Ketika di Pelaminan Ada Dia yang Menghadang

Pelaminan – Hari yang dinantikan kini datang juga, ya siap nggak siap sih. Pasalnya aku baru mengenalnya selama 2 bulan ini sejak mama mengenalkannya padaku. Dan tak sengaja akupun juga masih mengenalnya sebagai salah satu teman dari mantan terindahku. Ari nama mantanku itu, aku juga tak begitu paham kenapa aku mengakhiri hubunganku dengannya.

Yang jelas aku masih belum bisa  move on, begitupula sepertinya dia juga masih belum mencari penggantiku. Sedih dan ingin kembali ke masa lalu jika mengingat itu semua, tapi seperti kata pepatah nasi sudah menjadi bubur mau bagaimana lagi nasib sudah tak bisadiubah. Kini ada Nino pria pilihan mama yang terhitung 1 jam kedepan akan menjadi imamku. Ya, sejam lagi akad nikahku akan dimulai. Terlihat semua orang bahagia, apalagi Nino, wajahnya yang ya bisa dibilang rupawan sih itu terlihat amat mencolok dengan riasan seadanya di pelaminan ku.

“Omaigat tampan sekali” celetukkku dalam hati.

Tak hanya tampan, Nino juga merupakan pengusaha muda yang sukses diusia belianya ini, ia juga amat pandai bayangin aja dia lulus kuliah S3 di usianya yang baru genap 26 tahun, hebat kan. Nah itu juga sih yang buat aku pertimbangin buat nerima dia apa adanya dengan segala kelebihan yang disandingkan dengan aku si itik buruk rupa ini. Tiba – tiba saja terbayang wajah Ari sepintas saat kulihat Nino tersenyum. Aku menggelengkan kepalaku berulang kali seraya meratapi kebodohanku.

***

Ari, cowok yang kukenal saat aku duduk di bangku SMA kelas 3. Anak yang nggak begitu baik, pintar dan kaya bukan juga dari golongan yang nakal, populer dan pembuat onar. Seperti kebanyakan cerita yang menceritakan anak cupu dengan anak popular. Jelas beda lah ini kan kisahku, jadi ceritanya kami itu anak yang biasa – biasa aja. Jangan bayangin kita bertemu di taman yang romantis, atau perpustakaan yang identik dengan kutu buku atau cerpen singkat apalagi di lapangan karena dihukum atau karena pelajaran olahraga.

Nah jadi ceritanya aku punya teman namanya Nesie. Saat itu aku lagi jalan bareng sahabatku si Nesie, kami mau mengikuti pelajaran tambahan kelasnya Bu Sukma pelajaran apa ya saat itu? Pelajaran Biologi sih kalau nggak salah. Nggak tau kenapa dari dulu ingatanku emang nggak sebaik manusia pada umumnya, pantes aja kalau nilai sejarah sama biologiku selalu jelek, kedua pelajaran ini kan notabene memiliki nama yang harus dihafal atau seenggaknya diingatlah. Oh iya saat itu aku dan Nesie duduk di bangku no 2, ini bangku favoritku urutan kedua atau ketiga dari depan, eh tapi ini nggak berlaku biat pasangan hidup loh ya!

Singkat cerita Ari muncul dengan kelima kawannya yang sampai sekarang juga masih kenal baik kok. Ari terlihat santai memasuki kelas seperti layaknya murid yang lain. Tiba diwaktu pelajaran tambahan hampir selesai, seperti biasa Bu Sukma akan mengeluarkan jurusnya siapa yang cepat bisa menjawab pertanyaannya akan pulang duluan. Udah tau otak aku otak udang, walhasil tinggal aku sama si Ari. Si Ari ngeliat aku yang sesekali meliriknya sambil merapalkan mantera jawaban yang sedikit banyak aku sudah lupa berharap ia menjadi pahlawan kesianganku.

***

Tapi bayanganku cuma bayangan semata, bu Sukma telah lelah melihatku terhukum di kelasku sendiri. Bu Sukma meninggalkan kelas seraya menggelengkan kepalanya berulangkali. Aku yang paham kode dari Bu Sukma segera membereskan peralatan sekolahku dan hendak beranjak keluar kelas mengingat jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Tapi ada sesuatu yang menahanku, tanganku? Ya Ari menarik tanganku dan menawarkanku untuk terapi mudah mengingat? Bagaimana aku tidak tertarik, berhubung aku juga dikejar waktu aku iyakan saja permintaannya biar cepat.

Keeseokan harinya kami bertemu sepulang sekolah, dia memperkenalkan namanya dan ya seperti pdkt pada umumnya, kamipun jadian di bulan kedua setelah proses pdkt berjalan lancar dan romantis yang kelihatan akan berlanjut ke pelaminan. Nah kami pun memulai hubungan itu hingga kuliah, aku yang kini telah menginjak semester 8 di perkuliahan. Namanya juga hubungan pasti ada masalah, begitupul pada hubungan kami. Beberapa bulan terakhir ini aku sering bedebat dengannya. Hal – hal kecil menjadi pertengkaran kecil yang berujung pada pertengkaran besar menjadi link alternatif buka4d. Aku tak tahu kenapa yang jelas kami selalu berbeda pemahaman.

Pelaminan – Hubungan kamipun memburuk seiring berjalannya waktu. Mama sudah mulai mencium bau pertengkaran kami dan tidak menyetujui jika aku terus melanjutkan hubunganku dengannya. Singkat cerita mama dan papa mengajakku untuk pindah rumah, ya bukan karena apa – apa tapi karena dinas papa yang dipindah dan sejak saat itu akupun bertekad untuk mengganti nomor handphone sehingga kami lost kontak.

Perpindahan rumah itu ternyata membawa berkah, aku bertemu dengan Nino yang merupakan pengusaha tempat langganan mamaku membeli cake. Ya nino adalah pengusaha cake yang sukses, telah banyak cabangnya yabg dibuka. Bahkan sekarang ia sedang mencoba menjalankan sebuah perusahaan ptoduksinya dibawahi sekitar 200 karyawan.

***

Nah disela – sela pdkt kami Nino bercerita jika dahulu ia punya teman yang begitu mencintai pacarnya  dan hingga saat ini dia belum bisa move on. Nino seolah menceritakan kisah Ari, tapi karena akupun sedikit belum bisa move on, aku tidak berani untuk menayakan namanya. Anggap saja orang di dunia ini juga banyak.

“Siapa namanya?” ingin kutanyakan itu.

Tapi aku takut dia berujar, “Siapa sih kamu?”

Nanti malah hatiku hancur lebur!

Penghulu sudah datang, hatiku semakin berdebar. Tidak tahu kenapa aku merasa jantungku melompat – lompat gugup. Akadpun dimulai, Nino mengucapkan dengan lantang. Setelah itu rerdengar suara orang – orang yang hadir begemuruh mengatakan sah sah. Ternyata Nino telah berhasil mengucap akad dengan baik dan benar dipelaminan. Akupun bersyukur, jantungku mulai berdetak hebat lagi. Mama menggiringgku keluar dari kamar untuk menemui Nino. Dan acara resepsi akan segera digelar. Nino tersenyum bahagia, akupun juga bahagia. Oh iya jadi untuk tamu undangan mama yang menentukan, yang jelas aku tidak mengundang Ari di pelaminan ku. Tapi bentar deh kok ada sosok yang tak asing menatapku.

“Aku ingat kata-kata terakhir Nino,” celetuk hatiku lagi.

Inginnya aku tak bermonolog, tapi apa daya hatiku terus berceloteh.

Seperti mengidentifikasiku, aku mengalihkan pandanganku, menatap Nino dan tersenyum. Tak lama Nino mengajakku untuk duduk di pelaminan yang disiapkan setelah beberapa ritual yang dilaksanakan. Aku merasa lelah sembari menyalami para tamu undangan. Tiba – tiba Nino melambaikan tangan dan memanggil nama Ari. What apa aku nggak salah dengar? Ari? Aku memberanikan diri untuk menatap kedepan dan ya benar wajah yang tak asing yang tadi menatapku ialah Ari.

Pelaminan Terakhir

Penampilannya berubah, rambutnya sedikit gondrong, dan wajahnya kurang terawat. Ya berbanding terbalik ketika ia bersmaku saat itu. Ari menghampiri pelaminan, jantungku kembali tak tenang. Nino menggenggam erat tanganku seraya berbisik ‘dia yang kuceritakan padamu, jangan khawatir aku disini bersamamu’ Nino tersenyum kearahku.

Senyumnya yang menawan membawaku untuk tersenyum juga. Ari menatapku tajam dan aku kikuk menyalaminya, untung Nino menyairkan suasana dengan canda  guraunya. Dan terlihat Ari ikut tertawa. Ya mungkin inilah takdir yang tak diundang dalam pernikahan justru datang dan sedikit merusak suasana bahagiaku dipelaminan. Tapi apa boleh buat aku telah menilih Nino sebagai imamku.

“Aku mantap dan yakin dengan kamu Nino,” ujarku pelan.

Nino tersenyum, “Aku percaya kamu, hatimu dan kesetiaanmu.”

Lalu ujarannya pun menjadi penutup hari pernikahan kami. Aku percaya takdir dan cinta akan bertemu di pelabuhannya. Selamat jalan Ari..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *