahu bahwa dia adalah pacar pertamaku.

“Aku nggak bisa.”, Dia bahkan tidak menatapku. Sekarang aku sadar betapa seriusnya permintaan putus itu.

“Aku pulang dulu, Ca.”  Dia langsung berdiri tanpa menghiraukan Aku.

Di depan sudah  tidak hujan lagi. Hanya rintik-rintik kecil yang masih terdengar.

“Pokoknya kita gak putus lho kak, besok Kakak ke sini lagi ya.” Aku masih membujuknya dengan sakit hati.

“Enggak, Ca.”, tanpa menghiraukanku dia memakai mantel hujan dan pergi meninggalkanku sendiri di halaman rumah dengan perasaan sakit hati.

“Kak.” Aku mencoba mengirim pesan ke Kak Adit.

Lima menit kemudian aku mengirim banyak pesan singkat lainnya. Bahkan Aku beberapa kali bilang sayang padanya dan tidak ingin putus. Tetap tidak ada jawaban. Siang harinya saat aku pulang sekolah, aku menyempatkan diri ke toko fotokopi depan kampus Kak Adit. Aku akan menunggunya sampai jam kuliahnya selesai.

“Neng, nungguin Mas Adit ya?”, sapa abang penjaga toko. Kak Adit adalah langganan di tokonya, dan dia sudah beberapa kali melihatku bersama Kak Adit.

“Iya, Bang.”

“Adiknya ya, Neng?”

“Bukan dong. Emang kaya adiknya ya, Bang? Padahal pacarnya loh.”, Aku nggak terima dianggap adiknya Kak Adit.

“Lah, Neng itu siapa yang sama Mas Adit sekarang?”, tunjuknya ke arah gerbang kampus.

Saatnya Bertemu Calon Suami

suami istri

Calon Suami – Menjadi seorang yang berambisi selalunya memiliki kelemahan. Termasuk dalam menghitung umur. Bukan, Lebih lepatnya tidak tahu apa yang harus dilakukan pada saat menginjak usia kepala tiga. Contohnya Aku. Bagiku, umur tidak boleh menjadi pertimbangan dalam kehidupan. Yang terpenting, lakukan segala sesuatu yang diinginkan, didambakan, atau diimpikan.

Kata pepatah kan hidup hanya sekali, rasanya segala sesuatu harus dicapai sebelum beranjak tua dan pensiun. Tapi, beda dengan Ayah. Beliau maunya Aku buru-buru menikah, jadi akan ada suami yang menjaga siang malam menggantikannya.

Pagi ini seperti biasa Aku masih santai di ranjang hendak berlama-lama surfing internet di depan laptop melihat fc baku prediksi bola. Sebenarnya bukan lupa kalau pagi ini ada acara penting, tapi anehnya Aku benar-benar berharap amnesia sekali ini saja. Agar Aku lupa dan tidak menjadi grogi.

Sudah pukul tujuh. Aku masih merenung merakit-rakit rencana. Apa Aku kabur saja?  Ah tidak bisa. Di luar pasti sudah ramai kerumunan orang mempersiapkan hidangan untuk prosesi lamaran nanti.

Cklek… Pintu terbuka. Dibaliknya melongo seorang perempuan paruh baya dengan dandanan menornya.

“Nessa, kamu nggak hilang ingatan kan?” Ekspresinya Tante Lina benar-benar menyebalkan.

“Harapanku gitu, Tan.”

“Buruan mandi siap-siap ih. Apa jadinya kalau calon mantu liat kamu yang amburadul begini.” Dia mulai bercuitan menceramahi dan menarik laptop dari pangkuanku.

“Tan, kalau Aku kabur gimana?”, tanyaku polos.

“Mau kabur kemana Nessa? Coba kasih tau mau kemana.”, nadanya mulai meremehkan.

“Ya kabur masak ngasih tau mau kemana.”, Aku melirik sekilas ke arah jendela yang sekarang sudah terbuka tirainya.

“Dengar ya, Ness. Calon suamimu itu orang baik, anak berpendidikan, dan yang paling penting sudah dekat denganmu semasa kecil jadi kamu pasti sudah bisa menyesuaikan diri dengannya.”, cerocos Tante sambil membereskan selimutku.

***

“Aku sudah lupa masa kecilku seperti apa Tan, dan lagi Aku nggak tau bagaimana kehidupannya sekarang.” Aku terus berusaha meyakinkan Tante bahwa perjodohan mencari suami ini bukan jalan yang tepat seperti cerita dalam cerpen singkat.

“Nanti setelah lamaran kan masih ada waktu buat pendekatan. Ah, kamu ini cari-cari alasan terus. Sudah sana mandi, awas kalau Tante balik kesini kamu masih kaya gini. Tante suruh nak Angga yang jemput kamu ke sini.”

Masih kupandangi punggung Tante sampai menghilang di balik pintu. Apa ini benar-benar saatnya Aku bertemu calon suamiku? Sebetulnya Aku tidak ada masalah dengan kepribadian Angga. Dia adalah keponakan suaminya Tante Lina. Jadi bisa dibilang, keponakan Tante Lina ini akan dinikahkan dengan keponakan suaminya Tante Lina. Sejauh ini, kata Ayah dia orangnya sopan. Beberapa kali sering main ke rumah sekalian nganter Tante Lina. Aku di Jakarta, otomatis nggak tau benar tidaknya. Yang pasti Ayah sudah sangat suka, sampai-sampai nggak ngasih kesempatan Aku mencari jodohku sendiri.

Hidup di Jakarta menyambung study sekaligus meniti karir menjadi akuntan publik benar-benar sudah menguras seluruh waktuku. Apalagi ini baru masuk tahun ke-2 Aku menjadi Akuntan Publik senior. Inilah yang menjadi salah satu alasan penolakanku pada perjodohan Ayah yang hendak mencarikan suami pendamping hidupku. Aku masih bercita-cita untuk membuka kantor akuntan publik milikku sendiri.

Tapi, Ayah tau kapan harus menggunakan senjata ampuhnya. Dengan penuh iba memintaku untuk tidak menolak lamaran ini, beliau benar-benar sudah merontokkan secercah ambisiku.

“Nessa, Ayah mau melihat ada yang menjagamu sebelum maut datang menemuiku. Kalau-kalau besok memang sudah waktunya, Ayah tidak akan sedih karena hari ini kamu sudah dipinang suamimu. Apalagi jika sampai sudah punya momongan,

Sang Suami Idaman

Mamamu pun akan bahagia jika memang sudah waktunya dipanggil Yang Maha Kuasa. Nak Angga dua minggu dari sekarang akan datang ke rumah untuk melamar. Pastikan kamu mengambil cuti.”

Begitulah kira-kira pesan panjang Ayah melalui pesan singkat. Aku yang hari itu lembur pun tidak ditanyai keadaan fisik dan jiwaku. Saat ku telepon, beliau tetap bersikukuh dengan permintaannya.

“Ness, cantik deh! Pasti Nak Angga terkagum-kagum lihat kamu.” Tante sedari tadi cekikikan, bangga melihat hasil karyanya di wajahku.

“Udah selesai. Yuk buruan keluar!” Tante Lina menggandeng lenganku menuju ruang pertemuan.

Kulihat sudah banyak orang. Di sisi kiri terlihat rombongan asing, kurasa itulah rombongan Mas Angga. Sementara di sisi kanan, disana duduk Ayah, Mama, Paman Isan, dan beberapa keluarga lainnya dari Mama. Tante Lina membawaku ke tengah-tengah antara Ayah dan Mama. Kurasa Mama jatuh cinta padaku, dari tadi senyum-senyum terus melihatku. Sementara Tante Lina sudah duduk di samping Paman Isan.

Aku belum berani menatap ke depan. Aku masih menunduk menatap beberapa hidangan dan hadiah-hadiah yang dibawa rombongan Mas Angga. Di depanku ini pasti yang namanya Mas Angga sang calon suamiku. Seperti apa ya wajahnya? Wajah masa kecilnya saja Aku sudah lupa. Apa dia ganteng? Apa malah udah kelihatan tua?

Mama menyenggol lenganku sambil memberi isyarat agar Aku melihat ke depan. Saat Aku memberanikan diri melihat ke depan, laki-laki itu sepertinya sedari tadi sudah menatapku. Ah Aku makin grogi.

Selama proses lamaran Aku kebanyakan diam, hanya menjawab sesekali ketika Ayahnya Mas Angga bertanya bagaimana keadaanku selama di Jakarta. Mas Angga sendiri tidak banyak bicara juga, hanya sesekali senyum saat Aku bicara dengan Ayahnya. Setelah proses lamaran selesai pun, dia nggak menemuiku. Hanya titip pesan ke Tante kalau besok calon suami akan datang mengajakku jalan-jalan.

***

Pokoknya hari ini Aku tidak mau sibuk memikirkan kehidupan pernikahan dan semua tentang Mas Angga sang calon suami. Kurasa mengikuti arus tanpa melibatkan perasaan akan lebih baik untuk sekarang. Malam ini setelah makan Aku hanya akan diam di depan laptop dan tidak keluar-keluar. Aku perlu menjernihkan otak yang sedari tadi linglung. Sesekali pikiran tentang Mas Angga muncul. Kuhilangkan lagi. Muncul lagi, lagi, dan lagi.

Ting…

Bunyi pesan masuk mengagetkanku. Aih, sepertinya Aku terlalu dalam memikirkan Mas Angga calon suamiku, sampai-sampai merasa dia mengirimiku pesan. Tapi Aku salah. Beberapa menit kemudian, ada telepon masuk. Dan itu nomor yang tadi.

“Hallo!”, suara di seberang sana menyapaku.

“Hallo!”, grogiku kambuh lagi. Ini benar-benar dia? Mas Angga?

“Nessa, maaf ya tadi Aku nggak sempat menemuimu. Adiknya Ayah, Om Bima minta bantuin temuin client-nya.”, nada bicaranya benar-benar seperti sudah dekat denganku sekian lama. Dan lagi, dia tau isi pikiranku. Ah betapa malunya Aku pada diri sendiri.

“Ah iya Mas, nggak apa-apa.”, ya, Aku mengerti sekali alasannya. Lagi pun, nggak wajib juga dia menemuiku kan.

“Tadi Aku minta tolong sama Tante Lina buat bilang ke kamu kalau besok Aku mau ajak jalan-jalan.”

“Tadi Tante udah bilang ke Aku kok.”

“Jadi gimana? Nessa bisa kan?”, duh cara bicaranya benar-benar sopan dan lembut.

“Nessa bisa aja sih.”, Aku mencoba calm biar nggak terlalu kaku.

“Okay. Sampai ketemu besok ya Ness.”

“Okay, Mas.”

“Oh iya, Ness. Sebenernya ini bukan perjodohan. Bukan Ayah Nessa yang mau kita menikah, tapi Mas Angga sendiri yang berniat melamar Nessa.”

What?

Repertoar Hujan: Hujan dan Pencarian Makna Hidup

hujan

Repertoar Hujan : “…Tuhan menciptakan aku untuk mencintai hujan…”

Aku masih berada dalam kebebasan dalam diriku. Benar—aku tidak terikat oleh apapun. Bebas melakukan apa yang aku inginkan. Dan yang  penting semua tindakan aku cap menjadi sebuah kebenaran. Aku tidak terlibat konformitas dengan lingkungan apapun. Semua berjalan begitu menyenangkan.

Pertama akan aku hirup mesra kopi sore itu, lalu aku cari rasa yang ada didalamnya. Mungkin ada kemanisan dalam kepahitan. Tidak. Manis ini tidak kemanisan. Namun juga tidak kepahitan. Pas. Antara pahit dan manis. Bahkan semua akan menjadi tampak biasa saja. Merasakan pahit diantara manis. Tidak ada yang spesial. Bahkan aku sudah biasa akan hal tersebut. Terlihat bagaimana aku menikmati takdir hari ini. Bebas, tak mengharap apapun. Tidak menuntut datangnya siapapun. Lalu menghisap rokok yang masih utuh sejak kopi itu tersedu. Racun. Racun masuk pada tubuhku. Meresap begitu saja pada darah. Dan—aku tak merasakan apapun. Biasa saja memang.

Hujan Sore

Harusnya Tuhan sudah menurunkan hujan hari ini, tapi masih saja mendung sejak pagi. Dan sore ini aku putuskan untuk bersepeda serta membaca cerpen singkat, mengeluarkan sebagian racun dari tubuhku. Berkeliling kota melihat setiap pojok keramaian dan menemukan tempat romantis untuk mengumpat dan bermain casino online terpercaya.

Kopi kutinggal begitu saja diteras, bersama dengan rokok yang belum habis. Memasukan beberapa barang penting kedalam tas. Hanya dompet dan beberapa uang lalu sebungkus rokok. Itu saja barang berhargaku. Mengayuh keluar kost, melewati gang-gang sempit yang tak berderit. Melihat isi kota yang akan meraung pada jam kerja. Menyapa setiap orang yang aku lewati—cukup kenal memang. Lalu berhenti sejenak ditepian jalan. Mendatangi penjual rokok, dan membelinya. Walau rokok masih cukup banyak, namun ingin saja aku membelinya. Tak lupa memberi uang lebih untuk pedagang asongan itu dan dia memberikan senyuman lebih juga.

***

Hari sudah gelap, kusulut rokok—bebas kukeluar – masukan racun dalam tubuh. Menertawakan jalan yang dipenuhi budak kehidupan. Manusia yang selalu merasa kurang dalam hidupnya sampai mereka lupa bahwa kehidupan adalah milik mereka—bukan milik anak dan istri bahkan bukan milik jalanan yang selalu menghitam dengan garis putih ditengah. Tidak muak dan tidak benci. Aku hanya cukup bingung saja. Kenapa semua panik akan uang. Bahkan akan datangnya hujan. Seperti terburu-buru dikejar waktu. Takut basah dan marah sang tuan rumah. Kenapa semua tak bisa berjalan dengan begitu saja. Harus ada yang menuntut. Ahh biarkan saja, itu urusan mereka.

Selesai sebatang rokok aku bersiap untuk pulang karena malam sudah larut. Namun air yang turun dari langit saat kayuhan baru satu putaran roda. Tiba-tiba tanpa aba-aba. Kulihat di depan ada penjual jas hujan. Kuluncurkan segera kesana. Saat kulihat harganya dan menghitung uang, ku-urungkan niatku. Dan hanya bisa berteduh di emperan si penjual.

“Mau beli mas?”

“Tidak pak, uangku tidak cukup”

“Namanya juga musim hujan mas. Harusnya sudah sedia jas hujan sebelum berangkat. Dari tadi pagi juga sudah mendung”

Bangsat, kenapa bapak itu yang mengaturku. Dengan sedikit mengumpat aku terjang hujan itu. Aku tidak mau dekat orang yang sering mengatur kehidupan. Karena setiap manusia dilahirkan dalam kebebasan. Seperti hujan—mereka bebas menjatuhkan tubuhnya pada siapun, tanpa diatur. Seharusnya dia lebih mengerti dari pada aku.

Sesampainya di kost aku mandi dan menganti bajuku. Lapar mendera dan kuputuskan untuk keluar mencari makan mumpung hujan hanya tinggal rintikan.

***

Sampai lah di tempat makan langganan. Memesan makanan dan secangkir kopi. Tidak disangka aku ada seseorang yang menyapa. Namanya Maulida, tidak cantik namun manis. Tanpa ada yang meminta dia duduk didepanku, lalu mengoceh begitu saja. Cukup dingin aku menanggapi, sampai kopiku juga mendingin. Dan saat aku bergegas untuk pulang dia menahan.

“Kenapa kamu tadi tidak pakai jas hujan?”

“Kamu lihat? Dimana?” aku cukup tertarik dengan obrolan yang dia mulai.

“Tadi di depan kampus, kenapa?”

“Tidak ada alasan—hanya merasakan angin ”

“Gitu amat jawabnya. Coba kalau kamu tanya orang dan ditanggapi seperti tadi pasti gak enak kan. Jutek amat jadi orang”

“Ada masalah. Coba jawab pertanyaanku. Kenapa kamu harus hidup?”

“Karena Tuhan menciptakan aku untuk mencintai hujan”

Aku terdiam cukup lama. Baru kali ini aku bicara dengan orang yang mengerti tujuan hidupnya sendiri. Menjawab dengan cukup tegas. Ada sedikit rasa yang aneh dalam hatiku. Lalu lamunanku terbuyar saat dia meniup mataku.

“Aku suka matamu”

“Banyak yang bilang begitu”

“Aku suka kamu, pacaran yuk?”

Cukup terkejut aku dibuatnya. Seberani itu seorang wanita yang belum cukup jauh mengenalku.

“Kenapa aku harus mau?”

“Gak harus mau kok, aku cuma mau taruhan. Kalau besok pagi saat kamu bangun lalu hujan turun maka kamu sah menjadi pacarku”

“Jangan bercanda”

Lalu aku berdiri dari meja, membayar semua makanan dan pergi pulang. Tak mau memikirkan apa yang dia ungkapkan tadi. Toh langit malam ini sudah berubah menjadi cerah tidak mungkin hujan akan turun.

Secara jujurr dalam hati, aku ingin Tuhan menurunkan hujan malam ini dan cerah esok pagi.

***

Aku terbangun lalu menuju dapur. Sepertinya nikmat minum kopi pagi ini. Ditemani angin dingin yang mesra. Tidak seperti biasa, kopiku terasa bahagia.

Selagi aku minum kopi terdengar ponselku berbunyi. Ada nomor baru yang menelfon. Aku angkat dan sepertinya aku kenal suara diseberang.

“Halo, pacar baruku. Pagi ini hujan kan? Berarti sah kamu jadi pacarku….”

Suara diseberang menerocos begitu saja—kuletakan ponsel diatas meja lalu kusulut rokok. Dan suara Maulida tidak ada berhentinya. Mengomentari semua kehidupanku.

“Aku tidak sepakat dengan omonganmu semalam”

“Itu tidak penting, Tuhan menyertai dengan datangnya hujan. Sejam lagi aku ke kontrakanmu”

Mungkin dia seorang polisi atau agen rahasia sampai dia bisa tahu nomor dan kontrakanku. Luar biasa sekali wanita itu. Tapi aku tak suka gaya bicaranya. Terlalu cerewet.

Sejam kemudian dia datang ditemani derasnya hujan. Mungkin hujan melahirkan seorang anak—yaitu Maulida. Hujanpun mewariskan sifat berisik padanya. Aku buka pintu gerbang lalu dia masuk begitu saja. Membawa sekotak nasi goreng masakannya.

“Ini makan dulu, kamu pasti belum sarapan”

“Iya”

“Enak kan, aku yang masak”

Aku tanggapi omongan cerewetnya sedingin hujan. Sebenarnya aku malas untuk berbicara dipagi hari—bukan kebiasaanku. Lalu dia bergegas ingin pulang. Ada kuliah katanya. Namun aku tahan.

“Kenapa kamu pakai jas hujan?”

“Biar gak basah”

“Katamu kamu cinta hujan. Aku juga bisa membuatmu basah, sakit bahkan menangis. Ingat aku bukan pacarmu. Dan aku juga bukan hujan.”

“Kamu jahat”

“Memang, banyak yang bilang seperti itu”

***

Lalu dia berlalu dengan tangis yang terselamatkan derasnya hujan. Sedikit aku kasihan tapi aku biarkan. Aku hanya ingin jujur dengan perasaan—tidak ada yang mengatur. Walau sebenernya aku mulai cinta. Seperti hujan.