Jika Cinta Adalah Mata, Maka Engkau Akan Jadi Cahaya

Cahaya senja di sore itu dapat dirasaka seorang gadis mungil yang sering dipanggil dengan sebutan Ineke. Parasnya yang cantik dan menawan menjadikan para pemuda mana pun merasa terkagum melihatnya.

Namun sayangnya kekaguman para pemuda tersebut tidak mampu mendatangkan daya tarik bagi mereka untuk memiliki gadis berkulit putih itu. Hal ini dikarenakan Ineke memiliki kekurangan dibagian indra penglihatan yang tidak bisa melihat atau buta.

Meskipun demikian, Ineke sepertinya sudah terbiasa dengan respon para pemuda yang mendekatinya. Ineke terbiasanya dengan kesendiriannya tanpa seorang teman yang mendampinginya terkecualinya sang ibunda tercinta dan adik perempuannya.

Oleh sebab itulah yang menjadikan gadis berambut panjang itu tidak ingin pergi keluar untuk bersosialisasi dengan teman-temanya, karena Ineke merasa mider akan kekurangan pada dirinya.

Suatu ketika, ibunda Ineke mendatangi gadis mungil itu di teras depan rumah yang sedang asik merasakan suasana dingin pegunungan di rumahnya. “Ineke, ibu tahu, kamu membutuhkan teman nak.

Kamu tidak mungkin akan terus-terusan berdiam di rumah. Bagaimana kalau besok kamu kembali bersekolah lagi?” tanya sang ibunda sambil mengelus rambut panjang Ineke.

***

Gadis berusia 17 tahun itu pun hanya menggelengkan kepala, memberikan isyarat bahwa dirinya tidak ingin kembali bersekolah. Setelah kejadian tragis 3 bulan yang lalu, yang menjadikan Ineke harus mengalami kerusakan pada bagian kornea matanya.

Saat itu juga Ineke memutuskan untuk berhenti bersekolah, karena dirinya menganggap bahwa tidak ada gunanya lagi sekolah kalau dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.

Meneteslah air mata Ineke ketika dirinya harus mengingat akan kejadian ketika matanya tidak berfungsi lagi akibat penggunaan soflens kadaluarsa berkepanjangan.

Cahaya Sang Bunda

Ibunda Ineke memeluknya dari samping, mendekapnya dengan sangat kencang. Melihat air matanya yang jatuh perlahan membasahi pipi gadis kelahiran Bandung itu, hati sang Ibunda seperti ditusuk-tusuk.

Apalagi ketika Ineke lebih sering berdiam di kamar, kadang-kadang hanya keluar di teras rumah untuk menikmati suasana senja.

Hal yang tidak pernah di tinggalkan ketika Ineke masih bisa melihat dengan normal. Ketika Ineke menyadari kekurangan yang menimpa pada dirinya, menjadikan dirinya sering mengurung diri dan tidak ingin ditemui oleh siapa pun.

Termasuk teman-teman SMA nya dan pria tampan yang menjadi gebetannya ketika masih duduk di bangku sekolah. Namun sayangnya kini dirinya tidak lagi bisa melihat paras tampan sang pemuda itu.

“Andaika saja Ineke mau mendengarkan ibunda waktu itu, pasti Ineke tidak akan mengalami pengalaman seburuk ini”

Air mata Ineke semakin mengalir deras. Hanya tinggal penyesalan saja, namun apalah daya, kalau kejadian yang lalu sudah menjadi bubur dan tidak akan diputar ulang kembali.

Terlebih lagi dokter sudah memvonis bahwa mata Ineke sudah rusak parah akibat Soflens kadaluarsa yang digunakan Ineke dan Ineke tidak dapat disembuhkan terkecuali melalui operasi.

Sedangkan operasi pun juga tidak mudah, karena masih membutuhkan donor mata yang harganya tidak murah, harus melihat dari kecocokan mata tersebut dan jalan operasi pun juga belum pasti berhasil, karena kegagalan operasi dapat saja terjadi dan tidak dapat diprediksi seperti prediksi bola.

***

“Sudahlah sayang, jadikan ini sebagai pelajaran. Ketahuilah, bahwa tidak ada seorang ibu yang akan menjerumuskan anaknya. Suatu saat nanti kamu akan merasakan bagiamana menjadi seorang ibu” jawab sang Ibunda dengan nada yang sangat lembut.

“Tidak mungkin aku bisa menjadi seorang ibu.. tidak ada pemuda yang mau menikahi gadis buta seperti aku bu.. aku tidak bisa menjadi istri yang baik karena untuk mengurus diriku sendiri saja aku belum bisa, apalagi harus megurus suami dan anak-anaku nanti?”

Perbincangan antara anak dan ibunda itu pun harus terputus ketika datang seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah gebetan Ineke semasa duduk dibangku sekolah dulu. Kehadirannya memang tidak diketahui oleh Ineke dan Pria tampan bernama Latif itu pun duduk di samping Ineke dan terus mendengarkan curhatan cahaya Ineke.

“Bu.. hingga umur 17 tahun ini, Ineke pernah merasakan jatuh cinta sekali, yaitu pada pria tampan yang ada di kelas. Rasa cinta itu tumbuh saat kelas 1 SMA dan saat itu pria itu menjadi ketua kelas.

Cara dia memimpin di kelas, kecerdasannya, cara dia main basket, cara dia membaca cerpen singkat membuat aku terpana bu.. ingin sekali aku mengungkapkan rasa cintaku padanya, tapi aku malu. Saat ini, aku rindu dia bu, entah mengapa rasanya aku ingin bertemu, tapi Ineke takut, takut dia melihat keadaan ku saat ini”.

Sang ibu pun tersenyum hangat melihat putrinya yang ternyata sedang jatuh cinta namun tidak memiliki keberanian untuk mengungkapnya. Sang ibu pun juga melirik Latif yang sedari tadi disamping Ineke meskipun gadis yang mengalami cahaya kebutaan 3 bulan yang lalu tidak menyadari keberadaan Latif yang sudah mendengarkan curahan hatinya.

“Bagaimana sikap dia ke kamu?” tanya sang ibu penasaran

“Dia orangnya baik bu, perhatian bangte ke Ineke, bahkan saat jam istirahat dia selalu mengajaku ke kantin”

***

Mendengar sedikit cerita singkat dari Inneke, Latif sudah bisa menyimpulkan, bahwa pria tampan yang dimaksudnya itu adalah dirinya. Pria yang jago bermain basket itu pun hanya tersenyum malu. Pria yang memiliki cahaya hidup.

“kalau di baik, dia pasti akan mencarimu” jawab sang ibu

Ineke kemudian menggelengkan kepalanya

“Itu kan waku Ineke masih bisa melihat bu, sekarang, mana mungkin dia mau menerima keadaanku yang seperti ini” jawab Ineke dengan raut wajah iba.

“Katamu dia baik, apa yang membuat kamu yakin kalau dia akan menjauhimu saat melihat keadaanmu sekarang?” tanya lagi sang ibu

“Karena di orangnya tampan, berprestasi, jago basket, banyak wanita yang menginginkannya untuk dijadikan sebagai pacar.” Jawab Ineke diiringi senyum simpul.

“Nak.. apa yang kamu fikirkan itu tidak benar.. pria yang kau anggap tampan itu, pria yang sering kali mengajakmu ke kantin, pria yang jago basket itu, bukanlah pria yang melihatmu dari segi fisik.

Bahkan dirinya sudah mengetahui kondisi mu yang sekarang, namun dirinya tidak meninggalkanmu, justru dia sering kesini menemuimu dan mengirimkan bunga untuk mu setiap sorenya.

***

Bunga yang selalu kau cium kesegarannya di sore hari, dialah yang mengirimkan. Saat ini, dia ada disebelahmu” ucap sang bunda.

Dengan perasaan yang kaget, Ineke pun tersipu malu karena pria gebetannya sudah sedari tadi duduk di sampingnya. Digenggamlah tangan Ineke oleh Latif.

“Aku mencintaimu dari awal kita masuk SMA dan hari ini aku akan membuktikan bahwa apa yang ada dipikiranmu perihal kejelekanku itu tidak benar. Aku menerimamu apa adanya, apa pun kondisimu.

Aku minta, jangan mengurung diri terus di rumah, sudah saatnya kamu kembali ke sekolah, aku akan membantumu sepenuhnya. Kamu tidak perlu malu, karena aku yang akan menemanimu kemana pun kau pergi.

Sebentar lagi kita akan lulus, aku janji, 2 tahun lagi aku akan datang ke tempat ini lagi bersama bapak ibuku untuk meminangmu”.

Meneteslah air mata bahagia dari Ineke dan kejadian romantis tak terduga ini pun disaksikan oleh sang ibunda Ineke yang merasa kagum akan perjuangan dan ketulusan cahaya hati Latif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *