Mencari Nafkah Keluarga

Mencari Nafkah

“Bangun! Bangun! Kerja! Ayuk mulai mencari nafkah”

“Hoaam…. Ya ampun, Bu. Biarkan bapak tidur pulas sehari ini saja. Mau istirahat. Bapak kan baru pulang kerja tadi malam, hampir fajar malah.”

“Lho, pak. Itu kan sudah tugas Bapak. Kewajiban! Jadi sudah sewajarnya buat Bapak untuk bangun pagi. Kerja, biar bisa makan.”

“Hah…. Memang, tapi apa mesti terus-terusan?!”

“Sudah, Pak. Cepat bangun! Ibu tak mau berdebat dengan Bapak. Teman-temanmu sudah dari tadi menunggu.”

“Ya, ya. Hoaam….”

Masih dini bagi Ireng, sapaan si Bapak, untuk bangkit dari ranjangnya. Langit pun masih gelap dan rembulan masih setia di peraduannya. Bintang-bintang pun tetap setia menemani pria-pria kesepian. Lalu Ireng termenung sesaat. Tanpa sadar, Ireng tampak memejamkan mata. Sayup-sayup, kelopak matanya berusaha agar tetap terbuka. Ireng sadar bahwa ia tak bisa bermalas-malasan. Lebih tepatnya, ia tak tega terhadap istrinya. Ia menyayangi istrinya yang kini masih berdiri tegak di depan pintu, menunggu Ireng segera keluar dari kamarnya. Ireng agak jengkel, namun berusaha untuk bangun.

Sayup-sayup, Ireng memandangi istrinya dengan cinta dan maksud muslihat. Istri Ireng tahu apa yang sedang suaminya pikirkan. “Pak, buruan!” Istri Ireng mendengus. Seruan istrinya ini membangunkan Ireng dari niat iseng dan kantuknya.

Sebentar lagi fajar terbit. Istri Ireng akhirnya keluar. Sementara itu Ireng masih agak malas untuk berjalan ke luar. Tiba-tiba terdengar suara istri Ireng memanggil dari luar kamar. Sebuah tanda bagi Ireng untuk bangun dan berangkat kerja. Kalau tidak, bisa bahaya.

Rutinitas Sehari-hari Selama Mencari Nafkah

Ireng teringat kejadian dulu. Istrinya mengurung diri di sudut kamar. Bukan marah-marah layaknya para istri melainkan merajuk karena malu suaminya tak mau kerja. Memang agak aneh. Ireng pun harus puluhan menit merayunya agar sang Istri berhenti merajuk. Tapi kadang sikap itulah yang disukai Ireng. Kejadian macam ini bisa jadi kesempatan besar buatnya. Ini adalah sebuah celah bagi Ireng untuk mengenang masa muda bersama kekasih tersayangnya itu. Kesempatan luar biasa yang jarang terjadi. Merayu istrinya sampai berhari-hari pun Ireng suka. Tapi tidak buat sekarang. Ireng sadar betul dengan tanggung jawab yang sedang diemban kini. Menafkahi keluarga dan bela bangsa.

“Hoaam…” Ireng menguap lagi. Maklum saja. Ia baru tidur seperempat jam. Matanya masih sipit. Merah menyala-nyala. Rambutnya berantakan. Badan pun terasa pegal. Kalau tetangga melihatnya, spontan saja mereka bakal jatuh pingsan. Kenapa? Efek dari melihat penampakan mengerikan dalam hidup mereka.

Ireng pun masih agak malas turun dari pohon, tempat tinggalnya itu. Tentu orang lain pun malas bangun pagi-pagi, minimal mereka akan bangun kalau matahari sudah condong setinggi ujung tombak. Tapi bayangkan jika orang-orang benar bangun di waktu itu. Semua aktivitas bisa jadi kacau.

Ireng berkulit hitam manis. Bagi sebagian orang, Ireng tentu tampak eksotik. Karena itulah istri Ireng mau hidup bersamanya dalam satu rumah. Tapi, Ireng adalah seekor semut. Jadi, ras lain tidak bakal cocok untuknya. Ireng dan kawannya adalah semut hitam penunggu pohon mangga depan rumah manusia, pekarangan mereka. Ribuan semut tinggal di dalamnya. Dari yang kecil sampai yang besar, dan dari yang masih kuat sampai yang sudah renta. Semuanya berkumpul di satu tempat yang berisi ribuan pasukan dan satu ratu. Ya inilah bangsanya, yakni bangsa semut hitam.

Pagi Buta Bagi Para Mencari Nafkah

“Hmm…sepagi buta ini memang enaknya buat tidur, bukan kerja!” pikir Ireng. Tapi apa daya, ia memang harus melaksanakan tugasnya, kerja, atau memang itu sudah bukan kewajiban lagi melainkan takdir. Satu kodrat mutlak yang sudah diberikan oleh Tuhan yang menciptakannya. Itu juga buat memenuhi kebutuhan pribadi dan koloni. Dan sang Ratu, tentu saja itu sebuah prioritas.

“Bu, di mana sarapannya?”

“Di atas meja.”

“Lho, Bu. Kok cuma ada tiga butir gula? Kecil lagi.”

“Lha, emang adanya itu. Syukurin saja, Pak!”

“Bu, Ibu. Setidaknya ada beberapa roti, dong. Bukankah kemarin Bapak membawa pulang roti?”

“Rotinya Ibu simpan. Buat cadangan. Sudah! Makan saja yang ada!”

“Owalah, Bu. Bagaimana bisa semangat kerja kalau makanannya begini. Sungut kecil ini pun tak bakal bisa meraba makanan di perjalanan. Kedua capit ini pun tak bakal bisa memotong dan menghancurkan makanan yang sekeras batu.”

“Sudah, tak usah banyak komplain!”

Perjalanan Mencari Nafkah

Kemudian Ireng menghabiskan sarapannya dan meninggalkan sarang. Jika mau tahu, sarang Ireng dan istrinya ada di celah dahan pohon yang keropos. Tepatnya lagi di bagian pangkal cabang dahan utama yang besar. Rumahnya tidak akan tampak dari kejauhan karena tertutup dedaunan. Sehingga akan aman dari para predator. Ireng merasa beruntung karena mendapatkan bagian di atas tanah. Meskipun perjuangannya bisa dua kali lipat bahkan berkali lipat dari para semut di bagian dalam tanah saat mencari makan, tapi syukurnya ia tidak akan khawatir di kala hujan deras turun. Pasti bakal kebanjiran jika tinggal di bawah. Terapung ataupun tenggelam sama saja, tak ada harapan. Seperti halnya di kehidupan manusia, maju kena mundur pun kena.

Perjalanan dimulai. Ireng dan teman-temannya berangkat mencari makan. Tujuan mereka kali ini rumah manusia. Lumayan, jaraknya sekitar sepuluh meter dari sarang. Itu pun menurut pengukuran manusia. Kalau menurut bangsa semut hitam sendiri bisa lebih dari seratus meter. Sungguh atletis kaki kecil mereka. Setiap hari berjalan berjauh-jauh meter. Juara dunia lari marathon antar manusia pun bakal dimenangkan para semut. Kan setiap hari selalu berjalan dan berlari. Dan untungnya mereka tak lari dari kenyataan. Tak seperti manusia.

“Ndul! Kira-kira hari ini bakal berburu apa?”

“Seperti biasa, Reng. Gula, teh, susu, dan tak lupa kopi.”

“Lah, tak bosan dengan yang itu-itu saja?”

“Takkan pernah! Aku sang penikmat sejati semua menu itu dan takkan berpaling dari semuanya!”

“Dasar!”

“He, he, he.”

“Sekali-kali yang beda dong!”

“Air kobokan, mau?”

“Halah! Ngawur! Terserah kamu saja deh. Yang penting, semua layak buat dimakan.”

“Siap, komandan!”

Semuanya berbaris rapi menuruni pohon. Mereka melewati jalanan yang sudah ditandai. Kalau membuat jalur yang baru, mereka pun akan menandainya kemudian. Ireng yang mengomandoi, dan Gundul sebagai wakilnya di baris kedua. Selanjutnya diisi bendahara di baris ketiga kemudian anggota.

Banting Tulang Mencari Nafkah

“Kerja…kerja, kerja, kerja!” Ireng mengomandoi. “Kerja mencari nafkah !” sahut pasukan dengan serentak. Ireng dan pasukannya menyemangati diri dengan motto hidup mereka layaknya hidup dalam cerpen singkat. Kerja! Dengan motto inilah mereka hidup, bertahan dan berjuang. Apapun kondisi yang dialami, baik atau buruk akan diterjang oleh mereka.

Ireng dan pasukannya memasuki kediaman manusia. Mereka melewati celah pintu bawah, lalu maju lurus mengikuti dinding yang sejajar. Mereka lalui ruang tamu, ruang tengah, lalu berhenti di ruang makan. Ireng memberi tanda. Ia membagi pasukannya jadi dua kelompok kecil. Satu di atas meja makan, dan yang lainnya di rak dapur. “Kerja…kerja!” teriak Ireng. “Kerja! Jangan terlalu banyak main akun bola online” sahut pasukan serentak sambil mengangkat sungut tanda hormat.

Prajurit muda mendapatkan bagian untuk pergi ke atas rak. Sebagian yang lain ke atas meja makan. Mereka berpisah ke tempat yang berbeda dengan tertib. Semuanya berbaris secara rapi. Begitu pun dengan pasukan muda. Saat mereka berpisah, Ireng berkata “Ndul, semoga yang menuju rak tak apa-apa.”

“Lha, emang kenapa?” jawab si Gundul.

“Apa kamu tak ingat? Para manusia itu sudah buat jebakan buat kita. Aku cuma khawatir, yang di sana kan masih muda. Jadi jangan sampai generasi kita gugur dengan mudah.”

“Tenang, Reng. Karena muda-lah kita bisa sekuat sampai saat ini. Kita belajar dari usia muda. Menghadapi segala rintangan dan duri kehidupan. Dan perlu Kamu tahu kalau yang lebih berbahaya ada di atas meja. Di sana lebih banyak perangkap. Apa Kamu lupa? Kita kadang kesulitan melewatinya. Bahkan sering sekali nyawa Kita hampir melayang.”

“Ya, betul itu. Berdoa saja semoga Kita bisa selamat dalam mencari nafkah.”

Dan mereka pun mencari nafkah makanan di setiap jengkal tempat yang dituju. Dan berdoa agar mereka bisa selamat dan kembali pulang ke rumah.