Nin’s Love Story

love story

Love story

Sepi terhujam, meradang

Mencekam amarah

Membisu

Atau memang telah bisu

Puisi Rey, tahun ini

Love story – Lalu apa gunanya diriku di dunia. Hanya pria biasa. Tak berpendidikan dan penuh jelaga. Tak hebat, tak luwes, hingga tak mampu menjangkaumu. Aku tak berguna. Itulah, itulah yang membuatmu takkan melihatku. Onggokan sampah yang bahkan tak terlihat bagai kerikil. Mungkin hanya debu. Debu tak beraturan molekulnya yang tercipta dari benturan dan gesekan semua benda aus tak bernyawa.

Inilah aku. Masih membuka timeline Facebookmu dengan marah. Aku tahu, aku dengki padamu. Aku dengki pada lelaki pintar yang telah mendapatkanmu. Lelaki yang dinilai layak menjadi pengantin priamu. Lelaki yang dapat melanjutkan S2 nya di luar negeri bersamamu. Di negeri kangguru itu. Kamu dan dia. Hingga takkan ada satu makhluk pun yang layak mengganggu. Tepatnya, mereka takkan berani. Karena kamu dengannya, lelaki itu.

Love Story Seorang Wanita Yang Kecewa

Hanyalah aku, seorang fotografer tanpa masa depan yang menghabiskan tahun-tahun berlalu dengan menyesali dirimu. Menyesali bahwa ternyata, wanita yang kukecewakan adalah titisan Ratu Sima. Menyesali tahun-tahun yang kulewatkan tanpa kusadari, betapa berartinya dirimu. Mungkin hingga nanti, hingga waktuku berhenti, takkan bisa lagi kutemukan wanita sesempurna dirimu seperti dalam cerita singkat.

Terima kasih sudah menerimaku apa adanya,

Akulah wanita yang lelah dikecewakan. Lelah menjadi bodoh dengan kekangan pria-pria di masa laluku.

“Ah, Sial!”

Hanya dua kata itu yang mampu terucap dariku yang tak kuasa menahan untuk tetap mengetahui kabarmu, meskipun hanya lewat status Facebook. Aku, sang penggemar bodoh yang pernah memilikimu, dan menyia-nyiakan semua itu.

***

“Dasar Bodoh!”

Aku kembali mengumpat sebisaku. Sangat sulit untuk bertahan dengan semua penyesalan ini. Kau terlalu berharga, namun telah hilang semua rasamu padaku. Karenaku, karena keegoisanku. Karena semua hal bodoh yang kuminta darinya.

Seharusnya pria tidak menangis. Ya, pria dewasa takkan menangis. Lalu apa aku? Persetan dengan kata dewasa itu. Aku tak peduli dengan apapun tentangku. Akulah Sang Pendosa Cinta, yang terjerembap belenggu luka penyesalan karena kehilangannya.

“Apa yang telah kau lakukan, sebenarnya?”

Hatiku bertanya. Jelas ia akan bertanya. Ialah yang pertama jatuh cinta. Ialah yang memilihkannya untukku. Ialah yang menyatakan perasaan itu. Lalu ialah yang hancur karena pikiran tak dewasaku. Hatiku layak bertanya. Ia layak untuk marah. Bahkan jika ia ingin meninggalkan raga ini, aku pantas mendapatkannya.

Berawal dariku, seorang mahasiswa politeknik yang tak mengenal wanita, pada saat itu. Hanya mengenal mesin dan teman pria. Secara tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis dengan latar belakang pendidikan luar biasa. Seorang penyabar yang tak terelakkan lagi kecantikannya. Cintanya padaku sangatlah berharga. Ia nyaris tanpa cela. Aku hanya bisa jatuh cinta padanya. Hanya bisa terpukau dengan segala kesempurnaan yang dimilikinya. Love Story.

Hatiku Hanya Untukmu

Dengan segala kesabaran itu, dengan segala kebaikan yang dimilikinya, hatikulah yang menyatakan cinta untuknya atau love story. Dengan perasaan berkecamuk karena tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, aku mengungkapkan perasaan dan kekaguman mendalam yang terlihat bodoh itu.

“Aku menerimamu. Tapi kumohon, jangan kecewakan aku.”

Masih kuingat jawaban sederhana yang memulai hubungan kami dulu. Dari bibir kecilnya mulai terucap kata “sayang” dan “cinta” untukku. Apapun dilakukannya untuk membahagiakanku. Bahkan aku terkenal dalam curhatan bersama teman-teman sekelasnya sebagai pria sangat baik yang bertanggung jawab. Kurang waktu namun sangat perhatian. Ia membanggakanku seperti dewa poker hampir di setiap kalimat yang diucapkannya, meskipun sebagian dari itu adalah kebohongan besar.

***

Aku membuka tautannya di tahun kita masih berstatus sebagai pasangan atau love story. Banyak hal kau ungkapkan dalam puisi dan statusnya. Dulu, terlalu sempit waktuku untuk membaca statusnya. Seorang mahasiswa teknik sepertiku hampir tak punya waktu tidur, hingga sangat sulit bagiku untuk memperhatikannya.

Perasaanku kembali ke tahun itu. Aku merasa sangat ketakutan. Aku takut kehilangan perhatiannya, karena sms dan teleponnya tak pernah kuangkat. Aku mulai khawatir dia akan kembali dengan kedua mantannya yang berasal dari kampus yang sama. Aku mulai takut dengan teman laki-laki yang biasa pulang kampung bersamanya karena berasal dari daerah yang sama. Aku sangat, sangat takut.

Hingga aku menjadi seorang monster yang membunuh karakternya. Aku melarangnya mengikuti kegiatan kampus apapun. Aku melarangnya berkumpul dengan teman laki-laki yang bahan lebih dekat dengan keluarganya daripada aku. Aku melarangnya berteman dengan teman wanitanya. Dia hanya boleh menjadi milikku. Tapi aku pun tak ada waktu untuk memperhatikannya. Love Story yang tidak adil.

“Bisakah kau berhenti begini, Sayang…?”

Dunia Fotografi

Pertanyaan terakhirnya padaku yang diucapkan dengan sabar itu mengulik pikiranku. Pertanyaan yang tak pernah kujawab itu. Pertanyaan yang menjadi awal mula kehancurannya dan aku. Telingaku mendengungkan kalimat itu. Mungkin aku pun ingin mendengar jawabnya, tapi tak sanggup berujar sepatah kata pun.

Bahkan saat aku lulus terlebih dahulu dari perkuliahan, aku terlalu sibuk untuk melakukan hal lain. Kutinggalkan ia dalam kesulitannya menjalani skripsi, menjalani sakit, menjalani perasaan yang hancur karenaku. Aku menyibukkan diri dengan dunia fotografiku, sambil membunuh rasa bersalah telah menyakiti itu. Aku tak mampu kembali padanya. Langkah kita sudah terlalu jauh bagia dua kutub. Terlalu polar, hingga perasaan nelangsa tak teelakkan karena hatinya tak tergapai.

***

“Hai Rey,”

Deg!

Hatiku tak karuan melihat pesan dari Facebooknya yang sedang on-line. Ia mengirim pesan untukku. Setelah sekian lama riwayat pesan kami tak pernah kuhapus. Rencana Tuhan apalagi ini?

Apakah aku tak pantas sumringah? Ya, aku memang bodoh tak terhingga. Tapi aku tak mampu menyembunyikan kebahagiaanku atas pesan yang baru kubaca ini.

“Oh, Hai Nin. Apa kabar?”

Aku menjawab setenang yang kubisa. Entah terbaca atau tidak, segala kegembiraanku ini.

“Baik Rey. Aku kirim pesan ini cuma untuk minta maaf ke kamu. Tentang semua kesalahan yang mungkin pernah aku lakukan selama kita masih sama-sama.”

Kembali lagi. Hatiku berdesir membaca kata-katanya yang penuh kesabaran.

“Maaf untuk meninggalkanmu saat itu, Rey. Aku…”

“Bukan Nin. Bukan kamu yang harusnya minta maaf. Aku yang sudah menjadi pria gagal. Aku gagal memahami bahwa kamu adalah wanita yang sempurna. Kamu selalu ingin dekat dengan banyak orang. Kamu sangat mengagumkan sampai aku sangat takut kehilangan kamu. Sampai aku banyak membatas ruang gerakmu. Aku sangat bahagia, sejak putus denganku kamu kembali menjadi wanita bahagia. Hingga bisa lolos seleksi S2 di Sidney seperti ini……

Aku masih sangat menyayangimu.”

***

Baiklah, entah apa yang tadi kuucapkan. Aku benar-benar tak peduli. Aku harus mengungkapkannya minimal sekali.

Nin tidak membalas pesanku yang terakhir itu. Mungkin aku salah bicara. Mungkin aku memang pria kasar tak beradab yang takkan mampu menjaga perasaan sesuci hatinya. Ya, akulah pecundang nomor satu di dunia.

Lama, aku mengurung diri di rumah. Melupakan dunia fotografiku. Melupakan pekerjaanku. Melupakan segala hal tentang diriku. Hanya Nin yang kuingat lekat dalam jiwaku. Dalam pikiranku, ia akan segera kembali dari Sidney dan memelukku erat.

Namun tidak, undangan pernikahan itu datang. Ia, bersama pasangan S2 nya. Pria hebat yang tak pernah mengekang jiwa petualangnya. Pria berhasil yang tidak gagal sepertiku. Yang takkan pernah menyesal sepertiku. Pria yang tidak datang lebih dulu dariku, tai menjadi jodoh yang tepat bagi Nin ku.

Puisi Nin

Jika aku bisa mencintaimu lebih lama,

Aku ingin mengaitkan dua jari kita

Hingga kau yakin aku takkan kemana-mana

Karena hatiku, takkan bergurau pada cinta

Terlaknatlah aku jika mampu mendua

Tapi nampaknya kau yang terlalu sempurna

Hanya bisa kupandang dengan mata

Tak mampu tersentuh olehku yang tak berdaya

 

Puisi Nin, empat tahun lalu

Lukisan Yang Membawa Ke Dunia Mimpi

lukisan

Lukisan Ke Dunia Mimpi – Joker pagi ini tidak berada di tempat biasa dia mangkal, dipinggir taman sedang membaca cerpen singkat. Dia sedang tidak enak badan dan keinginannya untuk tetap berada di rumah kosan petaknya sangat kuat. Hal itu disebabkan hujan yang tiada kunjung reda. Memang benar julukan untuk kota Bogor, kota hujan, karena bisa juga dalam seminggu hujan bagaikan pelari estafet. Jangankan bepergian, niat mau bepergian saja serasa hilang kalau sudah hujan. Apalagi jika hujannya di hari Jumat, sudah bisa dipastikan berhentinya keesokkan hari. Tetiba ada yang mengetuk pintu rumah kosan Joker. “Tok.Tok.Tok….Tok.Tok.Tok.. Jok,Joker!” seru seorang lelaki berpawakan tambun dari daun pintu Joker. Dibukalah pintu kamar oleh Joker.

“Lho, awakmu g mangkal tah Jok?” tanya Kirno.

“Engko saket, cong.” timpal Joker.

“Haduuuuh, ngomong apa sey kamu Jok? Bahasamu aneh.” keluh Kirno

“Bahasamu lebih aneh, saudara Kirno….” balas Joker.

“Hahahahaha….(tertawalah mereka bersama sama karena kekonyolan masing masing)

“Jok, libur hari ini?” tanya Kirno

“Iya Bang Kir. Lagi meriang badanku.” jelas Joker.

“Meriang??!! Merindukan kasih sayang kamu Jok?” goda Kirno sambil tertawa terbahak bahak.

“Beneran bang, lagi sakit ples kepikiran kerjaan.”

“Kerjaan mulu…pikirin nikah Jok, usiamu sudah cukup untuk berumahtangga.”

Sejenak Joker melamun, memikirkan perkataan Bang Kirno tentang pernikahan. “Memang benar apa yang Kirno katakan.” ucapnya dalam hati. “Huuft…, menikah urusannya sangat rumit dan tidak seenak yang dikatakan orang, bang.” Mendengar balasan Joker, Kirno malah tertawa terpingkal pingkal.

“Joker..Joker.., enak atau tidak…mampu atau tak mampu..semua tergantung niat dan kesungguhan orang yang akan menjalaninya.”

“Oo iya, masih ingat perempuan paruh baya yang datang ke lapak lukismu saat hujan deras?”tanya Kirno.

Lukisan Yang Menjadi Sahabat

Lama terdiam, lalu pembicaraan pun kembali, “Oww, cewek yang terlihat kalem tapi ternyata judes banget itu kan?!” kata Joker sewot.

“Weh, masih terbayang ya kecantikannya?” goda Kirno pada Joker untuk kesekian kalinya.

“Bukaanlah…karena pesanan lukisannya yang janggal buatku dan membayar lukisanku dengan menawar harganya habis habisan.” Cewek miskin.”

“Heh, jangan begitu kau! Awas jatuh cinta kau nanti!” Hahahaha

“Ndaklah, gue propesional brath.” sanggah Joker.

“Sudahlah, ndak ada habisnya kalo ngobrolin jodoh sama kamu Jok.”

Pergilah Kirno dengan tertawa terpingkal pingkal untuk kesekian kalinya. Joker dan Kirno adalah sahabat perantauan dan tetangga di rumah kosan petak. Kirno adalah lelaki matang Jawa tulen yang sudah menikah namun belum punya anak. Sedangkan istrinya sengaja tidak ikut Kirno merantau karena merawat orang tua Kirno yang sudah tua renta di desa. Di  kota, Kirno mengadu nasibnya dengan berjualan nasi banting dan minuman ringan. Sejenis nasi kucing, nasi berlauk sambal goreng tempe dan tahu, sambal dan telur dadar sebesar dua ruas jari.

Lalu, Joker adalah pria kelewat tanggung profesi pelukis amatir yang berlapak di sekitaran taman. Meski amatiran, lukisan Joker sangat bagus dan hasil saputan warnanya halus. Oleh karena itu, Joker lumayan punya banyak langganan dari kalangan menengah ke atas. Kemahirannya dalam melukis wajah tanpa hampa dan komposisi warnanya yang sangat diakui dan kagumi pelanggannya. Kirno dan Joker berlapak sebelahan, jadilah bestfriend banget mereka. Mereka saling membantu dalam hal apapun kecuali jodoh. (Hahahaha)

Di saat Kirno menertawakan kejombloannya Joker. Joker berpikir keras tentang lukisan pesanan cewek kalem yang judes banget. Si cewek, yang sebenarnya sudah memperkenalkan diri kepada Joker dengan nama Zaya, memesan lukisan tetapi tidak ada modelnya alias tidak ad model orang ataupun foto yang diberikan. Zaya meminta Joker untuk melukis berdasarkan cerita darinya setiap dia datang ke lapak joker dan lukisan itu harus menjadi satu frame saja. (Sejenis lukisan bersambung)

***

Selasa pagi ini cerah sekali, Joker bersemangat melapak sepagi mungkin, tentunya bersama Kirno. “Ayo, bang Kirno.” ajak Joker. “Wah waaah sudah tidak sabar bertemu Zaya kah?” seloroh Kirno kepada Joker, yang rupanya tidak digubris Joker. Benar saja, dari kejauhan sudah terlihat Zaya duduk sendiri di dekat lapak Joker. Sengaja Zaya berangkat pagi agar dia tidak perlu mengantri lama untuk lukisannya dan, hari itu hari kedua dia datang untuk dilukis ceritanya.

Setelah menyapa, mulailah Joker melukis cerita Zaya sebagai lanjutan dari hari kemarin. Lukisan kali ini hanya berupa bangunan menyerupai istana dimana di sana  terdapat seorang perempuan sedang sedih di satu kamar sambil menulis sesuatu. Dan setelah selesai lukisan ceritanya hari itu, Zaya pamit pulang. Lalu, beraktivitaslah Joker seperti biasa yaitu melukis sampai lapaknya tutup. Malamnya, karena merasa sangat capek seharian melukis, Joker setelah solat Isya segera tidur. Tengah malam, dia terengah engah bangun dari tidurnya. Joker terlihat bermandikan keringat dingin layaknya orang ketakutan. Dia lalu duduk duduk di depan kamar kosannya. Tidak terasa lamunannya buyar karena Kirno meneriakinya dengan keras. Kirno mengeluhkan bahwa Joker tidak mendengarnya sewaktu dipanggil berkali kali. Kirno menanyakan apa yang terjadi pada Joker sebenarnya.

“Ada apa brath? Seperti dikejar hantu saudara.” tanya Kirno.

“Aneh, bang Kirno…mimpiku sama persis seperti yang aku gambar di lukisan cerita milik Zaya. ”

“Apa?” tanya Kirno

“Sama persis seperti yang kulukis, baaaaang”

***

Kirno semakin penasaran, apalagi melihat saudara seperantauannya begitu bingung dan cemas. Lalu dengan sabar, Joker menceritakan mimpinya seperti togel sgp yang memang sebenarnya sudah berlangsung semenjak dia melukis cerita dari Zaya. Sebenarnya dia tidak begitu pedulu namun mimpi itu terlihat jelas dan runtut sama saat dia melukis cerita Zaya. Kirno yang mendengar cerita Joker terheran heran dan tidak percaya. Itu wajar karena yang mengalaminya adalah Joker seorang.

Keesokan harinya, Zaya datang terlambat sekitar satu jam dari waktu biasanya. Sejak awal, sebenarnya Joker sudah berniat menanyakan pada Zaya perihal mimpinya yang berkaitan dengan lukisan cerita Zaya. Tetapi dikarenakan banyaknya pelanggan yang datang akhirnya lupalah si Joker akan niat awalnya tersebut. Dia tetap melukis cerita Zaya namun mengurungkan niatnya. Dan terulanglah mimpi yang sama persis dengan lukisan cerita Zaya hari itu. Begitu seterusnya sampai hari ketujuh, dan saking penasaran serta tidak kuat bermimpi yang bersambung akhirnya Joker menghubungi Zaya untuk bertemu empat mata.

Bertemulah mereka dan berceritalah Joker atas apa yang dialaminya. Dan Zaya mendrngarkan dengan seksama setiap detail cerita Joker. Dari cerita tadi, Zaya akhirnya membuka rahasia.bahwa semua itu adalah cerita benar tentang siapa sebenarnya Joker. Semua yang dilukis Joker adalah cerita kehidupan Joker sebelum dia amnesia.

Istana yang dilukisan adalah rumah Joker asli dengan orang tuanya. Jadi lukisan yang membawa ke dunia mimpi Joker adalah kisah hidup Joker sebelum dia mengalami amnesia dari kecelakaan tiga tahun yang lalu. Dan Zaya adalah sebenarnya adik kandung Joker yang menyakinkan kepada orang tua mereka bahwa Joker akan ingat semuanya dengan lukisan ceritanya. Setelah mendengar cerita Zaya, Joker mulai ingat semua kehidupan. Namun sayang, Joker tidak mau menjalani kehidupannya sebagai anak pengusaha kaya raya. Dia lebih nyaman menjadi pelukis dan bertetangga dengan Kirno.

Kecelakaan yang Membuatku Cacat

kecelakaan

Kecelakaan – Setiap orang yang hidup di dunia ini memiliki masalah yang dihadapinya, ada yang bermasalah dengan pekerjaan, keluarga, kehidupan percintaan maupaun dengan dirinya sendiri. Kita sering mendengar istilah bahwa Tuhan tidak akan membebankan sebuah masalah terhadap seseorang melebihi beban yang ia pikul, tapi apakah benar seperti itu? Coba ingat-ingat ketika kamu dihadapkan dengan sebuah masalah atau musibah, apa yang biasa pertama kali hadir dalam pikiranmu?

Salah satu musibah yang berat untuk dijalani oleh seseorang adalah kecelakaan. Iya, mungkin pengalaman tidak mengenakan tersebut telah dialami pada sebagian besar dari kita, entah kecelakaan kecil, berat bahkan sampai pada merenggut sesuatu hal yang berharga yang kita miliki. Apabila kejadian tersebut mengambil hal berharga yang kita miliki pastinya akan membuat kita merasa menjadi manusia paling tidak beruntung di dunia ini. Seperti kecelakaan yang membuatmu harus mengalami amputasi pada bagian tubuh tertentu, sehingga membuat kecacatan pada tubuh kita.

Kecelakaan yang membuat cacat pada tubuh kita tentunya akan membuat kita merasa down, patah semangat hingga perasaan-perasaan putus asa yang menggelayuti pikiran dan hati kita. Bahkan, seberapapun orang-orang terkedat memotivasi untuk tetap semangat menjalani kehidupan akan mejadi angin lalu saja atau motivasi tersebut hanya akan masuk telinga kanan dan keluar dari pada telinga kiri. Namun, seharusnya kita menyadari bahwa motivasi-motivasi tersebut merupakan wujud dari kepedulian mereka terhadap diri kita dan hendaknya kita mengingat bahwa Tuhan tidak memberikan musibah ataupun ujian melebihi kekuatan seseorang untuk mengemban beban tersebut. Jadi, apabila dari kita ada yang mengalami hal seperti itu, percayalah bahwa kamu adalah orang kuat yang mampu melewatinya.

***

Awalnya Mungkin Akan Terasa Berat

“Bagaimana keadaan kamu?”

“Kamu baik-baik saja?”

Dua pertanyaan di atas mungkin terdengar ringan dan bisa kita jawab tanpa pikir panjang terlebih dahulu, namun hal ini berbalik 180 derajat apabila yang kamu alami benar-benar menguras pikiranmu sendiri, tentang bagaimana kehidupanku nanti? Atau apa yang akan orang-orang katakan ketika mengetahui kondisi yang telah aku alami? It’s look simple guys! Tapi ternyata, pada kenyataanya tidak seperti itu, tidak segampang yang diceritakan dalam cerpen singkat.

Siapapun pasti tahu bahwa mengalami hal yang tidak biasa akan menimbulkan respon tersendiri. Terlebih hal itu berkaitan dengan kondisi fisik dan psikis seseorang. Sama halnya dengan seseorang yang pernah mengalami kecelakan, lalu membuatnya kehilangan bagian tubuhnya tertentu akan mengalami proses adaptasi terhadap keadaan barunya menjadi lebih sullit. Maka, dari itu dalam kondisi seperti ini perlu dukungan dari berbagai pihak terutama keluarga, kerabat terdekat dan teman untuk me-recovery kembali semangat dan optimisme dalam diri yang sudah terlanjur jatuh.

Namun, apabila kamu adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengalami hal ini yang pertama-tama kamu harus lakukan adalah menerima keadaan atau berdamai dengan diri sendiri. Ya, seringnya yang menjadi penghalang untuk kita merasakan kedamaian dan ketenangan adalah diri kita sendiri. Kita sering membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain dan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiki orang lain. Please! Love your self. Apapun yang terjadi kamu akan menjadi istimewa sebagai dirimu sendiri, dari pada membandingkan kehidupan dirimu dengan orang lain lebih baik mulai mencintai apa yang kamu punya. Temukan hal-hal yang membuatmu bersyukur telah mengalami berbagai hal yang tidak dialami orang lain. Hikmah itu selalu ada.

Kecelakaan Tidak Adil Bagi Siapapun

Mulai Lakukan Apapun yang Kamu Bisa

Kehidupan memang kadang tampak tak adil, yang berusaha kuat tiba-tiba mengalami hal yang harus membuatnya berhenti. Namun, yang berusaha setengah-setengah malah begitu mudahnya mendapatkan apa yang diinginkan. Pernah melihat hal yang seperti itu? Iya, hal tersebut benar-benar terjadi. Lantas, apakah kita boleh menjadikan hal tersebut menjadi alasan untuk membenci keberhasilan orang lain? Tentu tidak, bukan?

Maka mulailah melakukan apapun yang kamu bisa. Misalnya, sebuah kecelakan telah merenggut salah satu kakimu maka dengan satu kaki lagi kamu bisa melangkah. Memperlebar harapan untuk tetap menebar kebaikan dan manfaat bagi sesama. Kisah heroik seseorang yang memiliki keterbatasan fisik sudah banyak kita dengar, seperti seorang penulis yang hanya memiliki satu tangan, pemusik yang tidak bisa melihat atau seorang penyanyi yang memiliki kekurangan-kekurangan lainnya.

Melihat hal tersebut membuktikan bahwa kekurangan fisik karena kecelakan atau apapun itu tidak lantas menjadi alasan untuk kita berhenti melakukan sesuatu. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, seperti mempertajam insting kita atau kemampuan salah satu indera yang masih kita miliki. Kalau kecelakan tersebut merenggut kemampuan kita berbicara, maka kita masih bisa menggunakan tangan kita untuk menulis, memberi, menggunakan bibir kita untuk tersenyum kepada orang lain dan menggunakan kaki kita untuk tetap bisa melangkah.

Untuk itu, tetaplah optimis dalam menjalani kehidupan meski ujian dan musibah datang seperti jeritan penyair yang begitu menyayat. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian yang kita alami. Selalu ada angin segar kala si gembala meniupkan seruling di bawah pohon rindang. Apabila seseorang melihat hidupmu begitu pelik, rumit, sulit maka perlihatkan pada mereka bahwa kebahagiaan dan kedamaian selalu terselip pada tiap tarikan nafas yang kita miliki.

***

Tiap Orang Punya Definisi Kebahagiaannya Masing-Masing

Apa yang terpikir olehmu ketika mendengar sebuah kata kebahagiaan? Apkah kehidupan mewah dengan  bergelimangnya harta dan besarnya rumah? Atau mungkin keelokan rupa yang mambuat banyak orang terpikat dan jatuh hati? Atau ketenaran dan popularitas yang membuatmu dikenal oleh banyak orang? Ternyata bukan. Hal tersebut tidak menjadi tolak ukur bahwa seseorang itu menjalani kehidupan yang bahagia. Lalu apa itu yang dimaksud dengan kebahagian?

Agaknya sulit memang mendefinisikan apa itu kebahagiaan. Terkadang, yang terlihat bahagia belum tentu sebahagia yang terlihat. Maka dari itu, mulailah mencari dan temukan definisi kebahagiaanmu sendiri. Bagi sebagian orang, kebahagiaan mungkin dapat tercipta dari hal-hal yang sederhana sepeti berkumpul bersama keluarga, hidup di sebuah desa terpencil atau hal-hal lainnya. Namun, untuk sebagian orang lagi, kebahagiaan begitu dipandang rumit, harus punya rumah yang besar, mobil mewah, jalan-jalan ke berbagai negeri, punya pangkat atau jabatan ataupun anda seorang pemain togel hk dan lain sebagainya.

Jadi sudah menemukan definisi kebahagiaan menurutmu sendiri? Kalau belum pun, tidak apa, semua penerimaan memang butuh waktu agar dapat memunculkan kedamaian dan ketenangan. Akan tetapi, janganlah berlarut-larut pada kesedihan yang malah akan membuatmu tenggelam dan susah bernafas.

Mulailah menerima apapun yang kamu miliki, bahkan kejadian atau pengalaman yang merenggut hal berharga darimu, fisik misalnya. Mulailah dengan menarik nafas panjang-panjang, lalu hembuskan perlahan. Kemudian pikirkan apa yang bisa kamu lakukan den membuatmu bahagia, tidak perlu seuatu yang terlihat begitu ‘wah’ di mata orang lain. Sederhana saja, seperti membaca buku di pagi hari sambil minum secangkir teh hangat misalnya. Bebas, ini kan bahagia definisimu sendiri.

Kamu dan Kopiku

kopiku

Kamu dan Kopiku – Mengenang adalah hal yang kadang nyaman, walau iris tepat saja miris..

Pagi ini, sudah ada secangkir kopi kental tanpa gula dan sebatang rokok yang menyala menemani lamunan. Sampai aku teringat pada seorang wanita bernama Dila. Aku sempat jatuh hati pada sekali pandang. Rambutnya panjang, kulitnya putih serta senyuman yang selalu mempesona. Bisa dibilang itu tipe wanita impian. Memiliki kecantikan seorang wanita tanpa ditutupi. Wajahnya terlihat bebas dengan mata yang menunjukan kehangatan. Dulu kami sempat dekat lewat pesan singkat dan senyuman setiap bertemu di ujung jam sekolah atau waktu istirahat. Sering aku menyapanya setiap pagi lalu memberi semangat untuk kehidupan. Sedikit bercerita tetang arti kehidupan dan sebuah perjalanan—memang tajam rayuanku. Dila juga menanggapi dengan cukup serius, bahkan dia selalu memperhatikan kebiasaan minum kopi yang tidak bisa aku hindari. Cukup romantis wanita ini, tapi ada entah yang tak mengapa.

Kopiku sudah tidak terlalu panas untuk diminum, dengan seperempat ampas mengendap didasar tanpa ada gula menemani—komposisi yang sangat pas. Rokok sudah habis diasbak setelah satu hisapan. Setelah selesai membaca cerpen singkat, lalu kubuka layar ponsel dan kucoba mencari nama pada huruf “D”. Semoga sekarang waktu yang tepat untuk menepati janji. Peduli setan jika pesanku tidak dibalas.

“Hai” sedikit saja aku menyapa. Dan sedikit waktu pula aku menunggu balasanya.

“Hai, masih ingat aku?”

“Tentu.. aku mau ketemu kamu, boleh?”

“Tak menanyakan kabar dulu?”

“Tidak, besok saja kalau aku menatap wajahmu”

“Kamu kenapa?”

“Rindu kamu, itu saja”

“Baiklah, kapan?”

“Besok, tempatnya aku kabari lagi”

“Ya”

Dasar wanita, semudah itu menutup percakapan. Biarlah.. setidaknya aku lega dia masih mau bertemu. Dan malam masih panjang untuk menyusun kata-kata bersama kopiku.

Kopiku Yang Kucinta

Kutunggu kedatangannya dengan beribu kata yang akan kuluncurkan. Dari kejauhan aku lihat rambut panjang dan senyum wajah yang masih mempesona. Dalam kecepatan yang tak terbatas beribu kata yang aku siapkan menjadi bungkam saat kata pertama muncul dari bibir indahnya.

“Kenapa?”

“Tidak ada apapun.” Aku kaku, semua yang sudah aku rencanakan hilang dengan cepat. Entah kemana.

“Ternyata kamu tidak berubah, selalu menghindar”

“Kamu juga, selalu menghidar saat kutatap mata indahmu. Kenapa?” sedikit menguasai keadaan, aku tahu betul kelemahannya.

“Tidak apa-apa”

“Baiklah, kita punya pertanyaan yang sama. Aku ingin tahu alasanmu dan akan aku ceritakan tujuan pertemuan ini”

Satu cangkir cappucino didepannya lebih menarik daripada aku. Wajahnya tertunduk saat dia mulai bercerita. Lalu aku angkat dagunya sambil tersenyum.

“Belajarlah menatapku” rayuan dimulai, sepertinya aku mulai menguasai keadaan.

“Aku selalu takut menatap matamu. Karena ada yang berbeda ketika mata kita bertemu di titik yang sama, ada yang bergetar tanpa mengenal irama. Dan kamu hilang.”

“Maaf” itu saja yang muncul pada mulutku. Lalu aku hilang juga kali ini.

Aku keluarkan rokok dari saku, dia sedikit terkejut. Aku meminta persetujuan untuk merokok. Dia menggeleng. Aku paham, lalu ku urungkan.

“Masalahmu tambah berat? Kapan mulai merokok?”

“Sudah beberapa minggu ini”

“Mau cerita?”

“Seperti biasa, tidak ada yang baik-baik saja dalam hidup ini”

“Yasudah… Giliranmu sekarang” tagihnya dengan modus menganti topik pembicaraan.

Cukup rumit aku akan memulai cerita. Pasti dia akan membahas kenapa aku pergi. Walau saja sudah aku rencanakan semua alasan yang ada sampai membuat cerita bermain judi dadu. Tetap saja bibir ini kaku tanpa segelas kopiku. Pada akhirnya kejujuran menjadi senjata paling tajam untuk menyakiti. Dan semua sudah aku siapkan.

***

“Ini buatmu, dari novel itu kamu akan mengerti alasan kenapa aku pergi. Cukup pelik waktu itu, dan bukan..”

“Karena aku?”

“Bukan, ini hanya penyelesaian. Coba tatap mataku, supaya kamu tahu bahwa masih ada kecambah cinta yang dulu tumbuh dihatiku. Kamu yang menanam benihnya.”

“Lalu kenapa kamu pergi?”

“Entah, aku juga tidak mengerti apa yang aku lakukan dulu. Tentu kamu baik. Dan aku..” aku masih mencoba untuk baik-baik saja.

“Ya sudah diam saja, boleh aku duduk disebelahmu?” aku memberikan isyarat meng-iya-kan. Dia beranjak dan duduk, lalu direbahkan kepalanya pada pundakku.

“Bagaimana kabarmu?”

“Sudah bicara panjang lebar baru bertanya seperti itu. Dasar” sambil tersenyum. Dan aku kembali jatuh.

“Jawab saja, dari pada tak ada bahan.”

“Bukankah katamu, tak ada yang selalu baik-baik saja. Sama sepertiku saat ini.”

“Ya begitulah hidup, walau aku bahagia saat ini tapi masih ada luka yang belum sembuh terobati”

Dia genggam tanganku dengan erat dan menghela nafas. Aku tahu itu tanda bahwa dia tidak ingin membicarakan hal itu.

“Kamu masih suka ngopi? Berapa cangkir sekarang?” pertanyaan yang selalu saja muncul dan tidak pernah berubah. Dia mengkhawatirkanku akan kopiku.

“Setidaknya tiga kalau tidak begadang”

“Dikurangi, tidak baik untuk kesehatanmu”

“Iya” aku mulai terpojok lagi sekarang.

“Kapan aku harus kembalikan novel ini?’

“Buatmu saja juga tak apa.”

“Tidak, aku masih ingin bertemu denganmu.”

Deg.. masih ada kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku mulai merasa ada lampu hijau yang dinyalakan. Tapi aku tidak mau terlihat terlalu berharap.

“Saat kamu siap menatap mataku saja.”

Tanpa alasan dan ucapan, dia melangkah mengambil tas dan tersenyum dengan indah.

“Sampai bertemu lagi, lelaki menyebalkan.”

***

Masih saja diam, tanpa sedikit sapaan. Aku juga tak mau untuk mengirim pesan singkat, takut kecambah itu menjalar dan berubah menjadi pohon besar.

Baru saja aku mau beranjak dari kasurku hendak membuat kopiku, terdengar ponselku mendapat kiriman pesan. Tak kusangka itu dari Dila.

“Besok ada waktu luang?”

“Aku sedang tidak sibuk, kenapa?”

“Mau menatap matamu, kukira sudah siap.”

“Boleh, dimana?”

“Sama seperti kemarin saja”

“Baik, tidak menanyakan kabar dulu?

“Tidak”

Masih saja seperti itu, diakhiri dengan perkataan yang sangat singkat. Dasar wanita cantik.

Di caffe yang sama. Entah bagaimana dengan cerita. Dia datang, begitu pelan.

“Hai”

“Bagaimana? Sudah tahu si novelnya?”

“Sudah, bagus ceritanya. Dan aku paham kenapa kamu harus pergi. Semua tentang mengikhlaskan bukan. Demi masa lalu yang tak harus dibuang.”

“Ya, seperti itulah dunia”

“Boleh aku bersandar? Sebentar saja lalu aku pulang”

“Secepat itu?”

“Mungkin memang itu yang harus aku lakukan.”

Dia bersandar dengan khitmat. Melalui nafas lembutnya aku paham, bahwa aku masih jatuh terlalu dalam pada rasa yang sama seperti kopiku dulu. Biarlah masa muda aku habiskan dengan kebebasan. Setidaknya aku tak pernah bohong akan cinta. Lalu dia kembalikan novel yang aku berikan. Tidak seperti biasa, Dila menatapku dengan lama. Terlihat bola matanya yang indah dan aku hanya diam melihat dia berlalu.

Aku tersadar, bayangan lama itu muncul kembali. Ditempat ini, caffe yang membuatku selalu menunggu. Kapan dia datang kembali. Kapan aku melihat mata itu kembali. Walau sudah beribu kisah. Tapi tetap saja masih sama. Kamu yang menanam benih ini.

Dua Bunga Untuk Mewangi Sampai Lembaran Terakhir

dua bunga

Dua Bunga Mewangi Sampai Lembaran Terakhir – Aku terkadang heran bagaimana bisa seseorang setia terhadap pasangannya? Apakah setia adalah sebuah sifat bawaan seseorang atau ia adalah timbal balik dari apa yang pasangannya berikan untuk dirinya? Entahlah.

Itu aku dulu, mempertanyakan tentang apa itu kesetiaan dalam sebuah hubungan. Bukan hanya tentang kesetiaan sebenarnya, ada banyak hal yang aku tanyakan dalam kehidupan ini, seperti apa itu kebahagiaan? Seperti apa cinta itu tercermin dan bagaimana cara seseorang mampu berdamai dengan segala egonya.

Ya, ada sekali banyak yang aku tanyakan. Apa mungkin aku adalah keturunan dari seorang filsuf yang hidup di Yunani dulunya? Ah ini, tentu saja tidak mungkin. Konyol sekali memang apa yang aku pikirkan atau mungkin kamu juga pernah mempertanyakan hal-hal yang ada di sekitarmu? Apapun itu.

Aku menyesap kembali cappuccino yang sudah mulai mendingin, sedingin hari dan hatiku ketika mengingat kembali kejadian-kejadian yang saling bertautan hingga sampai pada hari ini. Bulan ini memang sudah memasuki musim penghujan. Hampir setiap hari aku ditemani gerimis yang membahasi hari-hariku, juga genting-genting rumahku dan rerumputan yang selalu  terasa basah kala terinjak tanpa menggunakan alas kaki.

Suara tangisan lantas menyentak lamunanku. Aku bergegas bangun dari tempatku duduk, menghampiri asal suara tersebut.

“Ada apa, Bi?” aku bertanya, pada seorang wanita paruh baya yang sedang menggendong bayi berumuran sekitar 7 bulan.

“Ini den dari tadi, Arum tidak berhenti menangis.” Wanita tersebut menjelaskan.

“Sini, biar saya yang menggendongnya bi.”

Dua Bunga Yang Telah Gugur

Aku menggendong putri semata wayangku. Tak lama, tangisnya pun reda. Aku memandangnya, memerhatikan garis wajah yang mirip sekali dengan raut wajah wanita yang sampai saat ini tak mampu aku lupakan. Wanita yang aku maksud adalah ibunya. Aku menikah dua tahun yang lalu, dengan seorang wanita sederhana yang memiliki garis wajah begitu khas. Pemilik bibir mungil dengan mata yang agak sipit. Aku mengenalnya dari seorang teman.

Dari pernikahan tersebut aku dikaruniai seorang anak yang kunamai Arum, nama itu aku ambil dari nama ibunya, yang tak lain adalah istriku sendiri. Bayi mungil itu terlelap dalam tidurnya, sesekali mengecap-ngecapkan mulutnya hingga menimbulkan bunyi yang samar terdengar.

“Tolong tidurin Arum yah, bi, saya harus berangkat ke kantor sebentar lagi”

“Baik, den”

Aku melepaskan jas hujan yang kupakai untuk menerobos hujan yang mengguyur pagi ini. Meskipun sudah memakai jas hujan nyatanya ada saja bagian pakaianku yang basah. Mungkin kita memang tidak bisa benar-benar menghindari kehendak alam semesta.

Kantor tempatku bekerja tidak begitu jauh dari rumah, aku ingin tetap bisa berdekatan dengan Arum, maka dari itu aku memilih tempat tinggal yang tak jauh dari tempatku bekerja. Aku memasuki kantor kemudian disambut oleh sapaan rekan sekantor yang sudah dari datang.

Aku bekerja sebagai digital marketing di sebuah perusahaan di kotaku. Pekerjaan yang sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku dulu. Ketika ditanya tentang cita-cita, kita biasanya akan menjawab dengan jawaban mainstream anak-anak pada umunya. Seperti bercita-cita menjadi seorang presiden, tentara, dokter dan lain sebagainya. Tidak pernah tahu bahwa ada sebuah profesi yang dinamakan digital marketing haha.

***

Rutinitas sehari-hari yang aku jalani memang tidak begitu menarik, berangkat bekerja, pulang, esoknya berangkat lagi, kemudian pulang sore harinya. Jika ada waktu cuma untuk membaca cerpen singkat. Ya seperti itu terus. Namun, meskipun begitu ada yang selalu menghiasi hari-hariku, ia adalah Arum, anak semata wayangku.

Terdengar pintu rumahku diketuk. Aku yang sedang menggendong Arum meminta tolong bibi untuk membukakan pintu. Samar-samar aku mendengar sebuah percakapan. Aku pun penasaran, kemudian menghampiri mereka. Terlihat bibi sedang berbicara dengan seorang wanita muda.

“Perkenalkan nama saya Nadia, saya baru tinggal di rumah sebelah. Ini saya bawakan sesuatu sebagai salam perkenalan.” Ucap wanita itu sambil tersenyum.

Aku merasa tidak asing dengan senyumnya, senyum itu seperti milik Arum –istriku yang meninggal setelah melahirkan Arum kecil. Begitu ringan dan ramah Seperti ke dua bunga.

“Saya Dimas, salam kenal.” Aku mempersilakan Nadia untuk duduk sedangkan bibi menyiapkan minuman dan beberapa cemilan. Kami kemudian mengobrol tentang banyak hal, dan dari situ aku mengatahui bahwa Nadia baru saja pindah kemarin sore dalam rangka perjalanan dinasnya.

“Ngomong-ngomong, di mana ibunya Arum, Mas Dimas?” Nadia bertanya tanpa beban dalam nada bicaranya.

Aku agak kaget sebenarnya mendengar pertanyaan tersebut muncul begitu cepat. Aku menatap Arum kecil yang sedang bermain dengan mainan-mainan miliknya. Hening sejenak menggantung di langit-langit rumahku.

“Ibunya sudah meninggal, waktu ia melahirkan Arum.” Sungguh, ada sesak dalam dadaku kala aku mengatakan hal tersebut. Apa ini pertanda bahwa aku benar-benar tidak melupakannya?

“Oh. Maaf” Terdengar nada menyesal dalam suaranya Nadia.

Meskipun saya masih sedikit sesak apabila mengingatnya. Ibunya Arum begitu istimewa, ia wanita sederhana yang selalu memancarkan kebaikan serta kehatangan bagi banyak orang. Aku tidak bisa melupakannya. Maka dari itu mengapa saya menamainya dengan Arum. Arum adalah nama istri saya.” Aku menarik nafas panjang “Ah, maaf saya jadi banyak bicara.”

Dua Bunga Istimewa

“Tidak apa-apa. Sepertinya Ibu Arum memang wanita yang istimewa. Ah, iya saya mohon pamit dulu. Saya harus mengunjungi tetangga yang lain.

Waktu terus berputar,menit berganti menjadi jam. Jam berganti menjadi hari, kemudian berganti lagi mejadi minggu dan bulan. Tak terasa Arum kini sudah genap berusia dua tahun. Kami membuat perayaan kecil-kecilan untuk Arum.

Aku, Arum dan bibi serta Nadia –yang sering membantuku mengurus Arum, menyiapkan kue, balon dan pernak-pernik perayaan pesta ulang tahun pada umumnya. Nadia menyalakan lilin yang tertancap pada kue, kemudian memberikan sebuah hadiah untuk Arum. Perhatian-perhatian kecilnya pada Arum terkadang memberi kehangatan tersendiri pada dadaku, ketika melihat anak semata wayangku deka dengan seorang wanita yang tidak terpaut jauh usianya dengan ibunya.

Neng Nadia itu baik, den, kenapa tidak coba aden dekati dia. Sepertinya dia juga suka dengan Arum. Bisa jadi calon ibu yang baik, den. Kalimat bibi beberapa waktu lalu terngiang kembali di kepalaku. Ah, apa yang sebenarnya aku pikirkan? Mencari pendamping lain kah? Ah itu tidak mungkin, cintaku pada Arum –istriku, terlalu besar. Tapi…. Huft sudahlah, berhenti membicarakan hal tersebut.

Suatu hari Nadia meminta bantuanku untuk mengajarinya digital marketing guna bisnisnya yang sedang berjalan. Lalu, aku menyanggupi permintaanya. Kami larut dalam obrolan-obrolan tentang bisnis, sesekali Nadia meladeni celotehan Arum kecil yang sedang aktif-aktifnya berbicaca. Terkadang aku melihat anakku tertawa ketika bermain bersama Nadia. Seketika itu, ada yang hangat mengalir dalam diriku.

Pernah suatu hari juga ketika Arum kecil terserang demam tinggi, Nadia sampai menemani dan menjaganya hingga larut malam. Mengingat kebaikan-kebaikannya itu membuatku teringat perkataan bibi. Apakah ini waktunya?

Aku berdehem memecah keheningan yang sempat menghias langit-langit rumahku.

“Ada yang ingin aku bicarakan padamu, Nad.” Akhirnya kalimat pamungkas itu terucap juga dri mulutku.

***

“Terima kasih, Mas.” Nadia menyunggingkan senyum khas miliknya, “Saya mohon pamit, terima kasih sudah membantuku selama ini. Salam untuk Arum, Mas.” Nadia berlalu, melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah menunggunya sedari tadi.

Aku mengangguk, lalu tatapanku bertemu dengan mata lelaki yang akan menyopir mobil itu. Kami saling berbalas senyum seperti dua bunga. Nadia pindah ke kota ini tidak murni karena urusan pekerjaan atau dinas, lebih tepatnya ia minta dipindah kerja karena mantan kekasihnya dulu masih mengejar-ngejarnya. Mantan kekasihnya merupakan agen casino online. Pembicaraan hari itu, aku memintanya untuk menghadapi permasalahan dalam hidupnya. Ia tidak bisa selalu menghindar dari permasalahan-permasalahan yang datang menghampirinya.

Pembicaraan hari itu aku pikir aku akan mengucapkan kalimat lain, seperti apa kau ingin menikah denganku? Namun ternyata bukan, aku tidak bisa mengucapkan kalimat seperti itu pada wanita lain, selain padamu Arum, istriku.

Aku memandangi foto Arum, istriku, mengingat segala hal yang telah kita lewati. Kesedihan, duka, luka, air mata, tawa, suka, kebahagiaan dan berjuta rasa semuanya membuncah begitu saja dalam dadaku seperti dua bunga. Aku masih pada rasa yang sama, Arum. Gumamku.

Aku tidak bisa melupakan, Arum. Rasanya ruang dalam hatiku telah penuh oleh dua Arum yang hadir dalam hidupku. Meski satu Arum –istriku telah pergi lebih dulu.

Aku akan membesarkan anak kita menjadi gadis yang baik sepertimu, istriku. Memiliki senyum yang hangat, tangan yang lembut kala merengkuh, kalimat yang baik kala berucap. Aku yakin ia akan mempunyai pemahaman yang baik sepertimu.

“Papa!” Sapaan itu memecahkan lamunanku.

Cukup ada dua Arum saja dua bunga saja dalam hidupku, mereka sudah cukup mewangi, mengharumkan hingga lembar terakhir dalam hidupku. Aku mencintaimu Arum.

Aku Pacar Gadis Bucin K-Poper

pacar

Aku Pacar Gadis – Namanya Bhama Putra. Badannya tambun tapi tidak terlalu gemuk. Hanya ada sedikit gumpalan lemak berlebih di beberapa tempat seperti keramik yang belum selesai disentuh. Matanya agak menyipit seperti kacang almond yang gemuk. Kulitnya putih, badannya cukup tinggi dibanding rata-rata orang Indonesia. Wajahnya ditumbuhi rambut tipis sebagai dampak dari hormon laki-laki. Sedikit saja di bagian atas bibir dan dagu. Dia mengusap janggutnya yang mulai menebal sambil berkaca di cermin mal. Ingin ditumbuhkan saja rencananya biar seperti atlet MMA. Tapi masalahnya, ada Adel.

“IIh kamu kok jadi jenggotan gitu, sih!” seru gadis itu. Bhama meringis.

“Kan keren sayang. Biar kayak Ahong.”

“Ahok nggak jenggotan ah.”

“Ahong.. bukan Ahok..”

“Siapa itu Ahong?” gumam Adel.

Mendengar pertanyaan soal identitas atlet favorit, Bhama refleks menarik ponsel dengan sigap lalu memutar video terakhir yang dia muat. Walaupun dia tahu Adel tidak benar-benar bertanya dan pura-pura membaca cerpen singkat. Masa bodoh.

“Nih!” balasnya sambil menunjuk pria yang badannya tersumpal otot di mana-mana.

“Ih, apa sih kayak ayam, adu jotos gitu. Nggak suka ah.” Adel cemberut sambil membuang muka.

“Bukannya kamu suka yang berotot-otot gini?”

“Ya suka sih.. tapi nggak yang botak gitu! Geli.” ujarnya sambil bergidik. Bhama Cuma bisa mengelus dada dalam hati.

Mereka menemukan kursi di pojok suatu restoran yang menyajikan masakan Korea. Lokasi favorit Adel. Konon tempat ini pernah disinggahi para anggota boyband Korea terkenal. Dia selalu memesan menu yang sama. Lagi-lagi, konon, mereka suka sekali dengan menu itu. Entah kabar burung darimana mereka menjadi pacar. Kekuatan internet dan obsesi perempuan memang luar biasa. Mendadak Bhama ngeri sendiri.

***

“Aah! Chapter baru udah keluar!” Adel bicara soal cerita fiksi (biasanya bersambung) yang menjadikan orang yang sudah ada sebagai tokoh dalam cerita. Dalam hal ini, pemeran utamanya tentu saja anggota-anggota suatu boyband Korea yang digemari. Para penggemar biasa memasang-masangkan para anggota sebagai couple atau pacar. Tiap couple biasanya punya nama masing-masing disebut juga sebagai ship (ya betul kapal. Mereka berlayar di lautan mimpi bersama oppa-oppa mereka).

“Brengsek.” umpat Bhama dalam hati. Dia jadi tahu terlalu banyak gara-gara lama bersama Adel.

“Duh, gila sayang ini rame banget. Angst banget huhu” Bhama diam saja. Dia menyebutkan pesanan mereka berdua kepada pramusaji seperti rutinitas.

Bhama menunggu gulungan emosi Adel menyurut pasca membaca fanfic. Kelihatannya dia masih histeris sendiri sambil menggeser-geser layar ponselnya. Bhama ikut-ikutan memandangi ponsel sambil sesekali mengabaikan pekikan Adel entah karena apa. Mungkin karena si Changmin tiba-tiba muntah darah lalu divonis terjangkit penyakit mematikan dengan masa harapan hidup yang sudah tidak lama lagi. Atau mungkin si Yunho tertabrak apapun yang bermotor ketika dia tengah berlari ke arah jalan raya setelah mendengar sesuatu yang bikin sakit hati. Mungkin pakai berlinang air mata. Atau barangkali Adel “menyaksikan” adegan ciuman pertama yang akhirnya bisa mereka dapatkan setelah kegelisahan status mereka di masyarakat sebagai dua laki-laki. Bhama merinding sendiri dengan pikirannya yang terakhir atau menjadi pacar. Kenapa dia jadi ikut-ikutan tahu begini?

“GOOOL!!!” serunya menutupi rasa malu dan kesal diam-diam. Adel masih sibuk dengan ponselnya dan mengobrol dengan temannya yang menjadi agen sbobet terpercaya.

Tiga tahun lalu dia bertemu dengan gadis ini di suatu konser band Rock luar negeri yang tengah mampir ke Ibukota. Mereka berdiri bersebelahan sambil desak-desakan.

Sang Pacar Yan Bernyanyi

Bhama langsung tertarik mendengar gadis itu fasih menyanyikan daftar lagu yang dibawakan sang musisi. Rambut sebahunya berayun-ayun mengikuti gerakan kepalanya yang asyik mengikuti tempo. Tidak sulit baginya untuk memulai percakapan, menjadi dekat, lalu berpacaran. Satu tahun pertama Bhama merasa menemukan semakin banyak kemiripan di antara mereka. Namun semuanya bergeser sejak gerombolan pria-pria bertabur riasan dengan dada terbuka sambil bergoyang menyerang layar laptopnya.

“Sayang, ini keren juga ya!”

Kalimat itu adalah yang pertama. Awalnya Bhama cuek saja. Namun lama-lama celetukan dan tingkah Adel menjadi semakin kronis. Adel jadi senang mewarnai rambut dengan warna-warna terang. Kausnya berganti blus dengan warna-warna pastel. Bahunya selalu tersampir tas dengan label perusahaan Korea atau apapun yang pernah tersampir di bahu oppa favoritnya, dia jabani entah dapat darimana. Kadang dia bergaya Hip Hop jika boy band baru dengan konsep itu sedang menarik perhatiannya. Luar biasa Korea. Ini sudah seperti penjajahan gaya baru.

Bukannya Bhama menyukai gadis itu sebatas ketertarikannya akan jenis musik yang sama. Dia masih mencintai gadis itu seperti dulu. Hanya saja rasanya pria-pria bergincu itu sudah mencuci otak gadisnya. Gawatnya, gadis itu sudah mulai melakukan hal yang sama.

“Bham, kamu cukur gih!”

Ini dia. Serangan antek Korea berikutnya. Bhama mulai pasang kuda-kuda.

“Cukur apaan?” balasnya pura-pura dungu.

“Kumis sama jenggotmu! Nggak bersih keliatannya!”

Bhama mengusap-usap rambut wajahnya.

“Kenapa? Aku pengin numbuhin nih, males nyukur.”

“Kan bagus kalau bersih. Padahal kulitmu udah putih, bagus. Kalau jenggotan jadi kayak kotor gitu, kontras banget di kulitmu.” Adel menyomot potongan kimchi.

“Ya cakep aja sih kumis jenggot kayak Cha Seungwon. Tapi kamu putih gitu nggak cocok!”

***

Bhama memborong potongan daging yang sudah matang. Siapa pula Cha Seungwon.

“Yaudah nanti itemin aja.” Balas Bhama alakadarnya. Adel memekik.

“Jangan! Udah bagus tahu kamu putih gitu. Malah pengin diitemin.”

Dia iyakan saja biar diam. Tapi ternyata dia salah.

“Rambutmu juga lurus, bagus kalau agak coklat gitu kayak Changmin. Aduuh kita nge-gym juga yuuk!”

“Memang apa sih urgensinya punya sumpelan otot dimana-mana terus gincuan gitu?” celetuknya kesal.

Dia tahu seharusnya topik begini tidak usah diladeni saja. Tapi hari itu dia cukup jengah mendengar Adel terus memuja-muja laki-laki lain yang bahkan mungkin saja tidak tahu kalau dia eksis di dunia ini atau pacar orang lain. Dia masih tidak habis pikir apa yang membuat gadis itu begitu tergila-gila sampai harus mendorongnya untuk merubah diri mengikuti gaya hidup mereka.

“Ya nggak.. kan sehat aja kalau olahraga. Kangin juga dulu gemuk, tapi kalau usaha dan kerja keras bisa juga jadi fit.

“Terus, gincunya? Ah, kamu sukanya sama yang mengumbar seksualitas aja.”

Di luar dugaan, kali ini Adel diam saja. Mungkin dia menyadari kalau dia bicara kelewatan. Mudah-mudahan sekalian juga tersadar kalu obsesinya terlalu berlebihan.

“Kamu masa sama idol aja cemburu sih?”

“Najis amat cemburu!” seru Bhama cepat.

Adel cekikikan melihat refleks lelaki di depannya lalu lanjut menyantap makan siang. Bhama mendengus. Matanya menangkap wajah seorang aktor dalam adegan sebuah film laga pada layar di balik punggung Adel. Kelihatannya dia sedang dikejar polisi atau agen khusus atau pacar siapalah. Pria paruh baya itu tidak gincuan seperti pria-pria lain yang membuat Adel menjerit kegirangan dari balik layar kaca. Bhama melihat lelaki dalam layar itu memutar tubuh lalu melayangkan high kick ke wajah si polisi lalu diakhiri dengan sorotan super dekat yang hanya memuat dahi dan sebagian kecil lehernya.

Apaan sih ini.

5 Bulan Penantian Yang Sia Sia

sia sia

Penantian yang sia sia – Rasa sayang dan cinta antara calon ibu dan bapakku terjalin suci dan harusnya tidak dinodai apapun. Awalan selalu indah dan menyenangkan untuk dilalui berdua, yaitu calon ayah dan ibukku. Cinta dan kasih sayanglah awalan mereka menjalin hubungan yang begitu indah  nan suci. Calon ibuku malu-malu memandang calon bapakku. Pertemuan pertama terasa fantastik dan mengagumkan. Pertemuan kedua, membuat mereka berdua paham kenapa mereka tidak dapat dipisahkan, seolah olah sudah benar benar berjodoh satu sama lain.

Setiap hari selalu ada agenda bertemu dimanapun itu. Mereka berdua bertemu tiap sehabis pulang kuliah setelah membaca cerpen singkat. Kebetulan sekali, kampus mereka berdekatan sehingga tidak butuh waktu dan biaya banyak. Tempat indekos calon ibuku pun berdekatan dengan calon ayahku, hanya selisih 5 rumah saja. Daerah Malang memang terkenal sebagai salah satu Kota Pelajar di daerah Jawa Timur. Hal ini dikarenakan banyaknya berdiri universitas universitas negeri maupun swasta. Mahasiswanya pun berasal dari berbagai daerah Jawa Timur.

Akses yang mudah dalam bertemu membuat intensitas pertemuan semakin sering. Dengan demikian, tambah besar dan menggebu cinta dan kasih sayang calon ayah dan ibuku. Ada ungkapan Jawa, trisno jalaran soko kulino. Yang berarti adalah cinta itu karena kebiasaan. Karena biasa bertemu, karena biasa bersama dan karena semua biasa dilakukan berdua. Indah, memang. Dunia bagai milik berdua saja, orang lain bagaikan kafilah yang akan segera berlalu.

Babak baru dalam kehidupan calon ayah dan ibuku dimulai saat mereka berdua membuat kesalahan yang berdosa. Sebenarnya berpacaran sudah dilarang oleh keyakinan calon ayah dan ibuku tetapi nafsu sudah berkata lain. Namun, calon ayah dan ibuku sebenarnya meyadari akibat dari kesalahan mereka. Mereka menerima kesalahan itu; dan kesalahan itu adalah aku.

***

Aku adalah calon jabang bayi yang akan lahir di dunia fana. Aku, dalam keadaan apapun? Tidak bisa disebut  sebagai kesalahan karena aku suci dan aku adalah anugerah terindah. Aku juga kerap kali menjadi jawaban dari doa dan penantian panjang pasangan suami istri selama beberapa bulan ataupun bahkan bertahun-tahun. Aku adalah cikal bakal manusia kecil yang akan ada di dunia kalau memang ada yang menghendaki.

Calon bapak dan ibuku mulai merawatku sejak ibuku menyadari bahwa aku ada di perutnya walaupun hanya berbentuk gumpalan darah. Calon ayah dan ibuku segera memastikan keberadaanku untuk mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Dan hasilnya, aku baik, aku sehat dan berkembang dengan baik di perut ibuku selama 4 minggu atau 1 bulan.

Karena sudah menyadari kesalahannnya dan menerimaku, ibuku mulai memberi perhatian ekstra. Ibuku memberiku asupan gizi yang cukup dan melimpah. Selalu memperhatikan setiap detail makanan yang ia konsumsi setiap hari setiap saat. Ibuku juga mulai menjaga kesehatannya, tidak mau terlalu capek meski harus setiap hari ke kampus menempuh ilmu.

Bapakku juga sangat perhatian. Ia juga selalu menjemput dan mengantar kemanapun ibuku mau pergi teru tama sewaktu pergi ke bidan untuk periksa kehamilan. Bu bidan juga selalu memberi ibuku vitamin dan penambah darah untuk stamina tubuh kami berdua. Bulan pertama ini aku lewati dengan lancar dan sehat walau ibuku sering mengalami morning sick, kata orang orang tua bawaan dari jabang bayi. Mual tapi tidak muntah selalu dirasakan ibuku setiap pergi ke kamar mandi. Tapi setelah agak siang, sakit itu akan hilang dengan sendirinya.

Proses Penantian Sia Sia Memberikan Jalan Yang Sulit

Bulan kedua kehamilan calon ibuku berjalan agak sulit karena ternyata aku mulai memberi efek tambahan pada calon ibuku. Selain mual, aku juga membuat calon ibuku pusing terkadang juga sampai pingsan. Tetapi calon ayahku juga orang yg sayang pada kami dan selalu siaga. Dia menjaga sepenuh hati dan tak terhingga waktu. Tidak pernah ibuku dibuatnya sedih atau berpikiran keras tentang suatu hal. Proses ngidampun juga dilalui calon ibuku. Ibuku suka semua makanan asin dan gurih. Nikmatnya menjadi aku karena semua terpenuhi.

Cerita lain mulai tergores lagi disaat orang tua dari calon bapakku mengetahui keberadaanku. Konflik mulai timbul dan menjadi tidak bersahabat. Calon ibuku lumayan terpengaruh dengan keadaan yang timbul tersebut. Namun, calon ibuku berusaha tegar dan sabar.

Semua berkat dukungan calon Bapakku. Selanjutnya adalah momen terindah karena Yang Memiliki Semesta mulai meniupkan nyawa kepadaku. Nyawa kepada segumpal darah yang tidak bermakna apa apa sebelum ditiupkan jiwa di dalamnya. Ayah dari calon bapakku tidak bersedia aku tumbuh menjadi malaikat kecil bagi calon bapak dan ibuku.

Ketidaksukaan Keluarga

Ironis, semua hanya dikarenakan ketidaksukaan bliau akan keluarga calon ibuku. Calon ibuku hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya yang sia sia. Calon bapakku pun juga bingung, gundah gulana. Antara ingin berbakti  kepada orang tuanya atau memenuhi kewajibannya sebagai seorang calon bapak serta suami bagi kami berdua. Bulan ketiga dari umurku dikandungan calon ibuku, aku bertahan walaupun juha ikut merasakan sakit dan sedih yang dirasakan calon ibuku.

Setiap calon ibuku sedih, maka aku langsung merespon dengan kontraksi ringan yang akibatnya membuat calon ibuku tidak nyaman. Alhasil, kuliah ibuku menjadi terbengkalai karena calon ibuku tidak kuat berangkat ke kampus.  Calon bapakku juga mulai jarang memperhatikan kami berdua. Ia lebih juga sering menghindari kami berdua. Jika biasanya calon bapakku libur kuliah maka ia akan menghabiskan waktu bersama kami berdua. Sekarang, ia lebih sering pulang ke rumah ayahnya jika libur kuliah tiba.

***

Bulan keempat juga sama seperti bulan ketiga, malahan bertambah parah masalah yang ada. Calon ibuku masuk rumah sakit karena pingsan. Bliau pingsan karena banyaknya pikiran dalam dirinya. Calon ibuku terus menerus berdoa dan berusaha untuk menyelesaikan masalah yang ada tanpa calon bapakku didekatnya. Calon bapakku hanya bisa berkomunikasi dengan calon ibuku lewat hape. Itupun dengan cara sembunyi sembunyi. Sebenarnya calon bapakku juga khawatir dengan keadaan kami berdua, terutama kondisi fisik calon ibuku jika tidak ingin sia sia terhadap kita berdua.

Sewaktu di rumah sakitpun, calon bapakku tidak bisa menjenguk kami. Ia hanya bisa telepon. Dokter mengatakan bahwa calon ibuku harus istirahat penuh karena posisi kandungannya lemah. Dokter juga menyarankan calon ibuku untuk tidak terlalu memikirkan hal hal berat. Kehamilan seseorang itu sangat ditentukan dari ketenangan pikir orang tersebut jika tidak akan sia sia sekali.

Ketidaksetujuan Keluarga

Di lain pihak, masalah pertidaksetujuan menjadi runyam. Calon bapakku bersikukuh  mempertahankan kami berdua. Sedangkan ayahnya menginginkan kami tidak ada. Pada suatu hari, si ayah calon bapakku memgunjungi ibuku dan mengatakan hal hal buruk kepadanya. Dan menolak kehadiranku. Ayahnya si calon bapakku melakukan hal yang tidak dilakukan seorang manusia. Ia menyuruh orang untuk membawa kami keluar rumah sakit dan membawa kami ke bidan ilegal. Bidan tersebut sudah dibayar oleh ayah calon bapakku untuk menghilangkanku dari dunia. Kejamnya calon kakekku kepadaku.

Aku sudah melalui masa indah dan perjuangan bersama calon bapak dan ibuku, dengan sadisnya ia menghilangkanku selama lamanya. Calon ibuku hanya bisa meronta, menangis memohon ampun tetapi si manusia kejam itu tetap melakukan tindakan keji tanpa melihat airmata calon ibuku. Aku hilang musnah dari muka bumi dan calon ibuku harus terkapar lagi dirumah sakit, karena pandarahan hebat hingga nyawanya pun terbang bersamaku. Calon bapakku hanya dapat tertegun tanpa mengeluarkan airmata memgetahui kejadian tersebut. Larut dalam keadaan kesedihan mendalam hingga berbulan bulan dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Yang selalu tidak sadarkan diri teriak akan sgp pools atau menang togel.

Sepercik Kenangan Hilangnya Idola Hati

idola

Hilangnya Idola Hati – Dingin sangat menyeruak pagi ini tetapi Dena tetap semangat bangun lebih pagi dari biasanya. Dikelas Dena, hari ini, ada ulangan harian matematika. Dena belajar dengan suasana tenang pagi itu. Tetiba, ” Dena…Dena…ayo segera bangun! Mau berangkat sekolah jam brapa kau nak.” teriak Bibi Ratna. Terkejut teriakan si bibi, Dena dengan terhuyung-huyung segara berdiri melihat jam dinding di kamarnya. “Ya Alloooooh!!!”….”Gubraaaaak!” Dena menabrak meja makan, berlalu sambil berteriak berpamitan dengan sang bibi. Dikayuhlah sepedanya dengan kencang agar segera sampai sekolah. Bibi Ratna hanya bisa menggeleng-geleng saja meskipun hati kecilnya bliau tersenyum.

Bibi Ratna adalah orang yang ekspresif dalam kemarahan dan, sebetulnya, sangat baik serta sayang kepada Dena. Setelah, ibu Dena meninggal bliau mengambil alih semua urusan dan kepentingan yang berkaitan dengan Dena. Dena adalah anak spesial baginya meskipun pada awalnya Bibi Ratna tidak tau bagaimana merawat bayi umur 10 bulan karena bliau memang belum pernah punya anak.

Dena kecil sangat cantik dan penurut, bahkan sampai dia menginjak masa SMA yang suka membaca cerpen singkat, bedanya sekarang Dena sudah punya kemauan sendiri serta gejolak darah muda. Bibi Ratna hanya mengawasi Dena dan mengarahkan ke hal hal positif, meski beliau sadar, terlambat sekolah hampir setiap hari bukan hal positif buat Dena.

(Saat tiba di gerbang sekolah)

Beruntunglah Dena, dia tiba disaat injury time penutupan gerbang sekolah. Pak Min melihat Dena sambil menggelengkan kepala,” kau lagi..kau lagi…” Kapan kau jadi anak rajin Denaaa?” Dena hanya tersenyum sambil berlarian dengan teman temannya menuju kelas XII IIS-1. Kelas paling pojok dan paling ramai jika ada jam kosong pelajaran. Kelas yg juga paling terkenal dengan kebandelan para siswanya. Walaupun mendapat predikat jelek, solidaritas positif antar siswa di kelas tersebut patut diacungi jempol.

***

Saat Unggul mendapat musibah kebanjiran dirumahnya daerah Kampung Melayu, semua siswa dikelas tersebut berbondong bondong mendatangi rumah Unggul untuk kerja bakti. Solidaritas mereka juga terlihat dalam beberapa kesempatan seperti lomba antar kelas maupun saat berbagi makanan di kantin.

Dodi lah yang menjadi ujung tombak jika mereka ada di kantin. Memang, Dodi adalah pemudi tajir yg ayahnya adalah seorang pemborong tapi sayang Dodi hanya mendapat kecukupan materi alias harta. Ayahnya selalu keluar kota, entah pemborong apa dia tidak peduli. Ibunya entah pergi kemana, Dodi pun jg tak hiraukan karena setiap dia bangun pagi si ibu sudah tidak ada. Setiap hari hanya pembantunya yang selalu memenuhi kebutuhannya. Pembantu bagaikan ibu bagi Dodi.

Nyaris senasib dengan cerita cerita sinetron di televisi. Ironis memang. Tapi Dodi sangat berbeda, dia tidak serta merta menggunakan uangnya untuk foya foya. Dia punya usaha kedai yang dia rintis bersama sepupunya. Dia juga sering sekali bersedekah dan ibadah solat lima waktunya, benar benar terjaga. Itu semua dikarenakan pengaruh positif sang pembantu, Bik Isah.

(di sekolah)

Pelajaran berjalan seperti biasa dan bagi Dena hari ini semua terasa berjalan perlahan. Itu dikarenakan ulangam harian matematikanya tidak berbuah hasil yang bagus alias nilai jelek. Dena merasa bahwa ini semua salah Bibi Ratna karena sudah berteriak kepadanya tadi pagi sehingga membuat semua hafalan dan materi yang dia pelajari hilang. “Huft…ini semua gara gara Bibi Ratna, aku remidi matematika.” Disaat Dena meratapi nasib remidiny, Topa datang menepuk pundaknya. “(Pleeek)

***

“Denok, nggak usah mikir….remidi itu bukan kiamat brath..g remidi g gaul Denoook, ” kata Topa sambil tertawa lepas. Ikut terbawa suasana gembira Topa akhirnya Dena.sedikit terhibur. Topa memang sobat dekat Dena. Cowok metroseksual yang selalu stylish. Dia satu satunya siswa yang berani memakai sepatu kets warna berbeda setiap hari ala ala selebgram di youtube. Cowok satu ini juga yang selalu nungguin Dena di gerbang sekolah untuk masuk halaman sekolah terlambat bersama sama. Benar and exactly correct pemirsah…..solidaritas tanpa batas dan itu keren menurut mereka berdua…hahahahaha.

Dari kekonyolan semua siswa kelas XII IIS 1, mereka punya kisah sama yaitu tentang idola dalam kehidupan mereka. Bahkan seperti Dena dan siswa lainnya yang juga yatim piatu pasti akan menjawab idola mereka adalah ibu atau ayah yang sudah meninggal. Tetapi yang tidak pernah terfikirkan oleh guru ataupun siswa dari kelas lain adalah adanya satu orang yang sangat diidolakan oleh semua siswa kelas XII IIS 1 yaitu Pak Min. Iyeess, that’s right! And absolutely correc!😅 Yeah,Pak Min orang teridola di kelas terbandel. Padahal bliau yang setiap pagi selalu diberi wejangan, nasihat, kultum, hingga teriakan “kau…kau….” Bagi mereka di kelas XII IIS 1, Pak Min kisah inspiratif yang nyata di hadapan mereka. Ini bermula dari pertemuan Dodi dengan bapak tua yang biasa datang ke kedainya.

Awalnya si bapak hanya memesan makanan layaknya pembeli tetapi lama kelamaan si bapak mulai bertanya tentang sekolah Dodi dan diakhir bertanyalah tentang seseorang dengan pawakan cungkring berkumis seperti alis dan hitam, tidak laen adalah Pak Min. Seperti  veteran perang dunia, si bapak bercerita tentang asal usul pak Min.

Sang Idola Preman

Ternyata Pak Min dulunya adalah seorang preman yang sangat kejam pada masanya. Suka bermain judi online spbo88 dan si bapak itu adalah anak buahnya. Menurut cerita si bapak, Pak Min pensiun dari kegarangannya sebagai seorang preman dikarenakan jatuh hati pada seorang gadis putri pemilik toko mas terbesar di daerah Tanah Abang dulu. Menikah dengan gadis berbeda kasta pada saat itu sangatlah sulit dan terhalang restu.

Namun kegigihan Pak Min membuahkan hasil nyata. Beliau akhirnya menikahi gadis pujaannya dengan syarat apapun yang terjadi Pak Min tidak boleh menjadi preman lagi. Mereka hidup bahagia di daerah pinggiran kota Bekasi dengan sederhana.

Pekerjaan Pak Min bukan lagi preman melainkan pedagang mainan anak yang sering berjualan di sekolah sekolah dasar di kota. Pagi bliau berangkat dan menjelang magrib baru tiba dirumah. Sayang, setelah sekian puluh tahun menikah Pak Min belum dikaruniai putra namun itu tak menjadikan Pak Min dan istri berkurang bersyukur dan berusahanya. Lalu datanglah kisah tragis dikarenakan akibat dari pernikahan tanpa restu. Ayah si gadis tetap tidak menginginkan Pak Min dan berusaha keras membawa pergi anaknya dari Pak Min. Maka terjadilah, pengambilan paksa istri Pak Min oleh ayahnya. Sebenarnya Pak Min bisa melawan dan mencari istrinya dengan rekam jejaknya sebagai preman di ibukota yang tentu sudah banyak “kenalan” tapi niat itu urung karena janji bliau kepada sang istri sewaktu menikah dulu. Jadilah Pak Min yang sekarang, sang idola, yang cuman bisa marah dan tidak pernah main tangan pada siswa atau siapapun.

(3 bulan kemudian)

Tidak terasa kelulusan didepan mata. Dena dan teman sekelasnya lulus dengan baik dan memuaskan. Mereka sudah melewati hari hari di SMA dengan penuh warna. Dan time goes by, harus move on untuk masa depan mereka meskipun harus pula kehilangan sosok sang idola kelas XII IIS 1,Pak Min

Lagu yang Memutar Kenangan

kenangan

Lagu Kenangan – Jangan, jangan lagi kau putar lagu itu. Telinga ini sudah tak tahan dengan semua lirik yang ada. Biarkan aku tenang sejenak. Sebentar saja, biar aku bisa melupakannya. Lalu terserah kamu mau melakukan apa untuk semua sajak dan syair atau cerpen singkat yang ada didalamnya. Sungguh, berikan aku waktu untuk sendiri saja. Tanpa ada semua melodi. Tanpa ada semua petikan. Sudah cukupi. Sebentar saja.

Pagi itu, di ruang yang cukup sempit untuk berdua. Maaf, hanya ruang sempit ini yang bisa aku sewa. Ungkapku, yang berhasil aku tahan. Menjadi hal yang berbeda memang, saat pandangan mata itu bertemu pada satu titik. Hingga aku tak bisa berkata apapun. Hanya diam, dan bicara pada hati. Semoga dia dengar. Oh ya, kami baru bertemu tadi pagi. Kalau sekarang sekitar pukul 12. Cukup singkat memang. Belum sempat berkenalan bahkan. Aku hanya cukup kenal dengan ketakutan itu. Lalu sudah ada dalam kamar sewaan yang cukup sempit. Entah apa yang ada dibenaknya, hanya matanya seperti sebuah bohlam yang ingin pecah. Penuh pertanyaan, penuh masalah, dan penuh misteri seperti bola online.

Tolong, biarkan aku untuk menatap mata itu sebentar saja. Jangan sampai lagu itu mengikutiku. Aku ingin mata indahmu menjadi sebuah obat penenang. Lalu biarkan aku ada di dalam ketenangan. Barang sejenak. Boleh kan? Tolong, walau tanpa ijin dan merepotkan, aku ingin berada disini sejenak. Tak lama. Hingga lagu itu berhenti.

“Mau aku teh atau kopi?”

Badannya tak berkutik. Pandangannya tetap sama. Mengisyaratkan aku tak boleh pergi barang selangkah. Masih menatap dengan tajam. Aku heran denga dia, tak lelah untuk menatap. Dan, tak sedetikpun berkedip.

***

“Sudah jelaskan apa yang kamu maksud? Tiga jam kamu tatap mataku dan tak bergerak. Hanya nafas darimu saja yang bisa aku lihat. Kamu mau apa?”

“Diam”

Itu kata pertama yang dia ucapkan. Gerakan bibir itu, seperti tidak asing. Bukan dari suara, namun dari sebuah gerakan. Ya, cara dia mengucapkan. Sama. Tapi ingatan ini tak menemukan siapa.

“Mau berapa lama lagi kamu seperti ini?”

“Jangan”

“Jangan apa? Aku tak akan melakukan apapun, aku yang seharusnya bilang seperti itu.”

Jangan. Jangan kau tanyakan berapa lama. Sudah aku bilang sebentar saja. Biarkan aku berada dalam ketenangan ini. Sebentar. Kamu paham kan? Lagu dikepalaku belum juga usai.

Cukup gila dia. Ditambah lagi waktu untuk berdiam diriku. Bahkan, aku tak paham dengan apa yang dia lakukan. Aku harus bagaimana dan melakukan apa. Berikan aku jawaban akan itu. Namun tetap saja sama. Diam, tatapan. Herannya satu hal. Aku tidak bosan dengan apa yang dia lakukan. Aneh, bukan.. Bukan aneh. Barangkali aku juga menikmati. Tapi kenapa?

“Apa ada yang mau kamu bicarakan?”

“Ada”

“Apa? Katakan saja. Itu lebih baik daripada kamu hanya diam.”

“Kecilkan”

“Kecilkan apanya? Kamu minta ruang ini dikecilkan kembali? Apa kamu sudah gila?”

“Mau?”

“Mau apanya? Lebih jelas dan lebih lugas. Aku mohon. Bahkan aku belum tau siapa namamu”

Kamu sudah mengenalku, sangat lama kamu mengenalku. Jangan berusaha untuk lupa. Bahkan kamu lebih mengenalku dari siapapun. Sadarlah, dan tolong kecilkan. Kecilkan lagu itu. Jangan sampai kenangan itu kembali muncul. Karena aku akan memutar semua kenangan yang ada kembali. Tolong, jika tak bisa diam maka kecilkan.

***

Apalagi yang dia minta. Aku cukup bingung dengan semua kata yang sudah dia ucapkan. Berikan aku sedikit jawaban yang bisa aku masukan akal. Cukup susah aku memahaminya. Tapi, ya tapi. Kata itu cukup membuat ganjalan dihati. Cukup gila aku dibuatnya.

“Hei, katakan dengan cepat. Kamu ingin apa?”

“Kecilkan” teriakan itu muncul dengan sangat cepat.

“Kecilkan apanya? Kalau kamu tidak bilang maka aku tak paham apa yang mau maksudkan. “

“Kamu paham” menunjuk keningku. Lalu matanya berkedip dan meneteskan air mata.

“Kenapa kamu malah menangis? Aku salah apa?” tanpa sadar, air mataku pun turut mengalir. Cukup deras. Bahkan hampir sama dengan air matanya.

Benarkan, apa yang aku katakan. Kamu sudah sudah sangat mengenalku. Jangan kau buang aku dari ingatanmu. Dalam sebuah kotak bernama otak yang ada dikepalamu, tersimpan dengan jelas siapa aku. Maka jangan kamu cari lagi siapa sebenarnya aku. Sudah, kecilkan saja suara lagu itu. Telingaku sudah tak kuat lagi. Dan kamu harusnya tau, hatiku pun hancur. Sudah, jangan kau putar dengan keras lagu itu. Bukankah kau juga cukup tersiksa.

“Jangan kau paksa aku untuk memukul wajahmu. Cepat katakan apa yang kamu inginkan!”

“Kecilkan”

“Brengsek, kecilkan apanya?”

Cukup marah aku kali ini. Dia anggap aku tak akan berani melakukan kekerasan. Aku hanya menghargainya. Maka aku masih cukup bersabar dalam beberapa jam ini. Tapi, yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan. Walau tetap ada yang sedikit menganjal. Ya, apa itu? Ada dua hal yang coba aku pikirkan dari tadi. Kemarahan dan tanda tanya yang sangat besar. Tapi jawaban, mana jawaban?

Lagu Kenangan Yang Tak Terlupakan

“Aku tanyakan sekali lagi. Siapa kamu? Mau apa kamu? dan Apa yang kamu inginkan dariku?”

“Kamu”

“Aku?”

“Ya.. kembalilah.. kecilkan”

Sudah habis sabar yang kumiliki. Kuambil kotak besar dan kuhantamkan tepat pada kepalanya.

PYAR!

Pecah. Cermin itu pecah. Hancur. Begitu juga speaker yang aku hantamkan. Dia hilang. Yang ada hanya aku untuk sekarang ini.

“Sudah ingat?” Sebuah banyak lewat dengan berucap

“Ingat?”

Semakin dalam aku berpikir, dan ternyata dia adalah aku. Yang hilang dengan semua lagu kenangan yang aku putar. Sungguh hina diriku saat ini. Aku sempat melupakan diriku sebenarnya. Ya.. kecilkan lagu itu. Jangan lagi diputar. Bukan kah semakin aku putar semakin aku berputar pada kenangan itu. Semakin aku putar, banyak akan wanita itu muncul. Lalu aku menjadi orang paling bodoh atas nama kerinduan. Ya benar, lupakan semua lirik yang ada dalam lagu kenangan itu. Jangan sampai aku tenggelam pada kesedihan akan melupakan. Semakin aku putar, maka suara wanita itu akan semakin jelas. Kemudian, aku akan menjelma jadi budak tanpa majikan.

Jangan, jangan kalian paksa aku untuk menceritakan kenanganku. Biar, biar saja lagu itu berhenti. Jangan lagi kalian biarkan aku untuk mengenang. Itu sakit. Itu perih, itu dalam. Jangan, jangan lagi kalian buat aku melupakan diriku. Sudah, jangan kalian putar lagu itu. Biarkan aku menjadi diriku, ya walau hanya sementara. Sebentar saja. Sejenak. Lalu biarkan aku menikmati semua kehidupan atas nama diriku. Jika semua sudah selesai, maka caci maki aku atas nama wanita itu, yang begitu saja pergi. Tanpa ada ucapan. Pergi, begitu saja.. dengan nafas terakhirnya. Aku benci, namun cintamu abadi.

Siluet Senja Patah Hati yang Berusaha Memahat Hati

patah hati

Siluet Senja Patah Hati – Mentari pagi telah menampakan sinarnya. langit terlihat biru cerah tak ada tanda-tanda mendung. Namun aku masih menelusup di balik selimut dengan tubuh gemetar dan hati yang sangat kacau. Tak secerah langit di pagi ini. Justru hatiku sangat mendung. Grimis air mata ini tak dapat mereda, sungguh sakit rasanya. Kamar penuh tissue berserakan bekas ingus yang keluar akibat menangis semalaman. Aku masih meratapi kesedihan semenjak tadi malam.

Hubungan 3 tahun yang awalnya penuh dengan kebahagian kini justru berubah menjadi kekecewaan hanya sekejab saja seperti cerpen singkat. Aku patah hati, perasaan ini berubah menjadi benci. Entah salah apa yang pernah kuperbuat, hingga dia pergi kelain hati. Mata sembab tak dapat ditutupi. Membuatku malu ingin pergi ke kampus hari ini.

“Kaaakk, udh siang bangun emangnya nggak kuliah hoyy?” adik ku membangunkanku sambil menarik selimut yang menutupi wajahku yang sembab.

“apaa sih. Hari ini tuh nggak kuliah. Jangan ganggu sana berangkat sekolah” jawabku sedikit kesal

“Loh, kakak habis nangis semalaman yaa, kok itu matanya sembab gitu. Haaa pasti habis patah hati yaaaa”. kata adiku sambil meledek.

“anak kecil tau apa sih. Udah sana pergi jangan ganggu”.

Baru teringat bila hari ini aku ada janji untuk bimbingan skripsi bersama dosen pembimbingku. Aku harus bergegas ke kampus dan datang tepat waktu. Meski akupun tak yakin aku bisa konsen dengan bimbingan ini atau tidak dengan keadaan hatiku yang sedang kacau.

“lana, Mata kamu kok sembab, kamu habis nangis?” mamah menatapku, aku tersenyum.

“kak lana lagi patah hati Ma” cerocos dilon adiku membuatku kelabakan. Kulihat ekspresi mamah dia terseyum teduh

Patah Hati Pertama

“Eh, lan. Ada reno tuh. Bukan nya selama ini dia suka ya sama lo”.

“Apa sih lo. Tapi gue kan ngga suka sama dia”.

“Lana sayang, apa sih yang lo ga suka dari dia. Dia tuh ganteng, pinter, ramah, baik. Dibandingin cowo lo yang playboy itu sory-sory aja nih yaa.. Jauhh banget”. Sindir rina padaku. Aku seketika memandang reno dari kejauhan. Benar juga apa yang dikatan rina.

Dari jauh reno sontak memandangku kembali. Aku langsung mempalingkan muka ku ke lain arah. Tak lama Reno pun menghampiri kami.

“Hay Rin, Lana. Gue boleh duduk disini ngga?”.

“iya boleh kok”. Jawabku dengan nada yang datar.

“emmm. Lana gue kayanya harus duluan deh. Soalnya ada janji sama dosen. Gue pergo dulu ya. Ren gue titip Lana ya, soalnya dia habis putus cinta. Lo hibur deh tuh yaa”. Cerocos rina kembali membuatku gugup dan mengelak pada reno. Rina memang sahabat terbaiku namun yang aku tak suka dia kadang kelewatan bercandanya.

“aduhh apaan sih si rina. Kan gue jadi malu sama reno”. Kataku dalam hati.

Suasana meja kantin kami menjadi hening. Sungguh aku tak tahu mau mulai percakapan dengan reno dari mana.

“jangan pernah sedih berlarut-larut. Jangan melewatkan kebahagiaanmu hanya karena laki-laki yang melukaimu. Mungkin dia punya definisi kebahagiaan nya sendiri. Lalu kenapa kamu tidak mencari kebahagiaan mu sendiri. Ayolah semangatt. Jangan cemberut terus ntr manis nya ilang loh. Kan masih ada aku”.

“kamu bisa aja”.

kata-kata bijak reno membuatku sadar bahwa kesedihanku selama ini memang tak ada gunanya. Ohh tuhan.. Rina benar, selama ini aku telah mengabaikan ketulusan hati reno padaku.

***

Di rumahpun justru aku memikirankan reno terus menerus. Bahkan aku telah lupa dengan patah hati yang kurasakan. Aku mengagumi kedewasaan reno yang membuatku sadar. Jangan jadi perempuan bodoh hanya karena laki laki yang sangat bodoh. Meninggalkan hanya demi perempuan lain. Yaaa.. Reno kali ini memang berhasil meneduhkan hati ku. Tapi aku belum siap jika harus membuka hati ini kepadanya. Aku masih takut, aku cemas, Aku trauma untuk jatuh cinta lagi.

“Mah, aku boleh tanya sesutu ngga?” tanya ku pada mamah yang sedang memotong sayuran di dapur.

“ya boleh dong. Kamu mau tanya apa sih lan”

“Kalo ada cowo yang tulus sayang sama kita. Tapi selama ini kita mengabaikan dia dan disaat waktu kita sedih justru kita sekarang malah mengingat cowo itu. Itu hal yang salah ngga sih mah”

“sayangg cinta itu ngga ada yang salah. Kamu diberikan ujian putus sama cowo kamu. Itu memang pertanda kalo kamu sama cowo kamu itu ngga pantas untuk bersama. Dan mamah fikir kamu harus membuka hatimu untuk laki-laki yang kamu ceritakan itu. Siapa namanya?

“Nama nya reno mah, dia suka sama aku sejak semster 3 . Tapi aku ngga pernah nglirik dia sekalipun. Tapi hari ini ma, dia membuat aku sadar kalo aku emang ga ada gunanya buat sedih berlarut-larut. Ademm.. Banget.. Ma rasanya dinasehatin sama dia. Yaaa emang sih selama ini aku gapernah ngombrol sama dia. Yaa karena aku tau di suka sama aku ma, dan waktu itu aku kan masih punya pacar”.

“Hmmm yasudah, lusa kamu ajak deh dia main kerumah. Mamah jadi penasaran seperti apa sih orangnya”.

“loh mah, kan malu lagian baru akrab masa udah ngajak-ngajak kerumah segala”.

“yaa gakpapa dong, kamu kan juga suka sama dia” ledek mamah.

“ih mama apaan sih. Yaudah deh Lana ke kamar dulu mau ngerjain skripsi”

***

Satu bulan kemudian, aku mulai mengenal Reno. Kami menjadi sering ke kantin bareng, ke perpustakaan bareng. Bahkan pulang bareng. Kami menjadi semakin akrab. Entah kenapa aku jadi merasa nyaman saat didekatnya. Sempat aku berfikir. Betapa bodohnya aku mengabaikan laki-laki sebaik reno. Meskipun aku tidak pernah membalas cintanya namun dia tetap saja baik padaku seperti mengabaikan prediksi hk yang ada pada website. Apa ini yang namanya cinta sejati?

“Tapi apa mungkin yaa dia masih suka denganku” seruku dalam hati.

“Lana, kamu kok nglamun?”.

“Eh nggapapa kok ren, kita pulang yuk”.

Ke esokan harinya, Terdengar dari arah depan rumah suara ramai-ramai, aku penasaran dan segera melihatnya.

“Mah ada apa sih di depan” tanyaku pada mama

“Oh paling tetangga depan lagi lamaran, Lan”.

“Tapi ma, suaranya kedengeran banget dari kamarku. Kayanya di depan rumah kita deh. Mendingan kita liat”.

Tak lama kami pun membuka pintu. Dan tak disangka sangka memang suara itu tepat berada di depan pintu rumah kami.

Aku kaget dan sangat syok karena itu adalah Reno beserta keluarganya.

“Reno” kataku dengan ekspresi kaget

Tak kusangka Reno benar-benar serius mencintaiku. Dia melamarku lansung di depan mamah dan juga keluarganya. Dia menyatakan perasaan nya padaku. Hari ini aku bagaikan bak seorang putri yang dicintai oleh seorang pangeran baik hati seperti malaikat. Yang awalnya datang menghibur, memotivasi, dan akhirnya menikahiku. Terimaksih tuhan telah menghilaangkan rasa sakitku selama ini. Dan telah mennggantikan nya dengan rasa cinta yang suci.